
Devano membawa Ruby kembali ke villa mereka dahulu pada saat mereka pertama kali datang ke kota Dublin untuk berbulan madu usai mereka resmi menikah di Ibukota Beijing, China.
Kini mereka terkenang kembali masa -masa yang penuh cinta dan kebencian menjadi satu pada diri mereka pada saat itu namun sekarang ini mereka datang ke villa dengan perasaan cinta yang tak pernah habis di makan waktu.
"Ruby, lihatlah aku sudah mengubah seluruh isi ruangan dalam villa agar kita bisa melewati hari ini di villa dengan perasaan bahagia. " kata Devano memperlihatkan dekorasi villa yang telah berubah menjadi lebih cerah dan berwarna.
"Wahh.. Di sudut kamar ada meja vas bunga lily kesukaan ku sekali.. " kata Ruby menghampiri bunga lily di dalam vas di atas meja sebelah tempat tidur mereka.
"Iya, karena aku ingin kau merasakan aura positif dari ruangan ini dengan perasaan bahagia akan cinta yang ku berikan kepadamu.. " kata Devano yang memeluk Ruby dari belakang.
"Iya, terimakasih banyak atas cinta yang kamu berikan kepadaku. " kata Ruby yang tersenyum bahagia dengan mendekatkan wajahnya ke bibir Devano sampai suaminya membalikkan posisi nya untuk menghadapi suaminya yang langsung merengkuhnya dan menciumnya.
"Aku mencintaimu, Ruby. " Kata Devano yang kini mencurahkan kasih sayangnya dengan ciuman yang meleburkan hati Ruby.
"Aku juga mencintaimu, Dev. " Balas Ruby yang merangkul lehernya dengan erat lalu membalas ciuman Devano dengan penuh perasaan bahagia di cintai oleh suaminya.
Sementara itu, Soledad membaringkan bayinya di ranjang di kamar lainnya. Wanita itu mencari nama yang cocok untuk bayinya yang sedang tertidur pulas itu.
"Edward Xi Chen Chen.. " Kata Soledad yang kini memutuskan untuk memberikan nama Edward Xi Chen Chen untuk bayinya dengan Eduardo Xi.
Soledad menyusui bayinya dengan kasih sayang seorang ibu yang sangat mencintai anaknya dan ia berkhayal akan kehadiran Eduardo Xi di sisi nya saat ini.
"Soledad.. Lihatlah betapa miripnya putra kita denganmu.. " kata Eduardo Xi dalam khayalan Soledad.
"Iya.. Eduardo.. " jawab Soledad meneteskan air mata untuk menyatakan perasaan rindunya pada pria yang menjadi ayah kandung bayinya itu.
*****
Jakarta, Indonesia.
Ayumi mendatangi Bayu yang sedang sibuk di depan laptop di ruang kerja pribadi suaminya di rumah mereka di kawasan Jakarta selatan dan membawakan senampan camilan kesukaan Bayu dengan senyuman manisnya.
"Bayu, ini aku bawakan camilan kue putu dan kue klepon untukmu.. " Kata Ayumi dengan senyum di bibirnya.
"Jangan ganggu aku kerja.... Apakah kamu bisa mengerti betapa sibuknya aku pada malam hari ini? " Bayu menolak camilan yang dibawakan oleh Ayumi untuknya.
"Ahh, baiklah.. Kau jangan marah-marah begitu dong, aku kan jadi takut sama kamu.. " kata Ayumi segera meninggalkan suaminya di ruang kerja suaminya.
Bayu mengangkat wajahnya dari depan laptop lalu melemparkan nampan itu ke arah pintu ruang kerjanya sampai Ayumi terperanjat kaget melihat suaminya begitu kasar kepadanya.
"Apa yang merasuki dirinya sampai dia tak mau menerima apapun yang sudah aku buatkan untuknya dengan susah payah? " pikir Ayumi.
Ayumi memegangi alat testpack di genggaman tangannya dengan perasaan hatinya sedih karena untuk sekian kalinya, ia gagal untuk jadi seorang ibu karena alat itu testpack itu hasilnya negatif.
Bayu sibuk memikirkan Isabel dokter teman baik Devano Wandani yang tinggal di Las Vegas, USA. karena Bayu mendapatkan informasi mengenai wanita itu yang sekarang ini sedang hamil anak nya.
"Apa benar bayi di kandunganmu itu adalah anak ku? Ataukah kau hanya ingin memeras ku? " balas emailnya kepada Isabel.
"Sialan kamu Bayu! Aku di perkosa olehmu apa kau pikir aku hamil anak laki-laki lain..?! " email Isabel terkesan marah dan kecewa dengan Bayu.
"Ya, habisnya ku lihat kau selalu ada saja jumpa laki-laki di luar rumahmu usai kamu kerja di rumah sakit.. " emailnya untuk Isabel.
"Bayu.. Aku tak pernah selingkuh dengan laki-laki lain sejak kau menggauli ku sesuka hatimu di ruangan tunggu di rumah duka beberapa waktu lalu yang menyebabkan Aku hamil anakmu sekarang ini..! Atau, kamu mau lari dari tanggung jawab mu? " email Isabel.
"Tidak, Aku bukan laki-laki pengecut yang lari dari tanggungjawab ku apalagi anak itu adalah anakku sendiri.. Ahh, Aku akan mengunjungimu di rumahmu di Amerika Serikat pada liburan musim dingin esok lusa. " emailnya kepada Isabel.
"Baiklah, Bayu terimakasih..! Aku akan menanti kedatangan mu di sini.. " email Isabel.
Dan, kini Bayu memikirkan cara untuk menikahi Isabel tapi juga dia tak mau menceraikan Ayumi untuk bisnisnya tetap lancar-lancar saja meski dia tak pernah mencintai Ayumi istri sahnya sendiri. Hal ini dikarenakan ia masih mencintai seseorang yang selalu ada dihatinya tetapi tak bisa dimilikinya.
"Vivian.. Aku merindukan mu.. " batin Bayu.
Ayumi menangis sendirian di kamarnya karena Bayu bersikap dingin dan kasar terhadapnya. Ia adalah istri yang setia dan memiliki kesabaran terhadap suaminya yang ia tahu tak pernah ada rasa cinta terhadapnya sejak awal mereka berdua menikah.
"Aku sudah menjadi istrimu selama hampir satu tahun ini tetapi kau tidak pernah menyentuhku sebagai seorang suami terhadap istrinya sendiri dan kau masih saja merindukan mantan kekasih atau tunangan mu itu.. " batin Ayumi.
Suara dering ponselnya berbunyi yang membuat Ayumi menghentikan tangisannya untuk terima panggilan telepon genggamnya yang tergeletak di ranjang.
"📱 Ya, hallo.. Ah, kenapa kau menelepon ku lagi tanpa mendengarkan larangan ku kepada mu? " Ayumi sangat marah kepada orang yang telah meneleponnya itu.
Lalu Ayumi melemparkan ponselnya ke lantai dengan perasaan marah terhadap orang itu dan memutuskan untuk pergi dari rumahnya tanpa izin dari suaminya yang masih sibuk di ruang kerja dalam rumah mereka.
Bayu melihat mobil istrinya meluncur keluar dari parkiran rumah mereka dari kaca jendela ruang kerja. Ia tak memperdulikan istrinya dengan Ia kembali sibuk dengan urusannya sendiri.
******
Lima, Peru.
Vivian Wandani yang dikurung di rumah kecil di daerah terpencil di kota ini menjerit kesakitan pada organ kelaminnya yang mengalami sakit luar biasa akibat pelecehan seksual dari pria yang menjadi suaminya sendiri.
"Ahhhhhhh! Sakit... "rintih Vivian Wandani yang mengetahui janin di rahimnya telah meninggal dunia akibat siksaan yang dilakukan Alessandro Felipe terhadapnya.
Vivian Wandani mengetuk pintu dari ruangan di rumah kecil itu untuk meminta pertolongan dari orang-orang di luar rumah kecil itu namun ia tak pernah berhasil mendapatkan pertolongan dari orang-orang yang tinggal di sekitar daerah itu.
" A.. Apa yang harus aku lakukan? " tanya Vivian Wandani menangis seorang diri dengan tubuh memar , wajahnya pucat dengan bibirnya telah bengkak dan pakaiannya compang-camping tak karuan.
Bersambung!!