
Kota Dublin, Irlandia Utara.
Pada awal musim panas yang sangat panjang di kota Dublin,Rumah keluarga Eduardo Xi yang seharusnya nyaman bagi seorang Soledad justru membuat hati wanita itu resah gelisah untuk menghadapi suaminya Eduardo Xi yang belum lama ini pulang dari luar kota.
"Soledad, Aku bawakan kamu, Edi, Mama banyak oleh-oleh dari luar kota, bukalah dan lihatlah apakah kamu menyukai oleh-oleh ini? " Eduardo Xi meletakkan kotak hadiah di kedua tangan Soledad.
Soledad membuka kotak hadiah di kedua tangan nya dan melihat sebuah gaun yang indah dengan tatapan mata yang sendu namun ia memaksa dirinya untuk tersenyum bahagia di depan suami nya.
"Terimakasih, Sayang. Hadiahmu ini sangat ku suka. " kata Soledad yang merangkul suaminya.
"Iya, sayang sama-sama, aku sangat senang kau menyukai oleh-oleh dariku. " kata Eduardo Xi yang membalas pelukannya.
Soledad cepat-cepat melepaskan rangkulannya dari Eduardo Xi karena wanita itu melihat Alfa datang ke ruang keluarganya bersama dengan Mamanya.
"Eduardo Xi, Saya ingin bicara denganmu di sini di ruang keluarga kita. " kata Nyonya besar Chanchita Fernandez nada yang mengejutkan Eduardo Xi yang cepat duduk di sofa dengan sikap sopan.
"Iya, Mama. Ada apa? Lalu siapa dia? " tanya Eduardo Xi menatap bingung kepada Alfa yang duduk di sofa dekat Mama mertuanya.
"Eduardo Xi, mulai hari ini kamu jangan pernah lagi memanggilku dengan sebutan Mama karena aku mau kamu dan Soledad bercerai untuk masa depan putriku juga nantinya." jawab Nyonya besar Chanchita Fernandez nada ketus kepada Eduardo Xi.
"Kenapa? Aku berbuat salah apakah? " tanya Eduardo Xi kaget.
"Karena kamu sekarang seorang laki-laki cacat dan itu adalah kesalahan yang fatal bagi hidup putriku yang masih terlalu muda untuk jalani hidup denganmu." jawab Nyonya Chanchita Fernandez nada ketus kepada Eduardo Xi sambil melemparkan sebuah surat pengadilan tinggi pernikahan kepada Eduardo Xi.
"Heii, Aku tak bisa kamu memperlakukan Aku seperti sampah? Aku masih suaminya yang sah dan Aku tak pernah menceraikannya..!" bentak Eduardo Xi yang langsung tahu maksud dari isi hati Mama mertuanya itu.
"Aku bisa memperlakukanmu sebagai sampah, karena kamu laki-laki tak berguna yang tak layak untuk menjadi suami dari putriku! Pokoknya Aku mau kamu menceraikan putriku supaya dia bisa segera menikah dengan Alfa pria pilihan yang tepat untuknya dariku. " kata Nyonya besar Chanchita Fernandez yang menunjuk pada Alfa dengan sikap bangga.
Eduardo Xi mengalihkan pandangannya kepada Soledad yang menangis di bawah sofa yang di duduki olehnya dan berkata."Ed, ceraikan Aku yang tak layak untuk menjadi istrimu karena aku sudah kotor.. " Airmata kesedihan mengalir dari sepasang mata Soledad.
"Apa katamu, Soledad! Kamu pasti dipaksa oleh Mamamu??? " Eduardo Xi menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Tidak, aku melakukannya sendiri atas dasar suka sama suka ketika kamu pergi ke luar kota, jadi ku mohon untuk kamu menceraikan Aku, dan kamu bisa membawa pulang Edward putra kita ke negeri mu. " jawab Soledad yang tak mau pria yang dicintainya itu dihina oleh Mamanya.
"Soledad, kamu benar-benar mengecewakan aku sekali. Aku akan menceraikanmu sesuai dengan keinginan mu. " kata Eduardo Xi nada tegas dan menandatangani surat cerai di meja keluarganya lalu diberikannya kepada Soledad.
"Aku pergi dari hidupmu, sekarang juga.. " kata Eduardo Xi yang mengajak putra mereka yang bernama Edward Xi meninggalkan kota Dublin untuk selamanya.
Eduardo Xi membawa Edward pulang ke China. Ia disana masih mempunyai rumah sederhana dan pekerjaan yang cocok dengannya maka ia juga menyekolahkan putranya di sekolah dasar di kota Guangzhou.
"Edward, ini adalah rumah kita yang baru, kamu harus menjaganya bersama dengan Papamu. " kata Eduardo Xi menatap lembut putranya yang kini sudah berusia enam tahun.
"Ya, Papa. " jawab Edward Xi patuh.
Eduardo Xi berperan sebagai seorang ayah dan ibu sekaligus untuk putranya sampai batas waktu masa hidupnya. Eduardo Xi meninggal dunia pada usia tiga puluh lima tahun pada awal musim panas di kota Guangzhou.Dan, putranya Edward Xi di ambil alih hak asuhnya oleh pihak pemerintah setempat yang menaruhnya di panti asuhan.
"Anak siapa ini ganteng banget? " tanya seorang pria muda asal Indonesia yang tertarik dengan Edward Xi saat mengunjungi panti asuhan itu.
"Dia anak seorang pria muda yang belum lama ini meninggal dunia karena penyakit diabetes akut dan ibunya tidak menginginkannya maka ia diasuh oleh negara. " jawab pihak panti asuhan yang merasa prihatin kepada Edward Xi.
"Suamiku, bagaimana kalau kita mengasuhnya saja untuk menjadi teman belajar dan bermain anak kita di rumah kita di Indonesia? " tanya istri dari pria muda asal Indonesia yang langsung jatuh sayang kepada Edward Xi yang ganteng dan menggemaskan itu.
"Hmm, boleh juga, Sayang. Aku pun menyukai anak itu. " kata pria muda asal Indonesia yang lalu menandatangani surat adopsi anak kecil itu kepada pihak panti asuhan setempat dengan nama Edward Xi diganti dengan nama Johnny Irwanto.
*****
Kota Los Angeles, USA.
Devano Wandani membuka sepasang matanya dengan terkejut menemukan dirinya berada di atas ranjang pasien di rumah sakit dan melihat Ruby istrinya menunggunya di sofa pendek di dekat jendela kamar pasien.
"Astaga, Aku membuat Ruby susah dengan dia tidur di malam hari seperti itu." kata Devano Wandani yang perlahan-lahan turun dari ranjang pasien lalu menyelimuti tubuh istrinya dengan selimut tebal miliknya sendiri.
Devano Wandani melihat adanya berkas hasil pemeriksaaan kesehatannya di meja kecil dekat ranjang pasien. Ia lantas mengambil berkas itu dan membacanya dengan terkejut sekali.
"Aku sakit kanker lambung akut? Tak mungkin!" bantah Devano Wandani dalam hatinya.
Ia pun mengambil hpnya untuk memanggil tim dokter yang menanganinya yang saat itu sedang rapat di ruangan khusus para dokter di rumah sakit kota tersebut. Dan, panggilan telepon dari Devano Wandani mengejutkan mereka semua yang segera berlarian keluar dari ruangan rapat untuk menemui Devano Wandani di ruang pasien kelas atas.
"Apa maksud kalian semua yang memvonis Aku dengan penyakit tak masuk akal sehat seperti ini? " tanya Devano Wandani nada ketus kepada tim dokter di luar ruangan kamar pasien agar ia tidak membangunkan istrinya yang sedang tidur pulas di sofa panjang dalam kamar pasien.
"Tuan Devano Wandani, kami sama sekali tidak salah mendiagnosa penyakit Anda karena kami sudah melakukan berbagai tes kesehatan yang terbaik untuk mengetahui penyakit Anda. " jawab tim dokter dengan nada serius kepada Devano Wandani.
Bersambung!!