I'll Be There For Love

I'll Be There For Love
Bab 55.



"Harta apa yang kamu tanam di dalam tanah di bawah pohon favoritku? " suara orang bertanya kepada anak itu membuat anak itu berjengit dan menengadahkan kepalanya untuk mencari orang yang bertanya kepadanya.


Graciella Putri Wijayakusuma memandang tajam ke arah pemuda cilik yang duduk di atas dahan pohon dengan mengernyitkan keningnya yang membuatnya enggan untuk menjawab pemuda cilik itu.


"Ehh, apa kamu itu bisu dan tuli sehingga kamu tak mendengar pertanyaanku?" tanya pemuda cilik ini adalah Zicco Wandani putra sulung dari Devano Wandani yang bersekolah di asrama di kota Barcelona.


"... "


Grace tak mau menjawab pertanyaan dari Zicco Wandani dengan bergegas turun dari bukit untuk kembali ke gedung asramanya. Hal ini semakin menambah rasa heran dibenak Zicco Wandani terhadap Grace.


"Anak aneh banget tuh. " pikir Zicco Wandani.


Grace yang ingin masuk ke gedung asramanya itu di cegah oleh salah seorang gurunya yang kini mengajaknya pergi ke ruang kepala sekolah untuk berjumpa dengan seorang pria dewasa di ruang itu.


"Grace, kamu sudah boleh pulang ke rumahmu di Indonesia untuk bersekolah dan tinggal bersama dengan Kakakmu, Irene. " kata Devano Wandani ramah kepada Grace.


"Eh, apakah aku bisa pulang ke Indonesia? " tanya Grace dengan penuh harap kepada Devano Wandani yang sudah dikenalnya sebagai paman baiknya itu.


"Iya, kamu bisa pulang ke Indonesia dimulai hari ini juga. " jawab Devano Wandani membelai lembut puncak rambut panjang milik Grace.


"Aku pulang ke Indonesia bersama siapa? " tanya Grace yang mengikuti Devano Wandani ke parkiran mobil dari asramanya.


"Denganku." jawab Devano Wandani yang sudah membukakan pintu mobilnya untuk Grace masuk ke dalam mobilnya.


"Benarkah, Uncle Devano? " tanya Grace dengan wajahnya berseri-seri.


"Iya, Grace. " jawab Devano Wandani ramah.


*****


Los Angeles, USA.


Ruby berkali-kali melihat halaman depan rumah untuk memastikan bahwa suaminya akan segera pulang dari urusan membantu keluarga jauh dari suaminya yang tinggal di luar negeri.


"Ma, kapan sih Papa pulang dari luar negeri?" tanya Brenda putrinya sambil mengerjakan PR sekolah di kursi depan meja belajar di ruangan belajar pribadi putrinya itu.


"Sebentar lagi juga Papa kalian akan pulang dari urusannya di luar negeri, Sayang. " jawab Ruby membalikkan badannya untuk menghadapi putri -putri kembarnya dan mengambil sepasang bayi laki-laki kembarnya dari troli bayi di sudut kanan jendela ruangan belajar.


"Ma, kalau Kak Zicco bagaimana kabarnya di sekolahnya di Barcelona? Apakah dia dapat mengikuti semua metode pelajaran-pelajaran yang diterapkan di sekolahnya itu? " tanya Lisa di atas lantai sambil bermain boneka Barbie.


"Kabar Kakak kalian baik kok dan dia seorang anak yang cerdas dan cepat faham dengan tiap pelajaran yang diberikan oleh guru-gurunya di sekolahnya. " jawab Ruby tersenyum sayang.


"Ma, kami berdua juga mau dong bersekolah di sekolah yang sama dengan sekolahnya Kakak Zicco kami. " pinta Brenda.


Tak berselang lama pintu ruangan belajar telah terbuka untuk Devano Wandani yang segera melebarkan kedua lengannya untuk memeluk anak-anaknya lebih dahulu yang sudah berlarian kearahnya.


"Oh, anak-anak Papa yang cantik-cantik. Gimana nih kabar kalian di rumah selama beberapa hari Papa sibuk di luar negeri? " Devano Wandani menggendong kedua orang putrinya.


"Baik kok, Pa. Kami berdua selalu menjadi anak -anak yang penurut dan rajin membantu Mama untuk jaga adik-adik kami. " jawab Brenda dan Lisa bersamaan.


Devano Wandani menghampiri istrinya yang kini menyambutnya dengan pelukan hangat dan ciuman lembut di bibirnya dan ia membelai halus dan lembut bayi -bayi laki-laki kembarnya.


"Kalau kalian berdua bagaimana? Apakah kalian berdua nakal dan cerewet sehingga Mama kalian tak bisa tidur pada tengah malam untuk menyusui kalian berdua? " tanya Devano dengan nada lembut kepada si kembar Zidane dan Roberto Wandani silih bergantian di troli bayi di dekat sofa yang diduduki oleh Ruby.


"Tidak juga, Pa. Kami berdua selalu patuh dan manis terhadap Mama. " jawab Ruby mewakili bayi laki-laki kembar mereka kepada Devano Wandani.


"Wah, Mama semakin hari semakin cantik saja deh sampai Papa selalu rindu dengan Mama. " kata Devano Wandani membalas pelukan dan ciuman lembut istrinya.


"Dev, apakah kamu selalu rutin untuk minum obat vitamin mu selama beberapa hari ini di luar negeri untuk urusan keluarga sepupumu yang tinggal di Indonesia?" tanya Ruby memintanya untuk duduk di sofa dekat sofa yang diduduki oleh Ruby.


"Ya, tentu saja aku selalu rutin untuk minum obat vitamin ku sehingga tubuhku selalu sehat. " jawab Devano Wandani memperlihatkan kantong plastik khusus untuk obat vitamin miliknya telah kosong kepada Ruby.


"Ah, baiklah, Devano. Sebaiknya kamu cepatlah pergi mandi dan ganti pakaianmu lalu tidur di kamar dengan nyenyak untuk tubuhmu selalu fit dan sehat. " kata Ruby mengingatkan jadwalnya.


"Ah, ya istriku. Aku selalu ingat kok jadwalku di setiap hariku. " kata Devano Wandani segera berdiri dari sofa lalu mencium bibir isterinya dan berjalan keluar dari ruangan belajar.


Dan, setelah Devano Wandani tidur di kamarnya sendiri. Ruby mengantarkan anak-anak mereka ke kamar tidur masing-masing sebelum Ruby pergi tidur di kamarnya dengan Devano Wandani di lantai lima dari rumah mewah mereka di kota Los Angeles.


Devano Wandani merangkul Ruby begitu melihat istrinya sudah berbaring di sampingnya lalu ia menyelimuti tubuh istrinya dengan selimut tebal dan hangat dan kemudian mereka terlelap di tempat tidur mereka.


Pagi harinya, Ruby merapikan dirinya lebih dulu sebelum membangunkan suaminya yang segera melompat bangun dari tempat tidur untuk pergi mandi.


"Dev, kamu ingin sarapan pagi menu apa dan apa bekal untuk makan siangmu di kantor? " tanya Ruby membantu suaminya memakai dasi dan jas kerja.


"Apa sajalah yang penting enak dan kenyang di perutku. " jawab Devano Wandani lembut sambil menyisir rambutnya yang basah dan sedang di keringkan dengan hairdryer yang dibantu oleh Ruby.


"Emm, baiklah. Aku akan segera pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi dan bekal makan siang untuk kamu dan anak-anak. " kata Ruby dengan langkahnya yang cepat sekali.


"Aku akan segera datang ke ruang makan usai Aku membangunkan anak-anak kita, Ruby cantik ku. " kata Devano Wandani yang tahu tugasnya sebagai Papa yang baik untuk anak-anaknya dan seorang suami yang bijaksana dalam mengurus anak-anak mereka adalah tanggungjawab dari mereka berdua.


Devano Wandani mengetuk pintu kamar Brenda dan Lisa lalu menemukan kedua orang putrinya sudah berpakaian seragam sekolah dasar dan membawa tas sekolah di punggung anak-anak nya ketika ia menghampiri anak-anaknya yang segera memeluknya dan mengucapkan selamat pagi dengan suara manis dan ramai.


"Selamat pagi untuk anak-anak Papa yang cantik dan pintar. " sapanya dengan senyuman sayang kepada anak-anaknya.


Bersambung!!