
Ketika kedua keluarga datang ke rumah duka di mana jenazah Ruby Yolanda Wandani akan di semayamkan di sana suasana hati yang terluka menyelimuti diri Devano Wandani yang berdiri di samping ketiga orang anaknya memandang peti jenazah istrinya.
"Aku tak pernah percaya bahwa secepat ini aku akan kehilanganmu, sayang. Aku sungguh pria yang tak bisa menjagamu ketika kamu masih ada di sisiku tapi aku berjanji untuk menjaga anak-anak kita seumur hidupku tanpa aku nikah kembali. " Kata Devano Wandani menatap lurus kepada peti jenazah Ruby Yolanda.
"Kau jangan main-main dengan janjimu itu, Dev. Kau masih muda sekali mana bisa menahan diri dari naluri mu sebagai seorang pria muda. " Kata Ahmanya yang merangkulnya untuk memberinya kekuatan.
"Dia harus kuat mental karena Ruby Yolanda tak pernah bisa digantikan oleh wanita manapun di dunia ini. " Kata Papa mertuanya.
"Ala kau sendiri mempunyai anak lain selain Ruby Yolanda yang berasal dari istrimu sendiri. " Kata Ahmanya yang menunjuk ke arah Jeniffer adik tiri Ruby Yolanda yang berdiri di dekat Mama mertuanya.
"Beda masalahnya.. "Tukas Papa mertuanya.
" Ssssttt.. Berisik sekali sih kalian.. ! " Tegur Bayu yang membantu Devano Wandani untuk asuh ketiga orang anak Devano Wandani selama acara doa untuk menutup peti jenazah Ruby Yolanda.
"Dia akan menjadi milik ku lagi suatu saat nanti. " Kata Angela Lan yang datang ke rumah duka bersama dengan suaminya yaitu Eduardo Xi You You sepupunya.
"Jaga sikapmu selama kita masih berada di sini untuk kamu bisa menjaga kehormatan dan nama baik ku sebagai suamimu meskipun aku di beli dengan uang Ahma mu. " Desis Eduardo Xi.
"Tenang sajalah selama kamu bisa tahu diri." Balas Angela Lan.
Dokter Isabel membawakan segelas air putih dan camilan untuk Devano Wandani di ruangan VVIP rumah duka.Gadis muda berusia dua puluh satu tahun ini menghela napas dalam-dalam di dekat pintu masuk sebelum menemui pria muda yang sangat berkuasa itu.
"Dev, kau pasti merasa lapar dan haus' Kan? Ini ku bawakan beberapa camilan untuk mu. " Kata Isabel menyodorkan sepiring camilan kepada Devano Wandani yang mengacuhkan dirinya.
"Kakak ipar.. " Panggil Jeniffer dengan ramah.
"Ada apa, Jen? " Tanya Devano Wandani angkat alisnya kepada adik iparnya yang bawel itu.
"Cobalah untuk makan nasi padang yang aku belikan untuk mu di gerai makan online." Jawab Jeniffer memberikan sepiring nasi padang yang wanginya menggoda kepada Devano Wandani.
"Ya.. Aku akan makan nasi padang mu. Duduklah di sini. " Kata Devano Wandani yang mengusir Isabel secara halus untuk Jeniffer duduk di sisi kanannya sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya.
"Kau harus ingat untuk jaga kesehatan mu demi anak-anakmu yang masih balita semuanya. " Kata Jeniffer melirik senang kepada Isabel yang segera sadar untuk keluar dari ruangan VVIP rumah duka.
"Berengsek si Jeniffer mencari kesempatan saja untuk mendapatkan perhatian dari kakak iparnya yang sudah duda itu." Geram Isabel diluar ruang VVIP rumah duka.
"Jadilah seorang dokter yang tahu siapa dirinya agar dihormati oleh pasiennya sendiri." Sindir Bayu yang sekonyong-konyong menghampirinya di lorong sepi di rumah duka.
"Diam kamu cowo jelek yang ditinggal married oleh tunangannya sendiri dan akhinya married dengan temannya sendiri untuk bertahan hidup sebagai milyader top dunia. " Cemooh Isabel.
" Nggh.. Lepaskan aku.. Bajingan..! "Teriak Isabel yang memukuli dada bidang Bayu.
" Aku akan melepaskan mu sesudah aku puas dengan mu. "Kata Bayu yang menariknya masuk ke ruang VVIP lain dan menguncinya disana lalu pemuda ini menjelajahi relung-relung tubuhnya dengan cara yang luarbiasa menaklukkannya.
" Masih seenak dulu.. " Kata Bayu menghapus air di mulutnya usai menikmati tubuh Isabel.
"Kau datang dan pergi sesuka hatimu.. Apakah kamu mengira kalau aku adalah sampah mu? " Isabel menangis di atas sofa panjang setelah ia untuk sekian kalinya menjadi bulanan Bayu.
"Aku menyukai tubuh mu bukan cinta.. Ahh, aku menikahi Ayumi untuk membantunya mendirikan perusahaan pribadinya sedangkan hatiku hanya untuk Vivian Wandani meskipun aku tahu gadis ku itu telah menikah dengan pria pilihan orang tuanya sendiri. " Kata Bayu yang membelai halus rambut kusut Isabel.
"Berarti kamu laki-laki yang menyedihkan sekali yang tak ada apa-apa dibandingkan dengan sepupumu itu. " Kata Isabel yang melirik ke arah ruangan VVIP lain yang telah terbuka untuk pria tampan sehebat Devano Wandani berjalan keluar dari ruangan itu menuju ke ruang peti jenazah istri pria itu lagi.
"Dia memiliki sesuatu yang tak pernah bisa aku miliki tapi lihatlah dia menjadi duda di usia dua puluh enam tahun.. Bayangkan dia jauh lebih menyedihkan daripada aku yang ditinggal nikah dengan tunangan ku sendiri. " Kata Bayu yang memakai kembali bajunya dan celana panjang nya sebelum meninggalkan Isabel di ruangan VVIP itu.
Bayu menemui istrinya yang bersama dengan tiga orang anak Devano Wandani yang dititipkan kepada mereka dengan di awasi oleh pengasuh mereka masing-masing.
"Bay, mereka sungguh menggemaskan sekali.. Aku jadi pengen punya anak selucu mereka." Kata Ayumi dengan senyuman manisnya kepada Bayu.
"Sabarlah, baru juga kita menikah belum lama. Kau belajarlah dulu dengan mengasuh mereka. " Kata Bayu yang enggan untuk memberikan benih unggulnya kepada Ayumi Kanazawa istrinya itu.
Isabel beranjak dari ruangan VVIP itu menuju ke ruang peti jenazah Ruby Yolanda berada dan ia melihat Bayu melayangkan senyuman manis untuknya.
"Laki-laki sialan.. Awas kau selingkuh lagi dariku. " Kata Isabel melalui sudut matanya kepada Bayu yang terkekeh.
"Ya, tenang sajalah.. Aku akan belajar untuk cinta kamu sebagai pengganti Vivian Wandani ku. " Jawab Bayu tersenyum untuk Isabel.
Seorang pria muda asal Peru berjalan bersama dengan seorang wanita kulit hitam menuju ke ruang peti jenazah Ruby Yolanda untuk temui Devano Wandani yang mengangkat alisnya usai melihat wanita yang datang bersama dengan pria itu.
"Margareta.."
"Ya, aku Margareta yang datang ke rumah duka ini untuk menyatakan belasungkawa ku untuk istri mu. " Kata Margareta memberikan buket bunga mawar putih kepada peti jenazah Ruby.
"Bawa pulang barangmu karena aku tak pernah mau menerima barang murahan mu apalagi kau datang ke sini bersama dengan orang itu." Kata Devano Wandani yang melemparkan buket bunga mawar putih ke wajah Alesandro Felipe di dekat Margareta.
"Sombong sekali dia.. " Kata Alesandro Felipe yang mengajak Margareta untuk pergi dari rumah duka dengan wajahnya berang karena di hina oleh Devano Wandani.
Bersambung!!