I'll Be There For Love

I'll Be There For Love
Bab 31.



Ruby menatap sedih Devano yang tercengang usai melihat video CCTV peristiwa semalam di kamar sepupunya sendiri melalui hpnya sendiri dan tidak tahu harus berbuat apa?


"Ruby, ini pasti ada kesalahan pada rekamannya karena aku tak mungkin bisa melakukan hal itu terhadap Vivian.." kata Devano yang berusaha untuk menyakinkan istrinya.


"Dev, kau ingin lari dari kenyataan yang telah kau perbuat terhadap sepupumu sendiri?" tanya Ruby yang menunjuk pada Vivian di ranjang di belakang punggung Devano sedang menangis.


"Tidak...A.. Ku.." Devano bingung memberikan jawaban kepada Ruby karena Ia melihat Vivian yang melompat turun dari ranjang untuk ambil pisau di piring buah di meja samping ranjangnya untuk bunuh diri.


"Vi... Jangan....! " teriak Ruby kaget.


"A.. Ku.. Sungguh malu untuk hidup setelah apa yang telah terjadi untuk sekian kalinya terhadap ku dari para pria yang hanya menginginkan enak nya saja tapi tidak mau memperlakukan diriku layaknya seorang wanita.. " kata Vivian begitu terluka.


Devano dengan cepat merebut pisau buah dari tangan Vivian dan membuangnya keluar dari kamar melalui jendela di sampingnya lalu sinar matanya menatap penuh rasa bersalah kepada Vivian.


"Vi..,Kau jangan berpikiran yang merusak hatimu karena aku pasti akan bertanggungjawab atas perbuatan ku kepada mu. " kata Devano yang memeluk Vivian yang menumpahkan kesedihan di pelukan Devano.


Ruby yang melihat hal ini memutuskan untuk pergi ke kamar untuk mengemasi barangnya dan menyeret koper keluar dari kamar menuju ke lift di lorong kanan lantai dua di rumah kediaman Wandani.


Devano yang sadar bahwa istrinya telah pergi dari kamar Vivian segera mengejar istrinya ke kamarnya namun ia tidak bisa menemukan Ruby di kamar sehingga ia berlari ke lift untuk segera turun ke lantai bawah.


"Devvv... " panggil Vivian yang segera menyusul ke lift dan masuk ke lift di sebelah lift yang di gunakan oleh Ruby.


"Vi.. Kau tunggu aku menyelesaikan masalahku dengan Ruby karena dia istriku yang paling ku cinta.. " kata Devano memohon pengertian dari Vivian.


"Dev, aku tak mau kamu mengejar Ruby lagi jika kamu ingin bertanggungjawab atas perbuatan mu kepada ku.. " kata Vivian yang menuntut Devano.


"Vi.. Aku tak bisa berpisah dengan Ruby karena aku bisa gila tanpanya! Aku bisa tanggungjawab kepada mu dengan cara lain yaitu jika terjadi sesuatu pada dirimu maka aku akan menafkahi hidupmu seumur hidupku tapi aku tak pernah bisa menikahi mu.. " kata Devano tegas.


"Oh, tidak bisa begitu, Dev.. Aku mau kamu bisa menikahi ku dengan resmi dengan kamu harus bercerai dengan Ruby jika kamu menolak untuk menikah dengan ku maka aku akan membuka aibmu ke seluruh dunia.. " kata Vivian dengan nada mengancam Devano untuk menjaga nama baiknya sebagai seorang wanita yang telah di nodai oleh sepupunya sendiri.


"Kau mengancam ku?! Huh, kalau begitu kamu bunuh diri saja sehingga aku tak perlu repot seperti ini..! " Bentak Devano yang menepis jari tangan Vivian yang ingin menyentuhnya dan lari keluar dari lift mengejar Ruby yang sudah masuk ke mobil di parkiran.


"Kau dilarang pergi dari ku dengan keadaan mu yang sedang emosi tingkat tinggi! Duduk di sofa itu. " perintah Devano kepada Ruby.


"Heii.. Seharusnya aku yang membentakmu tapi kenapa kamu yang membentak ku?? " tanya Ruby yang makin tercengang melihat Devano di depan sofa yang didudukinya dan menatapnya.


"Maaf.. Aku telah bicara keras kepada mu, Ruby., Kau harus percaya bahwa Aku bukanlah seorang pria yang suka mempermainkan perasaan orang yang ku sayangi yaitu kamu, Ruby. Aku akan cari jalan keluar untuk mempertahankan hubungan kita.. " kata Devano yang menjatuhkan sujudnya kepada Ruby sambil meletakkan kepalanya di pangkuan Ruby.


Ruby bingung harus berbuat apa terhadap suami yang sujud pada depannya dan memohon maaf kepadanya. Ruby menengok kepada Vivian di pintu ruangan pribadi mereka. Wanita itu hanya bisa memejamkan sepasang matanya untuk ia bisa tegar menghadapi situasi sulit seperti saat ini.


"Ruby, kau tahu, kan bahwa aku hanya ingin kau seorang di dalam hidupku, dan untuk masalah ku semalam dengan Vivian. Aku tidak akan pernah lari dari perbuatan ku terhadapnya namun aku tak pernah bisa menikahinya karena aku tak bisa poligami. " kata Devano menengadahkan kepala menatap Ruby.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan terhadapnya dan aku yang tak mungkin harus hidup bersama kalian di rumah ini lagi setelah terjadi hal itu di rumah ini? " tanya Ruby yang memandang tajam kepada Devano dan Vivian bergantian.


"Aku akan mengirimnya ke London pada hari ini juga dan hal ini berarti kamu tidak akan tinggal bersamanya. " jawab Devano berdiri di depan Ruby tanpa menghiraukan Vivian.


"Maaf, Dev.. Kau tak bisa seenaknya saja untuk mengusirnya dari rumah ini. Pokoknya kamu harus menikahinya untuk tanggungjawab mu kepadanya setelah kamu menceraikan aku yang tidak pernah sudi harus bersama dengan pria yang sudah berselingkuh dari ku.. " kata Ruby yang menghampiri Vivian dengan menyerahkan cincin berlian pernikahannya kepada Devano di sampingnya.


"Ku serahkan dia kepada mu, percayalah bahwa aku takkan pernah mengganggu hubunganmu dengan laki-laki itu untuk selamanya.. " kata Ruby yang kemudian melewati Vivian keluar dari ruangan pribadi mereka menuju kembali ke lift.


Devano menengok kepada Vivian yang menatap lekat-lekat pria yang tatapannya begitu tajam dan membius wanita yang melayangkan surat wasiat keluarga Wandani kepada Devano.


"Surat wasiat keluarga Wandani yang telah di tulis oleh Akong adalah jika kamu melakukan kesalahan kepada salah seorang dari keluarga Wandani maka kamu harus melepaskan Ruby Yolanda untuk selamanya dan menikah dengan anggota keluarga Wandani meskipun kamu juga keluarga Wandani. Namun aku seorang sepupu luar mu yang hanya menyandang nama anggota keluarga Wandani untuk perlindungan diriku dari orang-orang yang ingin mencelakakan diriku ini yang merupakan cucu perempuan luar dari Tuan Peter Andy Wandani. " kata Vivian menatap lurus Devano.


"Vi.. Aku tidak pernah menyangka bahwa kamu bisa memiliki sifat buruk yang membuatmu jadi pribadi yang egois tingkat tinggi.. " kata Devano yang membalas tatapan mata wanita di depan nya itu.


"Iya, semua itu karena kalian para laki-laki jahat yang menggunakan kekuasaan dan kekayaan yang kalian miliki untuk mempermainkan wanita tanpa memikirkan perasaan wanita itu sendiri. " kata Vivian yang mendekati Devano lalu giginya yang tajam menggigit bibir Devano sampai pria ini menjerit kesakitan dan mundur dengan cepat karena bibir Devano telah berdarah.


Bersambung!!