I'll Be There For Love

I'll Be There For Love
Bab 44.



Eduardo Xi melihat bayangan istrinya dari pintu kayu yang jatuh ke rumput halaman rumahnya sehingga ia dengan cepat menutup kembali kaki nya dengan kaos kaki dan sepatunya sebelum ia berbalik dan menghadapi istrinya.


"Soledad, ada apa kamu mencari Aku? " tanya Eduardo Xi tersenyum manis mendekati istrinya yang merangkulnya dengan sikap manis sekali.


"Ya, untuk memanggilmu makan malam karena hari sudah menjelang malam meskipun musim panas yang membuat matahari pulangnya lama ke langit untuk digantikan oleh rembulan sebagai cahaya di malam hari. "jawab Soledad yang telah mengajaknya ke ruang makan.


Di sana sudah ada mertuanya yang sudah duduk di kursi paling ujung dari meja makan mereka. Ia duduk di kursinya sendiri lalu mengambil garpu dan pisau untuk mengiris daging domba bakar yang menjadi menu makan malam mereka di hari itu.


" Eduardo, berapa usiamu sekarang ini dan apa kamu tak mau memiliki seorang anak lagi untuk Edward bisa mempunyai adik? " tanya Mertua nya sambil makan malam dengan nyaman.


"Tiga puluh tahun, Ma. Ya, Aku masih belum bisa modal untuk biaya hidup seorang anak lagi, ya karena Aku belum mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan uang yang banyak, Ma. "Jawab Eduardo sopan.


" Kau tak perlu mengkhawatirkan biaya hidup satu orang anak lagi yang bisa kamu dan istrimu dapatkan untuk masa depan kalian juga karena setiap anak memiliki rejekinya masing-masing.. Asalkan kamu percaya bahwa Tuhan pasti akan memberikan rejeki kehidupan untuk anak-anak mu. "kata Mertuanya yang mewakili perasaan istrinya yang memang sudah hampir dua tahun lebih tidak mendapatkan kebahagiaan lahir dan batin darinya.


" Iya, Ma.Aku akan mempertimbangkan kembali pendapat mama mengenai hubungan kami di masa depan. "kata Eduardo memahami maksud dari mertuanya itu.


Soledad merasa tak nyaman mendengarkan hal yang dibicarakan oleh Mamanya dengan suami nya yang belakang ini semakin menjauhkan diri darinya sehingga ia merasakan khawatir akan hubungannya dengan suaminya akan menjadi tak nyaman.


" Ma, sabar ya, kami pasti akan membicarakan tentang menambah anak secara pribadi ya. "kata Soledad yang memotong pembicaraan mama dan suaminya itu untuk menghargai perasaan suaminya.


Eduardo Xi meninggalkan ruang makan dengan pergi ke kamar mereka di bagian lain rumah, dan Soledad dengan cepat menyusul suaminya ke kamar lalu menutup pintu kamar dengan rapat.


" Ed, sebenarnya ada apa denganmu yang telah lama aku lihat seakan-akan menyembunyikan sesuatu dariku? " tanya Soledad hati -hati sekali kepada suaminya yang duduk di tepi ranjang.


"Tak ada apa-apa, Aku cuma memikirkan masa depan Edward dan kamu apabila Aku tak punya waktu lama di dunia ini. " jawab Eduardo yang mengherankan Soledad.


"Eh, apa maksud kata-kata mu itu,Ed? " tanya Soledad halus sambil merangkul lehernya dan mencoba untuk memberikan ciuman hangat di bibirnya.


"Aku tak kan pernah bisa memberikan apa yang kamu inginkan untuk selamanya, Soledad. Aku menderita penyakit diabetes akut." jawab Eduardo yang memperlihatkan kelingkingnya itu kepada Soledad.


"Ehh, kenapa kamu memberitahu aku sekarang? Ahh, maafkan aku yang tidak peka untuk rawat kamu, Ed. Aku tak kan menyalahkan kamu soal hubungan kita lagi yang penting kamu sehat dan nyaman. Sungguh? " Soledad menangis melihat suaminya ternyata sangat menderita penyakit diabetes akut.


"Iya, aku ikuti saja yang terbaik untuk kita semua. Aku juga tak mau kok memiliki sifat egois yang hanya memikirkan hubungan suami istri saja melainkan hubungan yang berdasarkan hati dan cinta tanpa pamrih yang jauh lebih besar dan suci daripada hubungan itu." kata Soledad yang sangat mencintai Eduardo Xi selalu memikirkan yang terbaik untuk Eduardo Xi.


"Soledad, kau sungguh seorang istri yang baik.. Aku bersyukur mempunyai kamu di dunia ini di dalam hidupku. Aku sangat mencintaimu.. " kata Eduardo Xi yang membalas ciuman Soledad di bibir istrinya itu.


Sementara itu, Nyonya Chanchita Fernandez di luar pintu kamar mereka telah menguping dan mengetahui semua pembicaraan mereka dan diam-diam mengutuk sekeras-kerasnya di dalam hati terhadap Eduardo Xi yang dinilai sebagai seorang menantu tak berguna sama sekali.


" Aku harus mencari laki-laki sehat untuk putriku secepatnya untuk kebahagiaan kehidupan masa depan putriku setelah laki-laki meninggal dunia karena penyakitnya. "batin Nyonya Chanchita Fernandez sambil menggendong cucunya yang pertama.


Maka tanpa sepengetahuan Eduardo Xi dan juga Soledad. Nyonya Chanchita Fernandez telah mempekerjakan seorang pria yang bernama Alfa sebagai asisten rumah tangga selama Eduardo Xi berkeliling mencari pekerjaan yang cocok untuk suami dari Soledad Zevanya pada suatu hari.


" Ma.. Siapa dia? Kenapa Aku belum pernah lihat dia sebelumnya di rumah kita? " tanya Soledad sopan kepada Mamanya di hari pertama suami nya mendapatkan pekerjaan di luar kota Dublin.


"Alfa, dia laki-laki sehat yang terbaik untukmu. Kau lihat betapa tampan dan gagahnya dia itu.. " jawab Nyonya Chanchita Fernandez yang telah memanggil Alfa untuk berkenalan dengan putri nya yaitu Soledad.


"Ma... Aku tak mau ya kau mempromosikan pria lain untuk ku.. Aku putrimu hanya mencintai satu pria saja yaitu Eduardo Xi seumur hidupku. " kata Soledad dengan sikap tegas kepada mamanya.


"Sayang, si Eduardo Xi dia bakal mati muda..Dan kamu akan menjanda sepanjang hidupmu bila kau tak cepat mempunyai cadangan seperti Alfa yang terbaik untukmu. " kata Nyonya Chanchita Fernandez yang memuji Alfa di depan Soledad.


"Ma, Aku tak mau..! " teriak Soledad.


"Soledad, dengarkan kata Mamamu yang ingin kamu hidup nyaman dan bahagia dengan laki- laki sehat lahir dan batin seperti Alfa bukan pria penyakitan seperti Eduardo Xi yang layak kamu ceraikan jauh hari sebelum dia mati karena sakit di deritanya itu. " kata Nyonya Chanchita Fernandez yang memegangi Soledad untuk putri tunggalnya itu mendengarkannya.


"Ma,Bukankah aku berarti seorang wanita yang tak pernah bisa bersyukur atas apa yang aku miliki sekarang ini dan selamanya melalui pria yang menjadi suamiku yaitu Eduardo Xi? " tanya Soledad nada keras kepada mamanya.


"Soledad, dia sendiri dulu pernah menyia-yiakan kamu saat kamu membutuhkannya sekarang ini adalah giliran mu untuk membuangnya seperti yang pernah dia lakukan terhadapmu,Nak.Ingat! Mama sangat kecewa dengan dia setelah Mama tahu bagaimana dia memperlakukanmu dahulu di waktu dia masih sehat lahir dan batin?! ujar Nyonya Chanchita Fernandez dengan rahangnya mengeras saking memendam perasaan sakit hati terhadap Eduardo Xi menantunya itu.


Soledad tercengang melihat Mamanya ternyata memiliki perasaan dendam kesumat terhadap Eduardo Xi suaminya yang selalu menjadi pria yang paling dicintainya itu. Sedangkan, Alfa hanya mendengarkan percakapan mereka yang berlangsung di hadapannya itu di ruang tengah rumah keluarga Eduardo Xi sendiri.


Bersambung!!