
Eduardo mendatangi rumah besar Nenek Lan dengan rahangnya yang mengeras dan pemuda tampan itu membuka pintu rumah besar Nenek Lan lalu menaruh berkas di depan mata Nenek Lan yang sedang duduk di sofa di ruang pribadi Nenek tua itu.
"Nenek Lan, Aku telah datang membawa surat keputusan resmi perceraian aku dengan istriku Soledad untuk mu lihat bahwa aku tidak pernah menipumu untuk membatalkan kesepakatan di antara kita berdua." Kata Eduardo dengan nada getir kepada Nenek Lan.
Nenek Lan mengambil surat keputusan resmi perceraian Eduardo dengan Soledad lalu melihat dan membacanya sebelum tersenyum puas untuk Eduardo.
"Bagus sekali, aku senang mendengar cara kerja mu yang cepat dan tepat sesuai dengan harapan ku yang tidak ingin menunda-nunda rencana ku untuk mempertemukan kamu dengan cucuku di hari ulang tahun putra ku yaitu ayah kandung dari cucuku yang akan menjadi calon mertua mu. " Kata Nenek Lan memandang senang pada keteguhan hati Eduardo.
"Ya, Nek. Sekarang aku sudah bebas seperti yang kamu inginkan untuk aku bisa menjadi orangmu." Kata Eduardo senyum pahit di wajah tampannya.
"Kau jangan memasang senyuman seperti itu kepadaku, You You. Aku hanya ingin bantu kamu mendapatkan kembali status dan derajat mu yang dahulu sempat kamu dapatkan sebagai Tuan Muda di rumah keluarga besar Wandani yang terpandang. " Kata Nenek Lan senyumnya kepada Eduardo.
"Ya, harga yang harus aku bayar untuk aku bisa mendapatkan semua yang dahulu pernah aku dapatkan sebelum aku menikah dengan Soledad gadis sederhana yang malang hanya karena dia memiliki nasib yang buruk berjumpa dengan Devano Wandani yang memanfaatkannya untuk menjadi pengganti istrinya yang sempat hilang darinya oleh ulahnya sendiri. Dan, sekarang Soledad harus mengalami hal yang sama untuk menerima kenyataan bahwa aku suaminya atau pria yang di cintainya harus menceraikannya demi menjadi salah seorang dari anggota keluarga orang-orang berkelas atas. " Kata Eduardo senyum pahit sekali di hadapan Nenek Lan seraya mengepalkan buku jarinya dengan gemetar menahan gejolak hatinya.
"Soledad tidak pantas untuk mu karena dia itu wanita bekas di pakai oleh Devano Wandani. Kau harus memiliki seorang istri yang belum pernah di pakai oleh Devano Wandani atau pria lain di luar sana untuk derajat mu makin berkelas atas dengan pesona mu yang berkualitas tinggi. " Kata Nenek Lan tersenyum kepada Eduardo di depannya.
"Ahh, ya semua adalah kesalahan Devano Wandani yang harus membayar kerugian ku dan Soledad yang malang. Aku membalas pesanmu kepada Devano Wandani dengan cara yang lebih menyakitkan daripada cara Akong dahulu telah mencoret namaku dari nama keluarga besar Wandani hanya karena aku mencintai Soledad yang saat itu masih berstatus sebagai istri palsu nya. " Kata Eduardo yang mengeluarkan rasa sakitnya kepada Devano Wandani di depan Nenek Lan.
"You You, karena itulah kamu harus menikah dengan cucuku untuk dirimu bisa bahagia dan memperjuangkan hak mu di rumah keluarga besar Wandani yang terhormat. " Kata Nenek Lan yang menerima telepon dari seseorang di luar sana melalui hpnya yang di sodorkan oleh asistennya kepadanya di ruang pribadinya.
"📱 Nyonya, kami sudah melakukan tugas kami dengan sempurna sesuai dengan keinginan anda." Kata seseorang di luar sana kepada Nenek Lan.
"📱Bagus, pastikan semua pekerjaan yang aku perintahkan kepada kalian bisa di kerjakan dengan sempurna oleh kalian. " Jawab Nenek Lan tersenyum bahagia tanpa ada rasa bersalah sedikitpun di hadapan Eduardo Xi You You yang mengangkat alisnya dengan kaget melihat Nenek Lan begitu bahagia.
"Apa yang sudah kamu berbuat terhadap istriku Soledad? " Tanya Eduardo dengan suaranya yang tertekan dengan sikap otoriter Nenek Lan.
"Sesuatu yang sangat besar untuk kebahagiaan cucuku yang akan menikah denganmu pada bulan depan. " Jawab Nenek Lan tersenyum bahagia.
"Awas saja kalau kamu sampai melukainya, maka aku akan membuat perhitungan dengan mu, Nenek Lan. Ingat kau berurusan dengan Eduardo Xi You You yang sanggup melakukan apapun untuk membalas dendam kepada orang yang telah menyaksikan istriku Soledad yang saat ini sedang hamil muda. " Kata Eduardo dengan geram kepada Nenek Lan.
Eduardo Xi You You termangu mendengar kata - kata nenek Lan yang menurutnya sangatlah tak manusiawi tetapi dia tak pernah bisa melakukan apapun untuk membalas nenek Lan yang licik itu.
******
Singapore, Singapura.
Bayu Putra Wijaya merenggangkan tubuhnya di tempat tidur lalu membuka sepasang matanya yang langsung menemukan Vivian Wandani yang memberikan secangkir kopi hangat di depannya seraya tersenyum manis untuknya.
"Selamat pagi calon suami yang ganteng. "Sapa Vivian Wandani tersenyum manis kepada Bayu.
" Wow, surprise untuk ku sepagi ini aku sudah mendapatkan hadiah secangkir kopi hangat buatan tanganmu sendiri, sayangku. Aku amat beruntung untuk menjadi calon suamimu mu, Vi. " Kata Bayu yang meraih pinggang kecil Vivian Wandani untuk gadis itu duduk di pangkuannya di tempat tidur.
"Iya, dong. Aku mulai melatih diriku untuk belajar menjadi calon istri yang baik untukmu supaya setelah kita menikah dan berumah tangga, maka aku bisa merawatmu dengan membuatkanmu secangkir kopi hangat karya tanganku sendiri. " Kata Vivian Wandani yang mengecup bibir Bayu yang menghirup kopinya dengan nikmat sekali.
"Wah, kalau aku dengar mu mengatakan hal yang manis seperti ini? Aku menjadi ingin sekali segera menikah denganmu supaya setiap hari aku bisa menikmati secangkir kopi hangat dari mu dan juga ciuman yang membara darimu. " Kata Bayu yang membalas ciuman Vivian Wandani dengan tangannya menjelajahi bagian bawah tubuh Vivian Wandani yang merasakan Bayu membuka kembali gua nya dan memasuki gua indahnya dengan lihai sampai gadis itu melambung tinggi ke awan kemesraan yang tiada tara.
"Pelan-pelan , Bay. Itu ku masih perih karena kamu memperlakukannya dengan bersemangat sekali sampai aku tak tahu apa yang sudah kau perbuat pada diriku. " Kata Vivian Wandani yang merasakan guncangan tubuhnya oleh gerakan ritme tubuh Bayu yang membuatnya memekik halus.
Di saat mereka sedang bermesraan di tempat tidur di kamar apartemen tempat tinggal Bayu di Singapura terdengar suara bel yang nyaring sekali sampai Bayu mendecak lidahnya dengan kesal dengan suara bel di luar pintu rumah apartemennya.
"Bukalah dahulu pintu rumahmu dan lihat siapa yang bertamu di pagi hari buta seperti sekarang ini. " Kata Vivian Wandani tersenyum untuk Bayu bisa sabar untuk melanjutkan aktivitas mereka di tempat tidur.
"Ahh, baiklah. " Kata Bayu yang cepat berpakaian rapi lalu berjalan ke ruang tamu dan mengintip tamu yang datang kerumahnya dari kamera CCTV-nya.
"Bayu.. Buka pintu rumah mu atau aku dobrak nih.. " Kata Devano Wandani yang melotot dari kaca kamera CCTV-nya sampai Bayu melompat kaget dengan tatapan tajam Devano Wandani dari luas pintu rumah Bayu.
Bersambung!