
"Apa aku tak boleh bersikap baik terhadap suami mu yang berbeda wataknya dengan orang pada umumnya? " Tanya balik Richard Evander yang mengajak Ruby untuk masuk ke rumah klasik di perkebunan buah anggur.
"Kau tinggal di perkebunan buah anggur? " Ruby mengagumi suasana perkebunan buah anggur yang lebat di depan sepasang matanya.
"Iya, semenjak aku bercerai dengan adik ipar mu yang sudah ku ketahui telah meninggal dunia belum lama ini karena penyakit kankernya yang menggerogoti organ tubuhnya.Ahh, aku sedih sekali memikirkan mantan istriku itu. " Jawab Richard Evander membukakan pintu rumahnya untuk Ruby begitu ia selesai memarkirkan mobil truknya di depan pintu.
"Terimakasih." Kata Ruby berjalan masuk ke halaman rumah Richard Evander. Dimana ia telah menemukan seorang wanita muda cantik yang menggendong seorang bayi perempuan usia enam bulan di depan pintu rumah warga putih.
"Halo, Ruby perkenalkan dia istriku Ester dan bayi perempuan itu adalah Amy putri ku." Kata Richard Evander memperkenalkan keluarganya kepada Ruby.
"Hai, perkenalkan aku Ruby Yolanda Wandani teman lamanya Richard Evander. " Kata Ruby ramah memperkenalkan dirinya kepada Ester istri dari Richard Evander.
"Ya, selamat datang di rumah putih kami yang sederhana ini, Nyonya besar Wandani. " Kata Ester Evander tersenyum ramah dan bersahabat kepada Ruby.
Ruby sangat senang di rambut hangat oleh istri dari Richard Evander seperti seorang sahabat lama saja maka ia semakin senang untuk tinggal di perkebunan buah anggur yang rupanya adalah kepunyaan Ester Evander sendiri.
"Tapi, aku harus mencari cara untuk kembali ke Los Angeles untuk keluargaku juga yang berada di sana yang pastinya sedang merindukanku dan berpikir bahwa aku sudah meninggal dunia di ruang ICU rumah sakit di kota Las Vegas. " Kata Ruby termenung seorang diri di balkon Kamar tamu di rumah Richard Evander.
Di sisi lain, Tuan Philip Gao marah besar kepada para anak buahnya yang telah gagal menjaga Ruby di kamar dalam mansion Gao. Pria muda itu menyebar seluruh orang-orang yang menjadi koleganya untuk mencari dan menemukan Ruby di seluruh kota Dublin, namun ia tak berhasil juga menemukan wanita yang di inginkan olehnya itu.
"Semua karena kebodohan kalian yang tak becus mengurus seorang wanita lemah saja..! " Teriak Tuan Philip Gao menendang sejumlah anak buah nya yang berlutut di bawah sepasang sepatunya.
"Maafkan kami tuan Philip Gao!! " Ratap para anak buahnya.
Dari luar pintu ruangan pribadi Philip Gao. Ada Soledad Zevanya yang tak sengaja mendengar pembicaraan antara Philip Gao dengan para anak buah pria arogan itu.
"Licik sekali dia itu.. " Kata Soledad Zevanya di dalam hati.
"Kamu sedang apa di situ? " Tanya Frank suami barunya dengan tanpa suara.
"Ssstt.. Jangan disini.. " Kata Soledad Zevanya yang menarik tangan Frank lalu mengajaknya ke kamar mereka.
"Aku ingin pergi dari tempat ini agar aku takkan pernah terlibat dalam kasus penculikan Ruby Yolanda Wandani yang tentunya akan membuat amarah memuncak pada diri Devano Wandani yang sudah aku kenal seperti apa orangnya. " Kata Soledad Zevanya yang mengemasi barang pribadinya di kopernya.
Frank menahan tangan Soledad yang ingin ambil koper di atas ranjang dengan tatapan matanya itu berkilat -kilat ingin merobek wanita muda di depannya itu.
"Untuk apa kamu mempedulikan seorang pria serendah Devano Wandani yang layak untuk mendapatkan pembalasan setimpal dari Philip Gak?! "
"Heii,tolong kamu jangan cemburu seperti orang tak waras, Frank. Aku ingin pergi dari mansion ini karena aku tak suka dijadikan bahan politisasi Philip Gao yang ingin menghancurkan Devano Wandani dengan cara licik melalui penculikan terhadap Ruby Yolanda istri sah dari Devano Wandani.. " Jawab Soledad dengan nada berang kepada Frank.
"Sama sekali tidak baik.. Augh.. Perutku..! " Pekik Soledad yang melihat air ketuban pecah dan mengalir dari bawah tubuhnya.
"Soledad.. Bertahanlah.. " Kata Frank yang cepat menggendong Soledad lalu bergegas menuju ke parkiran mobilnya dan menaruh Soledad di dalam mobil dengan cepat.
Tak lama kemudian Frank meluncurkan mobilnya meninggalkan mansion Phillip Gao untuk bawa Soledad ke rumah sakit. Di sepanjang jalan Frank mencemaskan keselamatan Soledad dan bayinya yang akan segera lahir.
"Eduardo.. "
"Aku bukan Eduardo, tapi Frank suamimu. " Kata Frank mengingatkan Soledad yang memanggil nya dengan nama Eduardo Xi mantan suami Soledad sepupu dari Devano Wandani pria yang di benci olehnya dan Philip Gao.
Di rumah sakit, Soledad melahirkan seorang bayi laki-laki yang wajahnya mirip seperti Eduardo Xi sampai Soledad menangis merasakan sakit hati dalam mencintai seseorang yang bukan lagi miliknya sendiri.
"Eduardo Xi sudah lama menikah dengan wanita lain, karena itu kamu harus melupakannya agar dirimu bisa bahagia, Soledad." Kata Frank yang selalu menasehati Soledad untuk melupakan mantan suaminya itu.
"Iya, aku tahu Frank cuma tidak semudah itu aku bisa melupakan seseorang yang telah memberi aku seorang bayi laki-laki yang persis dengannya yang seakan-akan penghalang untuk aku bisa bahagia tanpanya. " Kata Soledad memeluk bayi laki-laki itu dengan airmata kesedihan dan juga kebahagiaan menjadi satu.
"Kalau seperti ini jadinya, terpaksa aku harus memisahkan kamu dengan bayimu untuk kamu bisa bahagia bersamaku. " Kata Frank yang ingin Soledad menjadi miliknya seutuhnya itu merebut bayi laki-laki di pelukan Soledad sampai Soledad jatuh dari ranjang pasien.
Brakk!
"Frank jangan kamu sekali-kali merebut bayi ku dan memisahkannya dariku..! " Teriak Soledad yang berusaha untuk meraih kaki Frank untuk ia bisa merebut kembali bayinya dari Frank.
Tetapi, Frank mundur dengan cepat lalu pria ini meninggalkan kamar pasien dan memberikan bayi laki-laki itu kepada seseorang yang sudah menunggu di luar kamar pasien.
"Bajingan kamu, Frank..! Aku akan membunuhmu atas perbuatan mu kepada anakku dan aku..! " Teriak Soledad mencabut infus di pergelangan tangannya lalu mengejar Frank keluar dari kamar pasien tetapi ia tercengang melihat bayinya telah tidak ada di tangan Frank.
"Dimana anakku? Apa yang sudah kamu lakukan kepada anakku? Kepada siapa kamu menjualnya dengan tak manusiawi?! " Teriak Soledad yang mengguncang tubuh Frank dengan menarik kerah baju pasien yang dikenakan olehnya.
Frank menarik tangannya dengan dengusan dan seringai yang menunjukkan bahwa ia selamanya tidak akan pernah bisa bertemu dengan anaknya lagi.
"Tidakkk!! " Teriak Soledad lalu wanita itu jatuh pingsan di lantai lorong depan kamar pasiennya.
Tim dokter dan perawat di rumah sakit itu telah mendatangi Frank yang melotot kepada mereka untuk merahasiakan perbuatannya dari siapapun di sekitar mereka termasuk Tuan Philip Gao.
Bersambung!