
Devano mendorong Vivian dengan kasar setelah wanita sepupunya itu menciumnya.Ia menatap garang sekali sampai Vivian tersentak kaget lihat amarah di wajahnya yang sangat tampan itu.
"Kau sungguh seperti wanita penghibur yang tak bermoral yang menggunakan berbagai macam cara untuk merebut suami orang lain dan kau sudah merusak kebahagiaan ku dengan Ruby.. " kata Devano nada marah kepada Vivian.
"Dev, kau sendiri pun telah melakukan hal itu padaku kemarin malam dan sekarang kamu luar biasa melupakannya begitu saja seakan-akan kita tak pernah melakukan hal itu.. " kata Vivian menangis.
"Vi, kamu tak pernah mencintai ku karena kamu mencintai Bayu, jadi kau tak mungkin dalam waktu semalam saja telah jatuh cinta kepada ku dan merebutku dari Ruby istriku yang sampai detik ini adalah wanita yang paling aku cinta.. " kata Devano dengan rahang mengeras kepada Vivian.
Vivian menariknya untuk mendekati wanita itu yang membiarkan tubuh wanita itu jatuh ke sofa dengan tubuhnya di atas wanita itu lalu Vivian berbisik tanpa suara di telinganya.
"Bodoh, berakting lah dengan baik seperti kamu pernah beradu akting dengan istrimu agar orang yang telah menjebak kita dapat kita ketahui.. " bisik Vivian.
"Ehhh, apa maksudmu? " tanya Devano melalui tatapannya kepada Vivian.
"Aku dan Ruby mu sedang berakting untuk kita semua menangkap musuh dari peristiwa yang kita alami kemarin malam, apa kamu tak lihat hp mu berbeda sandinya dengan HP mu yang kamu pegang pada kemarin sore.. " jawab Vivian yang mendekatkan bibirnya ke telinga Devano.
Devano menganggukkan kepalanya memahami maksud dari bibir Vivian pada telinganya. Maka ia pun berakting untuk menipu musuhnya yang melalui lirikannya adalah seorang pelayan pria baru di balik pintu ruangan pribadinya.
"Dia seperti orang yang pernah aku kenal tapi di mana ya? " pikir Devano sambil mencium bibir Vivian untuk menyakinkan musuhnya itu.
"Dia Philip Gao yang telah kabur dari penjara di Dublin pada saat ia ingin dipindahkan ke penjara lain untuk kasus bom bunuh diri di stadion bola di kota Paris beberapa tahun lalu. " kata Vivian sambil membalas ciuman bibir Devano yang kini memabukkan dirinya juga.
"Kau benar sekali.. Aku harus membunuhnya.. Sekarang juga... " geram Devano yang cepat lari dari Vivian yang ingin meraba lehernya dan juga pahanya.
Devano melesat dari ruang pribadinya dengan tangannya mencengkram kerah baju belakang pria yang di putar balik untuk menghadapnya lalu di pukul habis olehnya.
"Bajingan kau,Philip Gao...! Ku bunuh kauuu...! " teriak Devano sambil meloloskan pistol dari saku celananya yang di todongkan ke kening Philip Gao.
"Dev, tolong kau jangan menembak ku.. " kata Philip Gao memohon ampunan dari Devano yang menendang wajahnya hingga babak belur.
Di saat yang sama datanglah Eduardo Xi dan Soledad Zevanya yang membawa polisi ibukota Beijing ke rumah kediaman Wandani lalu polisi menangkap Philip Gao usai meminta Devano tidak menembak mati Philip Gao.
"Tidakk... Jangan mengirim aku ke mereka di kota Dublin..! " teriakan histeris Philip Gao yang di borgol dan diseret oleh polisi keluar dari rumah kediaman Wandani.
"Hmm, aku anggap nasibku sungguh buruk.. " kata Devano yang duduk di lantai dengan wajah pucat sekali.
"Dev, aku tidak akan pernah meminta mu untuk bertanggungjawab atas kejadian kemarin malam pada kita berdua, jadi kamu bisa memiliki Ruby mu kembali.. " kata Vivian yang merasakan sakit hati melihat duka menyelimuti Devano Wandani.
"Vivian, aku tak tahu harus bagaimana dalam menghadapi mu di kemudian hari, dan aku juga telah mendapatkan hukuman dari Ruby yang tak mau bersamaku lagi. Dia menceraikan ku.. " kata Devano memperlihatkan surat cerai yang telah dilayangkan oleh Ruby untuk Devano melalui WeChat dari Los Angeles, USA.
"Dev.. Maaf.. Maaf... " kata Vivian memeluknya dengan menangis begitu sedih luar biasa.
"Mmm, karena Ruby sudah menceraikan kamu, Dev.Ku nasehati kamu untuk menikah dengan Vivian untuk tanggungjawab mu dan juga masa depan perusahaan Wandani di tanganmu.. " kata Eduardo Xi menegaskan bahwa surat wasiat dari almarhum Peter Andy Wan menyatakan bahwa ia harus menjaga keutuhan keluarga Wandani yang menjadi prioritas utamanya sebagai ahli waris seluruh kekayaan keluarga Wandani.
"... " Devano menutupi wajahnya dengan kedua tangannya lalu menganggukkan kepalanya untuk menyetujui untuk menikah dengan Vivian.
Eduardo Xi menghubungi keluarga Vivian yang berada di Singapura yang langsung menyetujui untuk Devano Wandani lah yang menikahi putri mereka.
"Aku luar biasa senang bukan main mengetahui bahwa Devano mencintai Vivian sehingga ia mau menikah dengan Vivian putri ku... " kata Papanya Vivian dengan wajah bahagia.
"Iya, setelah Vivian bercerai dengan Alesandro Felipe yang kasar dan pecundang itu akhirnya dia mendapatkan seorang Devano Wandani pria paling kaya sedunia.. " kata Mamanya Vivian dengan sinar matanya membayangkan harta yang melimpah ruah untuk putrinya yang hidup bahagia bersama Devano Wandani.
Mereka pun benar-benar menghadiri pernikahan Devano Wandani dengan Vivian di sebuah hotel terbaik di Ibukota Beijing yang juga dihadiri oleh ketiga orang anak Devano Wandani dengan Ruby Yolanda bahkan Bayu putra Wijayakusuma pria yang dahulu adalah kekasihnya Vivian juga hadir dengan menggendong seorang bayi perempuan yang bernama Graciella Putri Wijayakusuma.
"Dev, terimakasih atas kebaikanmu yang mau bertanggungjawab kepada ku.. "kata Vivian yang mencium bibir Devano Wandani usai dirinya sah menjadi istri dari Devano Wandani.
" Iya, sama-sama.. "jawab Devano Wandani nada getir.
Usai mengadakan pesta pernikahan yang amat mewah. Devano Wandani mengajak Vivian untuk honeymoon ke luar negeri yakni Korea Selatan atau lebih tepatnya di pulau Jeju.
" Wahhh, indahnya laut di pulau Jeju ini... "seru Vivian melebarkan kedua tangannya melihat laut yang begitu jernih di depan kedua matanya.
Devano Wandani melamun di tempat duduknya di tepi pantai dekat cottage mereka karena hati Devano Wandani masih merindukan seorang Ruby Yolanda mantan istrinya yang kini tinggal bersama ketiga orang anaknya di kota Los Angeles, Amerika Serikat.
Bersambung!!