
Los Angeles, USA.
Devano Wandani yang sedang bekerja di kantor perusahaannya sendiri mendapatkan kabar dari pihak sekolah anaknya di Barcelona kalau anak laki-laki sulungnya itu hilang dari sekolah ketika anaknya itu sedang bermain di hutan bukit di belakang sekolah anaknya.
"Apa? Baik. Aku segera datang ke sekolah anak ku sekarang juga." kata Devano Wandani segera menutup percakapannya dengan pihak sekolah anaknya melalui hpnya.
Devano Wandani berlari cepat ke arah lift untuk ia bisa segera tiba di helipad pribadinya untuk ia bisa mengendarai helikopter internasionalnya yang langsung dapat membawanya ke sekolah anaknya di Barcelona.
Sementara itu pihak sekolah anaknya telah sibuk mencari anaknya di seluruh hutan bukit belakang sekolah anaknya dengan bantuan tim sar kota Barcelona namun mereka tidak dapat temukan anaknya.
"Sepertinya ada orang yang telah menculiknya dari hutan bukit belakang sekolah kita." kata tim sekolah anaknya yang menemukan jejak kaki orang dewasa yang memakai sepatu bot besar.
"Kalau begitu kita harus melaporkan hal ini pada pihak kepolisian untuk menemukan Zicco putra dari Tuan Devano Wandani secepatnya." kata wali kelas sekolah anaknya dengan nada serius.
"Ya,Tuan Lopez anda benar sekali. " kata pihak sekolah anaknya segera menghubungi pihak kepolisian kota Barcelona yang segera mencari tahu keberadaan Zicco Wandani.
Devano Wandani melakukan pencarian terhadap anaknya dari udara melalui helikopter pribadinya dapat menemukan anaknya di seret seorang pria brewokan dengan memakai sepatu bot dan di tangan pria itu terdapat pistol yang ditaruh di pelipis anaknya.
Devano Wandani segera menggunakan angin dari baling-baling helikopter pribadinya untuk ia bisa mengejutkan penculik anaknya itu yang di lihatnya menunduk dengan cepat dari terjangan angin kencang dari baling-baling helikopternya.
Dengan cekatan di tendangnya pistol di tangan pria itu dari pelipis anaknya sambil ia serahkan anaknya kepada asistennya yang cepat bawa anaknya naik ke helikopter pribadinya.Ia sendiri melampiaskan amarahnya dengan memukuki pria itu dengan tinjunya.
"Kurang ajar kamu pria jahanam berani kau culik anakku?!! " bentak Devano Wandani yang telah mengambil alih pistol pria itu yang mengangkat kedua tangan ke atas kepala dan terlihatlah raut wajah pria itu adalah orang yang dikenalnya.
"Frank Sinatra kau rupanya?! " bentak Devano Wandani lagi.
Pria itu secara diam-diam memanggil teman -temannya untuk menyergap Devano Wandani dari belakang pria itu hingga Devano jatuh ke tanah dan pistol di ambil alih oleh Frank Sinatra yang siap untuk menembak mati Devano dari belakang kepala pria itu.
"Devano Wandani tamatlah riwayatmu di tangan ku..! " bentak Frank Sinatra yang telah siap untuk menembak Devano Wandani.
Tetapi sejumlah polisi Spanyol telah lebih dahulu menembak mati dirinya beserta teman-teman nya dengan lebih cepat sehingga Devano telah berhasil di selamatkan nyawanya.
"Papa.. " panggil Zicco Wandani memeluknya di depan pihak kepolisian Spanyol.
"Zicco oh syukurlah anakku.. Kau selamat, nak.." kata Devano Wandani membalas pelukan anak sulungnya.
"Tuan Lopez,Aku mau mengajak Zicco pulang ke rumah kami untuk liburan musim panas tahun ini selama satu bulan di mulai hari ini, apakah anda sebagai pihak sekolah mengizinkannya?" kata Devano Wandani dengan sopan kepada Lopez.
"Ya, tentu saja, Tuan Wandani. Kami dari pihak sekolah mengizinkan untuk anak Anda liburan musim panas tahun ini bersama keluarga Anda selama satu bulan di mulai hari ini." jawab Tuan Lopez dengan sopan pula kepada Devano.
"Baiklah, Tuan Lopez.Terimakasih atas waktumu untuk berbicara tentang keinginan anakku Zicco kepadaku secara terbuka di ruangan kerjamu." kata Devano Wandani menyalami tangan Tuan Lopez untuk pamit sebelum Devano menemui Zicco Wandani di asrama anaknya tinggal.
Zicco Wandani telah merapikan barang-barang pribadinya di kopernya saat ia melihat Papanya telah datang untuk menjemputnya pulang ke rumah.
"Papa,Aku mempunyai banyak cerita untuk Aku bawa pulang ke rumah kita tentang sekolahku dan teman-temanku juga rahasia paling penting di hatiku." tutur Zicco Wandani dengan senyum cerah kepada Devano Wandani yang meraihnya untuk berjalan ke parkiran helikopter Papanya.
"Oh, oke. Papa jadi tak sabar untuk dengar cerita kamu, anakku." kata Devano Wandani mencium kening anaknya ketika ia mengangkat anaknya untuk masuk ke helikopter pribadinya.
"Hehehe sabar dong, Pa.Aku akan cerita semua jika kita sudah sampai dirumah kita dan kumpul bersama dengan Mama dan Adik-adikku yang manis di rumah." kata Zicco Wandani terkekeh di pelukan Papanya.
Devano memejamkan sepasang matanya untuk sejenak ketika ia merasakan sakit pada perutnya namun ia tetap tersenyum bahagia untuk putra sulungnya dapat merasakan kebahagiaan ada di dekatnya.
"Oh Tuhan, tolong berikan Aku waktu lebih lama lagi untuk aku bisa membahagiakan istri dan anak-anakku serta memberikan perlindungan kepada mereka yang sangat berharga bagiku di dunia ini. " batin Devano.
Zicco Wandani terlelap di pelukan Papanya yang hangat dan kuat sampai anak kecil itu tersenyum bahagia di dalam tidurnya di malam hari itu, dan bermimpi tentang seorang gadis kecil yang telah mendatangkan rasa aneh di hatinya.
"Graciella Putri Wijayakusuma nama gadis kecil yang kelasnya berada di lantai bawah dan satu kelas dengan Lara Agustina teman satu kamar asrama putri dengan Sonya Glenn si gadis cantik di sekolah kita." kata temannya dalam mimpinya.
Di sisi lain, Devano Wandani memikirkan masa depan keluarganya jika dirinya telah meninggal dunia pada suatu hari nanti.Ia sudah harus pilih alih warisnya untuk kebahagiaan keluarganya di masa depan juga ia harus memilihkan calon yang terbaik untuk Zicco Wandani dan anak- anaknya yang lainnya.
"Dev, lihatlah gadis kecil yang manis ini cocok untuk pasangan masa depan putra sulungmu." kata sepupunya di Jakarta beberapa waktu lalu yang melihatnya begitu akrab dengan Irene Putri Wijayakusuma ketika ia menjemput anak itu dari Yogyakarta.
"Entahlah,Rosa.Aku masih memikirkan anak- anak ku akan sekolah dimana selanjutnya dan apa cita-cita mereka nantinya agar aku bisa tahu bagaimana cara Aku membimbing mereka dari mereka kecil hingga dewasa untuk kebahagiaan kehidupan mereka nantinya." jawab Devano pada waktu itu kepada Rosa Wandani sepupunya di Jakarta, Indonesia.
Devano Wandani memandangi anaknya yang kini berbaring di pangkuannya dengan tatapan mata penuh cinta yang besar terhadap anaknya yang memiliki wajah mirip seperti Ruby Yolanda istri nya itu.
Bersambung!!