I'll Be There For Love

I'll Be There For Love
Bab 22.



Devano Wandani mengacuhkan setiap orang di ruang persemayaman jenazah istrinya dengan sikap dingin sekali sampai tak ada seorangpun yang berani untuk menghampirinya.


Sampai pihak rumah duka menanyakan tentang jam keberangkatan jenazah Ruby Yolanda dari rumah duka ke pemakaman kepadanya dengan sikap hormat sekali.


"Tuan Besar Wandani, kapan Jenazah Nyonya Ruby di berangkatkan dari rumah duka? " Tanya pihak rumah duka kepada Devano Wandani.


"Jam sembilan pagi. " Jawab Devano Wandani.


"Baik, kami akan segera menyiapkannya. " Kata pihak rumah duka meninggalkannya sendiri di depan peti jenazah istrinya dengan wajahnya yang muram durja.


Bayu mengupas kuaci dengan sikap santai jika di lihat dari luar namun kenyataannya ia justru sedang menahan emosi setelah melihat laki-laki yang telah menikah dengan Vivian Wandani tadi datang bersama dengan seorang wanita lainnya untuk melayat istri dari sepupunya itu.


"Baguslah, Devano mengusirnya dengan kasar dan arogan agar dia tahu dengan siapa? Dia berhadapan. " Kata Bayu mengunyah kuaci di tangannya dengan geram.


"Kau sedang marah kepada siapa? " Tanya Ayumi Kanazawa dengan sikap hati-hati kepada suaminya yang pemarah itu.


"Kepada tembok tak tahu malu."Jawab Bayu yang meninggalkan Ayumi Kanazawa untuk pria ini mendatangi Devano Wandani sepupunya itu untuk memberitahu jadwal keberangkatan untuk jenazah Ruby sudah tiba.


" Tak perlu kamu beritahu aku, Bayu. Aku sudah tahu.. "Kata Devano Wandani nada ketus.


" Iy.. Iya, jangan galak donk.. "Kata Bayu bergidik ngeri dengan wajah garang Devano Wandani.


Jam sembilan pagi waktu setempat rombongan pelayat berbondong-bondong meninggalkan rumah duka untuk mengantarkan jenazah Ruby Yolanda Wandani menuju ke pemakamannya yang berada di kawasan utara kota Las Vegas.


*****


Dublin City, Irlandia Utara.


Di waktu yang bersamaan terjadi peristiwa yang mengejutkan semua orang yang memandangi seorang wanita muda yang sangat cantik jelita dan manis sekali yang terbangun dari tidurnya di ranjang mewah di dalam kamar mewah yang merupakan salah satu dari ruangan mewah di mansion Gao.


" Dimana aku? Kalian semua siapa? "Tanya Ruby Yolanda Wandani kebingungan mendapatkan dirinya sendiri di tempat yang asing baginya dan di kamar itu terlihat seorang pria muda tampan yang tersenyum sabar menghadapinya.


" Ruby, kau berada di rumahku, mereka semua adalah orang-orang ku. "Jawab pria itu yang kini berjalan mendekati tempat tidur tempat Ruby berada.


" Ya? Lalu kau itu siapa? Kenapa aku bisa berada di rumahmu? "Tanya Ruby yang cepat duduk di tempat tidur dengan tatapan mata tajam kepada pria itu.


" Aku Philip Gao Yan. Karena aku menginginkan kamu. "Jawab Phiip Gao Yan yang mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi Ruby..


" Gila..! Aku tak pernah mengenalmu bahkan aku tak mau denganmu.. Cepat kau pulangkan aku kepada suamiku Devano Wandani di kota Las Vegas atau kamu akan mengalami kesulitan dan bencana dari kemarahan suamiku jika dia tahu apa yang telah kamu lakukan terhadap aku Ruby, istrinya."Kata Ruby dengan marah kepada pria yang menculiknya.


"Hmm, aku justru ingin membuat suamimu yang sombong itu marah dan hancur karena aku telah menukar istrinya dengan orang mati yang saat ini sedang di tangisi olehnya di pemakaman yang selamanya tidak akan pernah di ketahuinya itu. " Kata Philip Gao Yan mendekai wajahnya kepada Ruby yang memukulnya dengan bantal.


"Bajingan kauu..! Pergilah kau dari hadapanku..! " Teriak Ruby.


"Jaga dia, jangan sampai dia kabur dari rumah ini atau kalian akan menanggung akibatnya dari ku. " Kata Philip Gao Yan kepada stafnya di luar kamar Ruby di sekap.


"Siap, Tuan Besar Gao. " Jawab para staffnya.


Ruby melemparkan tirai ke luar jendela kamar itu lalu kabur dari kamar itu dengan cara seperti spiderman sampai para staff Philip Gao Yan kaget lihat dia kini lari ke arah gerbang belakang mansion.


"Celaka..! Wanita itu kabur..! Cepat kita harus bisa menangkapnya kembali sebelum Tuan Besar Gao Yan tahu dan menghabisi kita semua. "Kata kepala staf kepada para anak buahnya di belakangnya.


" Siap, Bos. "Jawab para anak buahnya segera.


Ruby yang tahu bahwa semua staff mansion di kediaman resmi Philip Gao Yan telah menyebar untuk menangkapnya kembali maka ia dengan cepat melompati gerbang belakang mansion.


Ckitt!


Sebuah mobil truk berhenti di depan jalan di depan Ruby yang terkejut melihat pria yang telah di kenalnya telah menariknya masuk ke dalam mobil truk dan membawanya pergi dari mansion Philip Gao Yan.


" Kurang ajar...! Kita telah kehilangan jejak wanita itu..! "Geram kepala staff mansion Philip Gao Yan.


Ruby melihat pria yang menolongnya adalah pria yang pernah menjadi suami singkatnya yang dahulunya berprofesi sebagai Dokter spesialis dalam di salah satu rumah sakit di Dublin City, Irlandia Utara.


" Richard? "


Richard Evander membuka topinya dari samping seraya tersenyum kepada Ruby yang tercengang melihat pria usia sebaya dengan suaminya yang bernama Devano Wandani


"Hai, kita berjumpa kembali di kota yang sama namun di suasana yang berbeda terutama diri mu yang kabur dari rumah suami songong mu sendiri." Richard Evander menatap tak pernah percaya bahwa ia akan bertemu dengan Ruby lagi.


"Aku tak pernah kabur dari rumah suamiku. Aku diculik oleh orang yang membenci suamiku dari ruang icu tempat Aku dirawat di rumah sakit di kota Las Vegas. " Kata Ruby menjelaskan yang sebenarnya terjadi pada dirinya kepada Richard Evander.


"Ehhh, siapa orang gila yang berani untuk culik istri dari seorang Devano Wandani yang super sadis di dunia highclass kalian? " Tanya Richard Evander menatap Ruby dengan kaget.


"Philip Gao Yan. " Jawab Ruby santai.


Truk yang dikendarai oleh Richard Evander telah kembali berhenti di tengah jalan setelah Richard Evander mendengar siapa orang yang telah culik Ruby dari Devano Wandani.


"Oh, pantas saja orang yang telah culik kamu bisa seberani itu?, rupanya dia Philip Gao Yan yang juga sama gilanya dengan Devano Wandani cuma bedanya Devano Wandani punya hati yang lumayan baiklah, sedangkan Philip Gao Yan itu sama sekali tak punya hati nuraninya. " Kata Richard Evander menganggukkan kepalanya.


"Eii.. Tumben kau memuji suamiku lumayan baik? Ada apa dengan mu sekarang?" Tanya Ruby menerima kue sus dari Richard Evander ketika mereka telah jauh dari kawasan utara di Dublin city.


Bersambung!!