I'll Be There For Love

I'll Be There For Love
Bab 11



Devano mengabaikan komentar sinis Eduardo Xi yang menyombongkan diri telah sukses dan menikah dengan seorang perempuan kelas atas yang dapat mengangkat darjat Eduardo Xi ke dunia bisnis kelas atas.


"Hmm, apa bagusnya menjadi orang kaya tapi di atur hidupnya?! " Kata Devano yang mengajak istri yaitu Ruby menuju ke meja hidangan pesta pernikahan sepupunya itu.


"Kau ini biarkan sajalah dia omong apa yang tak ada hubungannya dengan kita." Kata Ruby yang mencela suaminya yang membicarakan sepupu suaminya itu dengan nada sinis.


"Habisnya dia sombong banget sih?! Aku kan jadi jengkel. " Kata Devano yang menatap tajam Ruby yang kaget di pelototi oleh suaminya yang suka uring-uringan belakang ini.


"Kenapa kamu menatap ku segalak anjing herder sih? " Tanya Ruby menutupi wajahnya dengan saputangan karena wanita itu merasa tak enak di lihatin terus menerus oleh suaminya.


"Karena kamu memakai gaun pesta yang amat tak sopan dan lihat semua orang di sini." Jawab Devano yang memakaikan jasnya kepada Ruby.


"Perasaan gaunku biasa saja deh, kau saja yang belakangan ini omel terus menerus seperti kereta api yang terbakar akibat batu bara nya hangus. " Kata Ruby memutar sepasang bola matanya menanggapi perkataan ngawur suami nya itu.


"Ruby, bagaimana persyaratan yang aku ajukan kepada mu untuk izinkan kamu kembali ke dunia entertainment mu? " Tanya Devano dengan nada lembut namun tajam kepada Ruby.


"Aku mana bisa bicara Aku tak setuju dengan syarat mu itu karena aku tahu kau macam apa orangnya.." Jawab Ruby menghela napas untuk pertanyaan suaminya itu.


"Baguslah, kalau kamu sudah paham mengenai sifat ku yang tak suka wanitaku di pegang oleh pria lain di adegan romantis di film mu.. Ohya, Aku sudah putuskan untuk masalah sekolah Ziko putra kita yaitu dia akan sekolah di sekolah dalam komplek perumahan kita tinggi di kota yang sama dengan kita tinggal. Pokoknya Aku tak mau putraku tumbuh menjadi seorang pria yang tanpa kasih sayang dan perhatian dari kita kedua orangtuanya. " Kata Devano gunakan buah kelengkeng di tangan kanan untuk Ruby mematuhinya sebagai suaminya Ruby.


"Eh, Aku sudah bilang kepada mu untuk kamu tak perlu ikut campur tangan masalah sekolah Ziko putra kita karena Aku sebagai seorang ibu tahu apa yang terbaik untuk putra kita di masa depannya nanti. " Kata Ruby mengambil buah itu dan memakannya tetapi Ruby malah mual dan memuntahkan buah kelengkeng itu kembali.


"Hei, kenapa kamu? Apakah kamu merasa tak enak badan? " Tanya Devano yang cepat berdiri dan membantu istrinya pergi ke kamar mandi.


"Dasar licik sekali kau... " Kata Ruby memarahi Devano yang termangu bingung di marahi oleh Ruby.


"Aku salah apa lagi di kedua matamu? Ugh, Aku pergi sajalah dan kamu pulang saja ke rumah. " Kata Devano yang ingin membalikkan badannya dari area kamar mandi di tahan oleh Ruby yang menarik ujung jas tuksedo nya.


"Enak saja kamu mau main -main sendirian di kota Macau. " Kata Ruby melotot kepada Devano yang menghela napas dalam-dalam lalu berbalik ke arah istrinya.


"Emm, dasar kau pandai menaklukkan benteng pertahanan udara ku." Kata Devano yang telah memanggul Ruby di pundaknya lalu mengajak istrinya meninggalkan hotel tempat pernikahan Eduardo Xi dan Angela Wan.


Devano menaruh Ruby di tempat tidur di kamar dalam hotel paling mewah di seluruh Macau lalu berbaring di samping istrinya dengan senyuman lebar dan wajahnya berseri-seri karena mabuk vodka.


******


Singapura, Singapura.


Vivian Wandani memandangi jalan raya dari atas jembatan penyeberangan dengan perasaan hati yang penuh pikiran yang membuatnya gelisah dan cemas.


"Apa yang harus aku katakan kepada Bayu kalau orangtua ku ingin membatalkan pertunangan kami? Papa ku ingin aku menikah dengan putra dari temannya yang tinggal di LONDON, Inggris. " Kata Vivian Wandani menghapus air matanya menggunakan saputangan yang didapatkannya dari seseorang yang mengulurkan saputangan kepadanya dari belakang kepalanya.


"Jangan nangis di atas jembatan penyeberangan ini nanti kamu terjatuh dan meninggal dunia lalu kamu menjadi hantu penghuni jembatan ini." Kata cowok ganteng blasteran asia dan Eropa yang tersenyum manis kepada Vivian Wandani.


Vivian Wandani tersentak kaget melihat sosok ganteng di depannya itu sehingga sesaat ia nyaris tak dapat berbicara dengan pemuda yang berdiri di depannya.


"Ale kenapa kamu bisa berada di Singapore?" Tanya Vivian Wandani dengan tercengang kaget melihat kehadiran sosok cowok yang akan di jodohkan dengannya oleh Papanya.


"Mewujudkan impian orangtua ku yang ingin aku menikah dengan gadis pilihan orangtua ku yaitu kamu, Vivian." Jawab Alesandro Felipe dengan sikap apa adanya kepada Vivian Wandani.


"Ahhh, Ale kamu kan tahu kalau aku bukanlah gadis zaman Siti Nurbaya yang nurut aja untuk di jodohkan dengan cowok yang sama sekali tidak pernah aku cinta dan kamu juga kan tak suka sistem kolot para orang tua kita? "Ucap Vivian Wandani dengan sepasang matanya memohon agar Alesandro Felipe membatalkan rencana orangtua mereka yang ingin menikahkan mereka berdua.


" Mmm, maaf Vi. Aku tak bisa menolak keinginan orang tua ku meskipun aku memiliki gadis yang selalu hadir di dalam mimpi ku di setiap malam ku terlelap. "Kata Alesandro Felipe dengan nada menyesal kepada Vivian Wandani.


" Ahhh, Ale..Kamu ini laki-laki modern yang hidup di negara Peru yang bebas memilih pasangan hidup yang kamu inginkan tanpa kamu harus mengikuti keinginan orangtuamu, lagipula aku ini telah lebih dulu bertunangan dengan Bayu putra Wijaya oleh almarhum Akong Andy Peter Wan di Beijing, karena itu aku tak bisa menikah dengan mu. "Kata Vivian Wandani dengan tatapannya yang menginginkan Alesandro Felipe membantu untuk membatalkan rencana pernikahan yang orang tua mereka inginkan.


"Vivian, kau bisa menyampaikan pendapatmu ini kepada orang tua secara langsung yang sudah menunggu kita di hotel pulau Sentosa karena aku tak bisa memutuskannya untuk membantu mu dan diriku. " Kata Alesandro Felipe dengan nada minta maaf kepada Vivian Wandani seraya menunjuk ke arah gedung hotel yang berada di bagian timur pulau Sentosa.


Vivian Wandani menghela napas dalam-dalam sebelum gadis itu mengikuti Alesandro Felipe ke arah hotel. Gadis itu memikirkan perasaan Bayu putra Wijaya tunangannya yang dipilih oleh Tuan besar Wandani untuk gadis itu sekitar tiga tahun yang lalu.


"Ale, maaf aku tak bisa mengikuti keinginan dari orang tua kita karena aku sudah memiliki pilihan hati ku sendiri yaitu Bayu putra Wijaya calon suamiku yang kuinginkan."Kata Vivian Wandani yang ingin meninggalkan hotel tempat dirinya akan bertemu dengan keluarga Alesandro Felipe itu di cegah oleh para bodyguard orangtuanya sendiri.


Bersambung!