I'll Be There For Love

I'll Be There For Love
Bab 43



Kota Los Angeles, USA.


Ruby duduk di bangku taman depan sekolah SD putra sulungnya untuk menunggu putranya itu pulang sekolah sambil mengelus perutnya yang buncit dengan kasih sayang.Ia merasakan hidup nya sangat bahagia dengan kehadiran suaminya yang baik dan penyayang dan tiga orang anak terbesarnya yang sangat manis dan ceria selalu.


"Dev, aku sudah mendapatkan hasil USG untuk bayi kita yang keempat ini lho kemarin pagi dari rumah sakit. " kata Ruby tersenyum bahagia di bibirnya yang manis kepada Devano Wandani suaminya yang sedang menemani dua orang anak kembar mereka bermain perosotan dan ayunan di taman bermain di sekolah anak- anak mereka.


"Ohya? Lalu apa hasilnya? " tanya Devano cepat menengok kepada Ruby dengan senyuman yang tulus sekali.


"Hasilnya adalah seorang bayi laki-laki untukmu dan teman bermain untuk Zicco. " jawab Ruby memperlihatkan hasil USG kepada Devano yang cepat menghampirinya dan melihat hasil USG itu melalui HP istrinya itu.


"Wow, Ruby sayang bukan seorang bayi laki-laki saja melainkan dua orang bayi laki-laki di perut mu itu. " kata Devano membaca hasil USG itu dengan tawa senang sekali.


"Ehh, dua orang bayi laki-laki? Berarti aku hamil anak kembar lagi..? " tanya Ruby bersinar-sinar matanya.


"Iya, sayang, kita akan memperoleh dua orang bayi laki-laki kembar untuk menjadi adik -adiknya Zicco, Lisa dan Brenda kita yang ganteng dan manis -manis ini. " jawab Devano Wandani yang meraih Zicco yang baru berjalan keluar dari pintu gerbang kelasnya lalu Devano Wandani telah menggendong putra sulungnya untuk bergabung dengan keluarganya yang lain.


"Wahh, aku akan memperoleh dua orang adik laki-laki sekaligus, Pa, Ma? " ucap Zicco dengan wajah berseri-seri kepada Devano Wandani dan Ruby Yolanda yang sudah menggandeng tangan Brenda dan Lisa.


"Iya,Zicco sayang, dan kamu sudah harus bantu Papa untuk mencarikan nama-nama paling hebat dan gagah untuk adik- adik laki-lakimu, sayang. " jawab Devano Wandani mencium dahi putra sulungnya sambil berjalan menuju ke arah mobilnya yang terparkir di parkiran sekolah.


"Hmm, namaku insial nya Z..., bagaimana kalau adik-adikku di beri nama Zidane dan Ziffa saja, Pa? " usul Zicco Wandani yang duduk di jok di depannya.


"Mmmm, nama -nama yang kamu usulkan untuk adik-adikmu sangat Papa sukai." jawab Devano Wandani yang memeluk Zicco Wandani.


"Mmm, kita ganti saja dengan nama Romeo dan Leonardo Wandani saja, Pa."Kata Zicco yang mengubah usul nama untuk calon adik-adiknya dengan nama-nama lainnya sampai hati Devano Wandani sangat bahagia mempunyai anak yang sebaik Zicco Wandani.


Ruby tersenyum bahagia melihat kehidupannya yang sangat bahagia sekarang ini. Ia merangkul anak-anak perempuan mereka yang duduk di sampingnya.


" Anak-anak kalian mau makan apa?"tanya Ruby begitu mereka sudah tiba di rumah mereka yang mewah.


"Aku mau makan nasi goreng dan udang manis pedas. " jawab Zicco Wandani memeluk Ruby.


"Aku mau makan ikan bakar. " jawab Brenda.


"Aku mau makan kepiting bakar.. " jawab Lisa.


"Kalau aku mau makan sup asparagus."kata Devano Wandani dengan senyumannya kepada Ruby Yolanda yang tertawa bahagia melihat suami dan anak-anaknya berlomba-lomba untuk menjawabnya.


" Ya, ya, aku akan memasak makan malam untuk kalian semua di dapur, dan sekarang kalian pergi ke kamar kalian masing-masing untuk mandi dan ganti baju lalu tunggu aku selesai masak di ruang makan kita. "kata Ruby dengan senyuman manis kepada suami dan anak-anaknya.


Lima belas menit kemudian mereka semua telah duduk di kursi makan menghadapi meja makan yang sudah lengkap dengan piring-piring berisi makanan pesanan mereka masing-masing dan gelas kaca berisi minuman pesanan mereka masing-masing.


*****


Dublin City, Irlandia Utara.


Eduardo Xi You You mengetik sesuatu di layar laptopnya di ruang pribadinya dengan sesekali mengambil cangkir kopi dan meminumnya lalu kembali mengetik.


" Suamiku, apakah kamu benaran mau melamar pekerjaan di perusahaan yang memproduksi keramik? "tanya Soledad Zevanya istrinya yang membawakan sepiring camilan buah pir hijau untuknya.


" Iya, aku sudah memikirkannya secara matang untuk aku bisa masuk kerja di perusahaan yang memproduksi keramik yang telah aku lihat lokasi detailnya melalui Google map. "jawab Eduardo Xi meraih jemari istrinya untuk memperlihatkan surat lamaran kerjanya yang akan segera di kirim melalui emailnya di layar laptopnya.


" Mmm,seterah kamu saja, aku sebagai seorang istri hanya bisa mendukungmu supaya jalanmu menuju keberhasilan selalu lancar dan sukses di masa depan untuk keluarga kita juga. "kata Soledad Zevanya yang mendapatkan ciuman di bibirnya dari Eduardo Xi.


" Terimakasih sayang. Aku sangat bersyukur bisa memiliki seorang istri sebaik kamu, sayang. " kata Eduardo Xi yang merangkulnya dengan erat sambil melanjutkan pekerjaannya di layar laptop suaminya itu.


"Papa.. Mama... Aku lapar.. " suara anak mereka memanggil mereka dari luar pintu ruangan kerja suaminya.


Soledad Zevanya segera berjalan keluar dari ruangan kerja suaminya lalu mengajak Edward Xi putra tunggal mereka ke ruang makan untuk di ajak makan siang bersama dengannya.


"Soledad, Mama lihat usia Edward sudah cukup besar untuk menjadi seorang Kakak lho. Kenapa kamu dan suamimu tidak menambah anak untuk menjadi adiknya Edward? " ucap Mamanya di ruang makan.


"Oh, Eduardo ingin menunggu sampai dia dapat pekerjaan yang cocok dengannya barulah kami akan menambah momongan kami. " ujar Soledad Zevanya sambil menyuapi putra tunggal nya makan siang.


"Eii,kalian ini yang selalu dipikirkan uang saja tak memikirkan masa depan putra tunggal kalian yang akan kesepian tanpa teman di rumah kita jika kalian tidak segera memberinya seorang adik. " kata Mamanya sekali lagi sambil merajut syal di sofa sudut ruang makan.


"Iya, Mama. Nanti aku dan Eduardo akan diskusi kembali tentang usul Mama tentang kami. " kata Soledad Zevanya tersenyum pengertian akan maksud hati dari Mamanya itu.


Eduardo Xi sudah mendengarkan percakapan itu dari luar ruang makan dan ia menghela napas panjang lalu membalikkan badannya untuk pergi ke luar rumahnya.


"Maaf, aku tak bisa memberikan kebahagiaan yang kau inginkan, Soledad. Karena aku bukan seorang Eduardo Xi yang dulu yang sehat luar dalam tetapi aku sekarang ini adalah seorang Eduardo Xi yang mempunyai penyakit diabetes yang membuat aku takkan pernah bisa untuk melakukan hubungan suami-istri dengan mu lagi untuk selamanya. " batin Eduardo Xi.


Eduardo Xi membuka sepatunya bagian kiri dan menunjukkan sebuah jari kelingkingnya telah di amputasi untuk menyelamatkan luka membusuk di jari kelingkingnya itu.


Bersambung!!