
Sorotan sepasang mata sinis dilayangkan dari Alesandro Felipe terhadap Vivian Wandani gadis yang telah di nikahin olehnya demi mewujudkan harapan dari kedua orang tua mereka berdua.
"Apa kamu tidak ingat mengenai semalam kita berdua telah menikah di hadapan kedua orang tua kita, keluarga dan kerabat terdekat kita di ruang pesta di lantai lima belas dari hotel in? " Tanya Alesandro Felipe mengangkat dagu halus Vivian Wandani.
"Apa kamu bilang barusan kepada ku? Aku tak tahu semalam Aku terlalu banyak minum vodka sehingga Aku mabuk lalu jatuh pingsan di lantai acara pernikahan kita berdua dan kini Aku baru saja bangun dari pingsan ku. " Kata Vivian Wandani dengan airmata kesedihan mengalir dari kedua kelopak matanya yang indah.
"Hmm, bagus jika kamu sudah ingat apa yang sudah kita berdua lakukan pada kemarin malam dan sekarang Aku ingin kamu menyelesaikan tugasmu sebagai seorang istri kepadaku.. " Kata Alesandro Felipe yang mengangkat dagu halus Vivian Wandani lalu mencium bibir gadis cantik itu.
"Heii.. Aku .. "
Vivian Wandani menepis tangan Alesandro Felipe yang ingin membuka pakaian pengantin yang masih dikenakan oleh Vivian Wandani yang segera melompat mundur ke tembok kamar.
"Aku memang telah menjadi istrimu tapi bukan berarti aku mau melayaninya..! Aku sudah bilang aku sama sekali tidak ada rasa cinta kepada mu dan menginginkan mu sebagai suamiku..! Aku mau menikah dengan mu karena Papaku yang telah memaksa kehendaknya terhadap ku..! "
Suara Vivian Wandani begitu keras sekali lalu Ia berjalan ke arah kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian barunya yang normal.
"Ishh... Wanita bau.. " Umpat Alesandro Felipe yang memukul dinding dengan kesal.
*****
Rumah Kediaman Luis Wandani, Singapura.
Sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang utama kediaman Luis Wandani lalu pintu mobil mewah terbuka untuk Bayu Putra Wijaya keluar dari mobilnya dengan ikuti oleh kedua orang tuanya yang membawa bingkisan mewah pula.
"Maaf, boleh kami bertanya kepada Anda yang bertamu ke rumah kediaman Tuan besar Luis Wandani? " Sapa salah seorang security guard di depan pos gerbang utama rumah kediaman Luis Wandani kepada keluarga Bayu Putra Wijaya.
"Kami keluarga besar Yudi Wijaya yang datang untuk bertamu ke rumah kediaman Luis Wandani majikan kalian. " Jawab Yudi Wijaya.
"Maaf, tuan rumah kediaman Luis Wandani sedang tidak ada dirumah, jadi maaf Anda dan keluarga tak bisa bertamu ke rumah kediaman Luis Wandani. " Kata kepala security guard yang menjaga pintu gerbang ke rumah kediaman Luis Wandani kepada Yudi Wijaya.
"Ouh, begitukah? Lalu kapan Tuan besar kalian ada di rumahnya? " Tanya Bayu Putra Wijaya nada tak sabaran untuk melamar Vivian Wandani tunangannya itu.
"Tidak tahu, karena Tuan besar tak memberikan pesan untuk kami. " Jawab Kepala security guard nada angkuh kepada Bayu Putra Wijaya dan keluarga.
"Hmm, kalau begitu kami akan menghubungi Tuan besar kalian untuk menanyakan kapan dia bisa bertemu dengan kami calon keluarga suami putrinya. " Kata Yudi Wijaya yang sudah ingin menghubungi Luis Wandani melalui hpnya itu terhenti karena ia melihat status di WA dari Luis Wandani yang memperlihatkan video pernikahan Vivian Wandani dengan Alesandro Felipe di hotel Pulau Sentosa.
"Rupanya dia telah melanggar kesepakatan kita dengan dia menikahkan putrinya dengan orang lain di luar sepengetahuan Bayu kita. " Kata Mama nya Bayu yang bernama Lisa Wijaya nada kecewa berat terhadap keluarga Luis Wandani.
Bayu dengan kesal mengambil barang lamaran dari tangan kedua orang tuanya lalu dibuang ke tempat sampah di dekat tiang pos security guard rumah kediaman Luis Wandani.
Orangtuanya mengikutinya dengan cepat lalu ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke daerah perumahan tempat tinggalnya di Singapura.
"Bayu... " Sapa seorang gadis cantik di depan pintu gerbang rumahnya begitu mobil mewahnya berhenti di depan pintu gerbang rumahnya.
"Ayumi, ada apa kamu mengunjungi ku di rumah ku? " Tanya Bayu menatap penuh selidik kepada Ayumi Kanazawa gadis blasteran Indonesia dan Jepang.
"Menawarkan mu untuk bekerja di perusahaan Papa ku yang baru dan menjadi tanggungjawab ku sebagai CEO-nya. " Jawab Ayumi Kanazawa nada lembut kepada Bayu Putra Wijaya.
"Hmmm, dimana perusahaan Papa mu yang baru di buka dan sudah berapa lama berdirinya perusahaan itu? " Tanya Bayu Putra Wijaya yang mengharapkan suasana baru untuk melupakan masa lalunya dengan Vivian Wandani mantan tunangannya itu.
"Ya, di Jakarta lah.. Karena Mama ku ingin aku menjadi pemimpin perusahaan Papa ku dengan syarat aku harus mencari pasangan hidupku yang akan membantuku dalam menjalani tugas ku sebagai Ceo di perusahaan Papa ku yang baru di bidang pertanian. " Jawab Ayumi Kanazawa menghampiri Bayu Putra Wijaya yang mendapatkan dukungan dari kedua orang tuanya untuk dirinya bahagia.
"Boleh juga, perusahaan ku juga bergerak di bidang yang sama, maka ku rasa kita cocok untuk menjadi Mitra kerja yang baik , ya kita bisa mencoba untuk menjalani hubungan asmara dengan di mulai dari proses pacaran saja dahulu sebelum kita melangkah ke jenjang yang serius. " Kata Bayu Putra Wijaya yang masih belum bisa move on dari Vivian Wandani mantan tunangan nya itu.
"Hmmmm, tapi Papaku memberikan syarat yang mengizinkan aku berpacaran dengan cowok usai menikah secara resmi dahulu untuk nama baik perusahaan dan bisnis kami terjaga kualitasnya di mata dunia. " Kata Ayumi Kanazawa dengan cepat menjelaskan syarat utama untuk mereka bisa bekerjasama di bidang usaha mereka.
"Bayu, syaratnya sangat mudah sekali tuh.. Ayo kamu terima sajalah untuk masa depan mu juga nantinya." Kata Yudi Wijaya memberikan nasehat kepada Bayu Putra Wijaya.
"Ya, Bay. Kau laki-laki jangan cemen gitu ah.. " Kata Lisa menowel pipi puteranya untuk putra keduanya itu semangat lagi.
"Ahmmm... Okelah..Aku mematuhi nasihat kalian berdua sebagai orangtua ku. " Jawab Bayu Putra Wijaya akhirnya setuju dengan pendapat dan nasehat orang tuanya.
*****
Mansion Wandani, Macau.
Devano menaruh sejumlah tas belanjaan di atas sofa ruang keluarga lalu duduk di sofa kecil dan mengambil remote televisi untuk menonton pertandingan sepak bola favoritnya.
"Kamu tak mau mandi dulu sebelum menonton TV? " Tanya Ruby Yolanda istrinya yang melewati jalanan menuju ke kamar mereka.
"Nanti saja aku mandinya karena pertandingan final nih. " Jawab Devano tanpa menoleh ke arah Ruby karena dia fokus pada TV nya sambil mencomot sebungkus kuaci di piring di atas meja TV.
Ruby menggeleng kepala melihat tingkah laku suaminya yang kadang-kadang masih seperti anak kecil yang manja namun menggemaskan hatinya.
Bersambung!!