I'll Be There For Love

I'll Be There For Love
Bab 41.



Setibanya Bayu di Hongkong dirinya mendatangi rumah sakit tempat putrinya dengan Anita Yuen di rawat dalam keadaan koma pasca melakukan operasi pencangkokan tulang punggung akibat penyakit Leukimia atau kanker sel darah putih yang di derita anak kecil usia empat tahun itu.


"Irene.. Anak Papa... " kata Bayu menangis di luar ruang iccu melihat putrinya memakai selang di sekujur tubuh mungil putrinya itu.


"Bayu, kau masih punya hati nurani rupanya pada anak kita. " kata Anita Yuen nada dingin di sampingnya.


"Tentu saja, Anita. Irene itu anakku.. " jawab Bayu tegas.


"Hahaha setelah sekian lama dia lahir hingga ia sekarat seperti sekarang ini? Kamu akhirnya mau mengakui bahwa ia adalah anakmu sendiri. " kata Anita Yuen nada dingin dan rahangnya itu mengeras saking emosinya terhadap mantan pacarnya itu.


"Anita, tolong kamu jangan menambah pusing untuk ku..!" bentak Bayu.


"Hei, kau masih berani untuk membentak aku?! " balas Anita Yuen.


"Tuan dan Nyonya tolong jangan ribut di rumah sakit karena pasien-pasien di sini memerlukan ketenangan. " kata tim dokter yang menangani Irene kepada keduanya.


Bayu dan Anita Yuen pun menjaga jarak mereka satu sama lain untuk menenangkan diri mereka masing-masing yang akan emosi bila mereka berdua berdiri dengan dekat seperti tadi.


Setelah keduanya memfokuskan diri pada ruang iccu tempat putri mereka di rawat inap secara intensif datanglah seorang pria yang membawa kartu kepolisian Hongkong yang mengatakan ia datang untuk menangkap Bayu.


"Apa?? Jangan sekarang..! Aku mohon biarkan Aku menunggu sampai putriku sadarkan diri dan melihat kehadiran ku di sini..! " teriak Bayu yang telah diborgol dan di seret keluar dari rumah sakit oleh kepolisian Hongkong.


Anita Yuen terkaget-kaget melihat Bayu di borgol oleh pihak kepolisian Hongkong secara tiba-tiba seperti itu namun ia tidak bisa membantu Bayu karena ia harus menjaga putri mereka di rumah sakit.


Bayu tidak dikirim ke penjara atau kedubes untuk di deportasi ke Indonesia melainkan Bayu telah di masukan ke dalam box yang di lemparkan ke dalam kapal laut di sebuah pelabuhan.


"Hei.. apa-apaan ini? Dimana aku? Kenapa kamu membawa ku ke sini..?? " tanya Bayu berusaha untuk membebaskan diri dari kurungannya.


"Hahaha, Bayu Putra Wijayakusuma.. Kamu akan segera menyusul Isabel ke alam baka untuk kau bisa mempertanggungjawabkan perbuatanmu kepada malaikat pencabut nyawa..! " suara keji seorang pria yang menarik box dengan mesin katrol dan bermaksud untuk menenggelamkan Bayu di tengah lautan.


"Berengsek kau siapa kamu??!! " teriak Bayu di dalam box yang merasakan tubuhnya miring ke kanan lalu suara benda di jatuhkan ke lautan di dengar olehnya.


Jebbburr!


"Hahahaha, kita telah melenyapkan Bayu..! Dan, sekarang kita bisa kirimkan video rekamannya kepada Devano Wandani yang akan menjadi sasaran kita berikutnya..! " suara seorang wanita terdengar dari kapal laut yang sudah kembali ke pelabuhan usai menenggelamkan Bayu di dalam box di dalam lautan.


"Margaretha, untungnya kita cerdas bisa kabur dari penjara di Peru sehingga kita berdua dapat merencanakan sesuatu terhadap orang-orang kaya-raya yang sombong itu.. " kata Allesandro Felipe yang merangkul wanita cantik berpakaian seksi di sebelahnya.


"Benar sekali, Felipe. Aku sudah tak sabar untuk melihat mayat Devano Wandani di hadapanku. " kata Margaretha dengan sinar matanya yang bengis menatap lautan yang melenyapkan Bayu di dalam box itu.


Mereka berdua rupanya telah mengamati Bayu semenjak Bayu datang ke Hongkong secara diam-diam untuk melihat putri kecil Bayu yang selama ini belum pernah dilihat oleh Bayu, lalu mereka mengambil situasi yang paling berat di pihak Bayu untuk menipu Bayu yang mengira bahwa ia akan dikirim ke penjara karena Bayu ini telah melanggar hukum yang melarangnya untuk meninggalkan negara Indonesia sampai batas hukumannya berakhir dari Devano Wandani.


Maka keduanya bisa melancarkan aksi mereka kepada Bayu yang malang. Sekarang mereka telah meninggalkan Hongkong menuju ke negara Belanda tempat terdekat dengan target mereka yaitu Devano Wandani.


Devano Wandani dan keluarga kecilnya sedang berlibur di kota Amsterdam sehabis liburan di Swiss. Mereka tidak tahu bahwa mereka telah di incar oleh pihak musuh mereka yang telah siap untuk menembak mereka dari atap gedung di seberang taman nasional kota Amsterdam.


"Hmm, kita akan menembak Devano Wandani dari atas gedung ini. " kata Allesandro Felipe di samping Margaretha dengan senapannya yang di arahkan secara langsung ke arah Devano Wandani di bawah.


Kreeekk!


Devano Wandani yang merasakan ada sesuatu yang tidak benar dan nyaman di tempat wisata yang di datangi olehnya dan keluarganya segera mengajak keluarganya untuk pergi dari tempat wisata itu yang bertepatan dengan suara senjata api yang meluncur dari tempat tak terlihat ke arah dirinya.


"Awas...! "


Dorrr!


"Dev..! Tidakk..! " teriak Ruby yang cepat lindungi anak-anaknya begitu suara tembakan jatuh ke jalanan dan nyaris mengenai suaminya.


"Ada apa ini? Celaka ada penyerangan terhadap wisatawan asing di tempat wisata kita..! " teriak pihak keamanan tempat wisata yang segera mengamankan para turis asing di tempat wisata itu.


"Berengsek mereka itu mengincarku..!" teriak Devano Wandani yang mengeluarkan pistol dari saku celana jeans nya yang ia arahkan ke arah atas gedung di depannya sambil ia bersembunyi di balik tempat sampah di pos polisi Belanda.


"Tuan Wandani.. Jangan khawatir kami lah yang akan menangani mereka untuk mu dan para turis asing di negara kami... " kata polisi setempat di dekat Devano Wandani.


Allesandro Felipe dan Margaretha yang melihat sasaran mereka telah berhasil menyelamatkan diri dari serangan tembakan mereka itu dengan cepat untuk mencari cara untuk kabur dari pihak kepolisian Belanda dan pasukan keamanan dari keluarga Wandani.


"Jangan harap kalian bisa kabur dari kami..! " teriak pihak kepolisian Belanda yang tahu- tahu telah mengarahkan pistol mereka kepada kedua orang itu yang mencari cara untuk kabur dengan cara menculik salah seorang dari turis asing di tempat wisata itu.


"Berhenti kalian semua atau kami akan lebih dulu menembak mati dia.. " kata Allesandro Felipe yang menodongkan senapannya kepada turis asing itu sendiri.


Devano Wandani yang secara diam-diam telah mendekati Allesandro Felipe dengan melompat dari samping dan membekuk batang leher pria itu sehingga ia berhasil menyelamatkan turis asing itu.


"Allesandro Felipe.. Sekarang tamat riwayatmu..! " bengis Devano Wandani yang telah menaruh pistol di pelipis Allesandro Felipe.


Bersambung!