I'll Be There For Love

I'll Be There For Love
Bab 56.



Devano menggandeng tangan kedua orang putri kecilnya untuk diajak ke ruang makan di lantai bawah untuk sarapan pagi bersama dengannya dan istrinya yang sudah menunggu kedatangan mereka di ruang makan.


"Auh,kenapa perutku sakit sekali? " keluh Devano di lift bersama dengan anak-anaknya.


"Papa, kenapa? " tanya Brenda melihat Papanya terlihat pucat pada wajah papanya itu.


"Hmm, tidak napa-napa,nak." jawab Devano tak ingin membuat hati anak-anaknya cemas.


"Pa.. Nanti siang aku mau pulang dari sekolahku di jemput oleh Papa, ya? " pinta Lisa melompat- lompat di depan Devano yang segera mengusap lembut rambut panjang putrinya.


"Ya, Lisa sayang, Papa pasti akan jemput kamu dari sekolahmu nanti siang." sahut Devano nada lembut sambil berjalan keluar dari lift bersama dengan anak-anaknya.


Mereka bertiga tiba di ruang makan lalu duduk di kursi makan mereka masing-masing dengan rapi untuk menghadapi piring yang berisi sarapan pagi mereka yang berupa pancake dan segelas susu hangat di depan mereka masing-masing.


"Selamat pagi, Mama dan selamat makan." sapa Devano mengedipkan sebelah matanya kepada Ruby.


"Ya, selamat pagi. Ayo cepatlah kalian sarapan pagi lalu berangkat ke sekolah dan kantor agar kalian tidak akan pernah terlambat untuk sampai di sekolah dan kantor. " kata Ruby menyediakan sepasang sendok dan pisau makan di dekat ketiganya.


"Iya, Mama. " jawab Devano yang segera diikuti oleh anak-anaknya sehingga suasana di pagi hari itu menjadi ramai dan cerah.


Ruby menerima bayi Zidane Wandani yang telah disodorkan oleh pengasuh bayinya itu untuk ia bisa menyusui bayinya itu sambil sarapan pagi bersama dengan suami dan anak-anaknya yang besar.


"Brenda, apakah buku sekolah dan semua alat - alat sekolahmu sudah rapi di tas sekolahmu? " tanya Ruby menatap gadis kecil yang duduk di kursi makan di seberang meja makan.


"Sudah, Ma." jawab Brenda segera.


"Kalau kamu, Lisa? " tanya Ruby yang beralih ke arah gadis kecil kembaran Brenda.


"Sudah juga, Ma. " jawab Lisa cepat.


"Baik, di dekat tas sekolah kalian sudah ada tas bekal makan siang kalian dan botol minuman juga, jangan lupa untuk dihabiskan. " pesan Ruby kepada anak-anaknya.


"Iya, Mama. " jawab Brenda dan Lisa bersamaan.


"Baik, sekarang kalian cepatlah berangkat ke sekolah dan kantor karena kalian sudah selesai sarapan pagi." kata Ruby yang telah berdiri dan membantu anak-anaknya memakai tas sekolah di punggung.


"Nyonya,Tuan muda Roberto belum minum susu pagi ini. " lapor pengasuh bayinya yang lain.


"Ya, tunggu sebentar.. " kata Ruby cepat-cepat mengantarkan kedua orang putrinya ke depan mobil khusus untuk mengantarkan anak-anak nya ke sekolah yang sudah disiapkan oleh supir di halaman depan rumahnya.


Devano mengambil bayi Roberto dari pengasuh bayinya yang bernama Lolita, lalu ia mengajak bayinya bermain di ruang bermain bersamanya sampai Ruby datang dan menggantikannya.


"Suamiku, sudah waktumu untuk pergi ke kantor. Bukankah hari ini kau ada jadwal meeting yang padat dengan klien-klien mu? " ucap Ruby sambil menyusui bayi Roberto kepada Devano.


"Ya, tapi aku masih ingin bersama kalian di sini.. " kata Devano yang membungkukkan badannya ke arah Ruby lalu mencium bibir istrinya seraya melirik ke arah benda-benda di depan tubuh istri nya itu.


"Ahh,Kau ini.. " kata Ruby merona.


Devano mengambil alih bayi Roberto setelah bayi Roberto tidur dan diberikan kepada Lolita di luar ruang bermain. Ia sendiri memangku Ruby di sofa ruang bermain lalu mengajak istrinya untuk bermesraan sejenak selama satu atau dua jam di ruang bermain.


"Ya,sama-sama suamiku. " kata Ruby dengan nada lembut kepada Devano usai mereka berdua saling mencurahkan kasih sayang mereka satu sama lainnya.


Lalu Devano terlihat mengendarai mobilnya ke arah keluar dari kawasan rumahnya yang luar biasa luas dan megah sekali.Sedangkan, Ruby kembali menjalani tugasnya sebagai ibu rumah tangga yaitu mengasuh bayi-bayinya, merapikan tempat tidur setiap kamar keluarganya, lalu ia pergi ke taman bunga kaca untuk merawat tiap bunga-bunga yang berada kebun kaca pribadi nya.


*****


Barcelona, Spanyol.


Zicco Wandani yang merasa penasaran dengan gundukan tanah dibawah pohon favoritnya itu tak bisa menahan dirinya untuk mencari tahu apa isi dari gundukan tanah itu. Ia pun menggali tanah dengan sekop kecil miliknya sendiri dan terlihatlah sebuah kotak kecil yang terbuat dari kaca pada tutupnya sehingga ia dapat melihat isi dari kotak kecil itu.


"Pita rambut warna ungu yang bertuliskan nama pemiliknya adalah Graciella Putri Wijayakusuma. " kata Zicco Wandani tersenyum simpul sendiri.


"Hei, Zicco kamu sedang apa sendiri disana? " tanya seorang temannya yang berlarian dari arah kaki bukit belakang sekolah mereka kearahnya.


Zicco Wandani dengan cepat mengembalikan kotak kecil itu ke dalam tanah lalu dikubur oleh nya agar tak ada seorangpun melihatnya telah membongkar rahasia oranglain secara diam- diam.


"Aku sedang mencari belalang nih,Roy." jawab Zicco Wandani mencari alasan yang tepat untuk menjawab temannya.


"Belalang? Apakah Kamu bisa menemukan satu atau dua ekor Belalang di bukit belakang sekolah kita? " tanya Roy Keane temannya yang telah tiba di atas bukit belakang sekolah mereka.


"Bisa." jawab Zicco Wandani segera berkeliling di sekitar bukit belakang sekolah mereka untuk cari dan menemukan Belalang.


"Dimana Belalang nya? " tanya teman lainnya di belakang Roy Keane.


"Disana.. " jawab Zicco Wandani berlarian ke arah dalam hutan di bukit belakang sekolah.


"Zicco kau jangan main ke sana...! " teriak Roy Keane dan Dennis Rodman yang segera lari ke arah hutan untuk mengejar Zicco Wandani.


"Celaka dia malah masuk ke dalam hutan..! " teriak Roy Keane dengan wajah panik.


"Kita lapor kepada Guru kita saja, yuk.. " usul Dennis Rodman yang cepat ditanggapi oleh Roy Keane yang segera berlari menuju ke sekolah.


Zicco Wandani yang telah masuk ke hutan bukit belakang sekolah telah kebingungan mencari jalan keluar dari hutan usai ia menyadari bahwa ia sudah jauh dari sekolahnya.


"Tolongggg...!! "


Zicco Wandani berteriak-teriak meminta tolong namun tidak ada seorangpun yang mendengar suaranya. Ia makin kebingungan ketika ia telah melihat seorang pria brewokan tanpa alas kaki mendekati dirinya.


"Anak manis mari kau ikut aku pergi dari sekolah mu ini.. "kata pria brewokan itu yang suaranya sangat menakutkan bagi Zicco Wandani.


" Ka.. Kauuuu siapaaa?? "tanya Zicco Wandani yang pucat karena ketakutan sekali


"Aku teman baik dari Papamu yang akan antar kamu pulang kepadanya." jawab pria brewokan itu mengulurkan kedua tangannya kepada Zicco Wandani.


Bersambung!!