I'll Be There For Love

I'll Be There For Love
Bab 58.



Sesampainya Devano Wandani di kediamannya di Graha Naga Emas.Ia menggendong anaknya keluar dari helikopter pribadinya untuk dibawa ke kamar anaknya secara perlahan-lahan untuk ia bisa mencurahkan kasih sayangnya yang besar kepada anak sulungnya itu.


"Dev,syukurlah kamu bisa menemukan Zicco dan membawanya pulang ke rumah kita." kata Ruby istrinya yang berjalan di belakangnya.


"Iya,Aku pasti akan selalu bisa menemukan buah hatiku dimanapun ia berada." kata Devano yang menaruh Zicco di tempat tidur di kamar anaknya sendiri setelah mereka sampai di lantai atas.


"Dev,kamu memang seorang suami dan Papa yang sangat baik." kata Ruby merangkulnya dari belakang.


"Terimakasih atas pujaanmu untukku, Ruby." kata Devano membalikkan badannya untuk ia dapat menghadapi istrinya yang menatapnya penuh cinta.


"Sama-sama suamiku. " kata Ruby menangis di pelukannya.


"Hei, apakah di dapur masih ada makanan untuk aku makan malam hari ini? Dipeluk olehmu perut aku tiba-tiba terasa lapar." kata Devano menatap istrinya dengan cinta lalu menundukkan wajah dan mencium bibir istrinya.


"Ada,Kamu mau makan malam menu apa? "


"Bibimbap."


"Oh, oke, aku akan segera menyiapkannya untuk kamu, suamiku sayang."


"Aku menunggumu di ruang makan setelah kamu sudah menyiapkan makan malam untuk aku." kata Devano tersenyum menawan kepada Ruby seraya berjalan ke arah lorong menuju ke lift di samping istrinya.


"Oke, sekarang kamu mandi dulu saja dan bila kamu sudah rapi dan wangi, kamu bisa turun ke ruang makan untuk menemuiku di sana." kata Ruby yang mengedipkan sepasang matanya ke arah suaminya.


Devano berjalan ke arah kamarnya namun ia tiba -tiba merasakan sakit lagi pada perutnya yang membuatnya mengeluarkan keringat dingin dan ia merasakan darah keluar dari alat vitalnya.


"Auhh,kenapa Aku kembali lemah seperti ini?" batinnya.


Devano tertatih-tatih memasuki ke kamarnya di bagian utara lantai atas kediamannya dan jemari tangannya meraih gagang pintu untuk membuka pintu kamar mandinya namun ia merasa pusing dan robohlah ia di lantai depan kamar mandinya.


"Papa...! " teriak Brenda yang menemukannya di sana.


Ruby bergegas menuju kamarnya dan menangis melihatnya telah pingsan di lantai depan pintu kamar mandinya seraya memanggil namanya berulang-ulang.


"Dev.. Devano.. Bangunlah.. Jangan tinggalkan kami..! " teriak Ruby mengguncang tubuhnya.


"Panggil Dokter Felipe sekarang juga..! " perintah Papanya yang memang sedang berkunjung ke rumah mereka kepada para staff rumahnya.


Dokter Felipe datang ke kediaman Wandani, dan memeriksa kondisi kesehatan Devano Wandani yang menurut hasil pemeriksaan dari dokter itu bahwa kondisi kesehatan Devano menurun dan harus di opname segera di rumah sakit.


"Iya,Papa mertua." jawab Ruby segera merapikan barang-barang keperluan Devano Wandani yang akan dibawa ke rumah sakit.


Malam hari itu Devano Wandani kembali di rawat inap di rumah sakit secara intensif sekali dengan ditemani oleh Ruby istrinya yang menjaganya di luar ruang pasiennya.


Devano Wandani bermimpi tentang dirinya akan segera meninggalkan istri dan anak-anaknya di usianya masih muda sekali dan menginginkan waktu yang lama untuk menjaga istri dan anak- anaknya.


"Tuhan, tolong sembuhkanlah penyakitku ini agar aku bisa menjaga istri dan anak-anakku dalam waktu yang lama." batin Devano yang selalu ada keinginan atau harapan untuk hidup lebih lama lagi demi keluarga kecilnya.


Dan,cahaya yang bersinar terang benderang dari langit menembus mimpinya yang membuatnya tersadar kembali dari pingsannya dan melihat Ruby di sampingnya sambil menyuapinya minum obat.


"Ruby,dimanakah aku sekarang ini?" suaranya itu lembut ditelinga Ruby.


"Di rumah sakit." jawab Ruby lembut didekatnya sambil menyuapinya minum air putih dengan sedotan.


"Ruby,Aku mau pulang ke rumah untuk melihat anak-anak kita dan menikmati liburan musim panas bersama-sama dengan kalian semua di rumah kita. " pinta Devano menggenggam erat tangan Ruby.


"Sabar tunggu Dokter mengizinkan kamu untuk pulang ke rumah." kata Ruby membujuknya.


"Tidak, Ruby.Aku mau pulang ke rumah sekarang juga.Ayo, kau panggil Dokter Felipe ke sini biar aku yang bicara kepadanya secara langsung." kata Devano bersikeras.


"Baiklah, Dev jika itu maumu." kata Ruby.


Dokter Felipe memeriksa kembali keseluruhan dari kesehatan Devano sebelum Dokter Felipe mengizinkan Devano untuk pulang ke rumah dan memberitahu Devano bahwa hidup Devano saat ini hanya menunggu hari saja.


"Hhh,Aku tahu bahwa aku hanya berharap akan terjadinya mukjizat kepada diriku untuk hidupku saat ini. Jadi, ku ingin menghabiskan sisa waktu ku dengan keluargaku."kata Devano begitu keras kepala sehingga Dokter Felipe pun mengizinkan dirinya untuk pulang ke rumahnya.


Di rumahnya, Devano memanggil pengacaranya ke rumahnya untuk membahas tentang ahli waris seluruh kekayaannya kepada pengacara Fernandez Remos.


"Aku ingin membahas seluruh hartaku yang ingin ku bagikan kepada anak-anak dan istriku juga ke panti asuhan dan seluruh anak-anak di dunia ini sebelum Aku meninggal dunia." kata Devano di ruangan pribadinya kepada pengacaranya yang segera mencatat dan merekam video sebagai bukti kuat dari pernyataannya itu.


"Baik, silakan Tuan Wandani sebutkan siapa saja yang berhak untuk mewarisi tahta dan kekayaan yang Anda miliki. " kata pengacaranya yang telah menyiapkan segalanya untuknya.


"Aku mau mewariskan delapan puluh persen dari total kekayaan ku kepada Zicco, Brenda, Lisa, Zidane dan Roberto Wandani untuk perusahaan yang ada di empat benua dan beberapa usaha lainnya.Sepuluh persen dari total kekayaanku kepada istriku Ruby untuk rumah, vila,cottage, restoran dan perusahaan perfilman kepada Ruby dan sisanya Aku berikan kepada anak-anak di panti asuhan dan anak-anak terlantar di seluruh dunia.Dan, yang terakhir adalah Aku ingin Zicco Wandani sebagai pemegang saham terbesar dari keseluruhan kekayaan keluarga Wandani di Asia-pasicif namun ia harus menikah dengan Irene Putri Wijayakusuma untuk mendapatkan haknya. Apabila dia tidak mematuhi persyaratan tersebut maka kekayaannya akan dilimpahkan kepada Adiknya Roberto Wandani sebagai ahli waris keduanya." kata Devano di tempat tidurnya sendiri kepada pengacaranya yang duduk di kursi kerjanya di depannya.


"Tuan Wandani, semua yang telah Anda katakan pada hari ini sudah Aku catat tanggalnya, hari dan jamnya juga telah di rekam dengan kamera CCTV pribadi Anda yang Aku simpan sampai anak-anak Anda berusia delapan belas tahun untuk anak-anak laki-laki dan usia dua puluh satu tahun untuk anak-anak perempuan Anda.Dan, untuk keamanan semua harta akan disimpan di tangan istri Anda sebagai wakil Anda dan wali anak-anak Anda." kata pengacaranya yang luar biasa profesional dibidang hukum.


Bersambung!