
Frank membalikkan badan Soledad untuk wanita ini berhadap-hadapan dengannya lalu pemuda sepupu dari Soledad menunjuk ke perut buncit Soledad dengan tegas.
"Perhatikan kesehatan bayimu yang terutama yang harus kamu ingat jika pikiran mu kacau balau karena hati mu memikirkan pria yang tak layak untuk kamu ingat kembali. " Kata Frank yang tak pernah suka kalau Soledad memikirkan Eduardo Xi.
"Iya, Frank. Aku tahu itu meskipun aku batal nikah dengan Tuan Besar Gao untuk aku bisa melupakan orang itu untuk selamanya.Aku akan mencoba untuk mencintaimu karena kamu bukan hanya sepupuku tapi juga suamiku yang sekarang ini." Tutur Soledad yang menangis di depan Frank.
"Soledad, aku tulus menikahimu bukan karena kamu adalah sepupuku melainkan karena aku mencintaimu sejak kita masih muda dahulu." Kata Frank mengangkat dagunya dengan halus lalu mencium bibir Soledad dengan lembut.
Dari jarak yang cukup jauh di salah satu ruangan pribadi. Tuan besar Gao atau Philip Gao melihat kemesraan di depan matanya lalu ia memotret mereka secara diam-diam dan mengirimkannya kepada Eduardo Xi di China.
"Lihat gambar yang aku kirim ini adalah bukti nyata tentang pernikahan ku dengan Soledad mu itu begitu sempurna. " Kata Philip Gao yang ingin membakar emosi Eduardo Xi untuk pemuda itu mau bekerjasama dengannya.
*****
Kota Guangzhou, China.
Tengah malam hari seharusnya menjadi malam yang tenang dan damai bagi Eduardo Xi namun kenyataannya ia malah gelisah dan marah usai melihat foto yang baru saja dikirimkan ke WA nya dari Philip Gao.
"Sialan.. Kenapa dia malah bermain-main emosi ku? "
Eduardo Xi melemparkan hpnya ke tempat tidur dengan kesal namun ia segera mengambil HP nya kembali untuk menghubungi Philip Gao yang langsung menjawab hubungan telepon genggam mereka.
"📱 Hallo sobat bagaimana? Apakah kamu mau dia kembali kepada mu? " Tanya Philip Gao yang tersenyum mengejek kepada Eduardo Xi melalui layar HP mereka.
"📱 Iya, asalkan kamu jangan pernah sentuh dia lagi. "Jawab Eduardo Xi menggertakkan giginya menahan rasa sakit di hatinya.
" 📱 Baik, bantu aku untuk mengirim Ruby yang sedang koma di rumah sakit Las Vegas kepada ku di Irlandia Utara maka aku akan mengirim Soledad kepada mu secepat mungkin sesuai dengan keinginan hatimu.Bagaimana? Apakah kau bersedia untuk melakukanya?" Ucap Philip Gao yang melakukan negosiasi dengan Eduardo Xi.
"📱 Oke.. Aku akan melakukannya dengan cepat sesuai kesepakatan kita asalkan kamu jangan ingkari kesepakatan kita atau aku akan menolak kesepakatan kita dan aku akan mencari cara lain untuk mendapatkan Soledad kembali. " Kata Eduardo Xi.
"📱 Tenanglah..Aku orangnya sangat adil untuk urusan seperti ini. Baik, ku tunggu paket mu tiba di rumah ku maka paket mu juga akan tiba di rumah mu. " Kata Philip Gao tersenyum bahagia melihat ekspresi wajah Eduardo Xi.
Eduardo Xi menghubungi salah seorang teman baiknya di Las Vegas untuk melakukan misi penculikan dan Penukaran Ruby dengan gadis lain yang juga sedang koma di rumah sakit yang sama dengan rumah sakit tempat Ruby di rawat.
"Lakukan sebaik mungkin untuk ku, maka aku akan menjamin kebahagiaan dimasa depan mu di rumah sakit tempat mu bekerja." Kata Eduardo Xi menghubungi temannya yang bekerja di rumah sakit kota Las Vegas.
Senyuman menang dari Devano Wandani hadir di wajah tampan Eduardo Xi yang sangat senang melihat kesengsaraan terjadi pada diri sepupu yang paling dibencinya itu.
"Rasakanlah pembalasan ku, Devano." Kata Eduardo Xi menatap foto Devano Wandani di HP nya dengan sinis sekali.
Lalu Eduardo Xi menjatuhkan dirinya kembali ke tempat tidur dengan nyaman dan tertidur pulas sampai pagi harinya, Ia terbangun dengan segar dan melihat cahaya matahari pagi menyinari ruangan kamarnya yang luas.
*****
Rencana besar yang direncanakan oleh Eduardo Xi dengan temannya berjalan dengan lancar dan sukses sampai Devano Wandani mengira bahwa istrinya telah meninggal dunia karena penyakit kanker usus yang di derita oleh Ruby Yolanda.
"Aku tak mungkin semuda ini sudah menjadi duda..! " Teriak Devano Wandani yang histeris melihat jenazah istrinya di ruang jenazah rumah sakit sepulangnya ia dari kantor cabang dari perusahaannya sendiri.
"Dev, tegarkan hatimu.. " Kata Isabel memegangi bahunya.
"Tunggu.. Aku mau memeriksa jenazah istriku untuk memastikan bahwa ia benar-benar istriku ataukah orang lain untuk kalian bisa menipuku yang malang ini..?! " Teriak Devano Wandani yang mengusir semua staff rumah sakit untuk ia bisa memeriksa jenazah istrinya.
Devano Wandani kaget melihat jenazah istrinya yang benar-benar terbaring kaku di tempat tidur di ruangan jenazah rumah sakit. Ia pun kembali berteriak-teriak dengan histeris tak menerima kenyataan itu.
"Tak mungkin..!! Ruby kau dilarang untuk pergi dari ku untuk selamanya..!"
"Ruby bangun.. Ruby bangun...! "
Suaranya sampai habis dan Ia pun lemas di sisi Isabel yang memeluknya dengan cepat sebelum ia pingsan karena kesedihan akan kehilangan orang yang paling penting dalam hidupnya.
" Tabahkanlah hatimu untuk anak-anak mu yang membutuhkanmu di rumahmu, Devano. Ayolah bangkit..! " Suara Isabel yang mengguncang nya untuk bangkit.
Devano Wandani memejamkan sepasang mata nya sejenak lalu menganggukkan kepalanya dengan tegas dan berani untuk mencoba dirinya bisa menerima kenyataan bahwa istrinya telah meninggal dunia.
"Aku harus mengubungi kedua orang tua dari istriku atau mertua ku juga keluarga ku tentang Ruby ku. " Kata Devano Wandani yang tangannya gemetaran untuk mengambil hpnya dari saku celana panjangnya.
Lalu Devano Wandani berbicara dengan keluarga besarnya mengenai meninggalnya Ruby Yolanda sambil menangis begitu pilu sampai Isabel tak bisa menahan diri untuk kembali memeluk pria ini.
"Jangan menangis seperti ini.. Aku bisa ikut sedih.." Pinta Isabel.
"Isabel.. Menjauhlah dariku...! " Bentak Devano Wandani yang mendorong Dokter cantik ini dari dirinya.
"Eh masih keras hati sekali dia.. " Pikir Isabel.
Seorang wanita asal China mendatangi Devano Wandani di pintu ruang jenazah rumah sakit di kota Las Vegas. Wanita itu ingin sekali memeluk Devano Wandani untuk memberikan hiburannya agar pria yang di cinta oleh wanita itu tak larut dalam kesedihan.
"Dev, aku datang untuk mu.. " Kata Angela Lan di pintu ruang jenazah menatap lembut Devano.
Devano Wandani tak melihatnya karena pria ini fokus pada jenazah istrinya yang sedang di rapikan oleh pihak rumah sakit sebelum di bawa ke rumah duka untuk di semayamkan di sana.
"Antarkan anak-anak ku kepada ku pada malam hari ini juga. " Kata Devano Wandani yang telah memerintahkan para asistennya yang berdiri di sampingnya.
Para asistennya segera melaksanakan perintah darinya dengan cepat tanpa menghiraukan dua orang wanita yang memandangi bos mereka yang sibuk menangisi jenazah istri bos mereka.
Bersambung!!