I'll Be There For Love

I'll Be There For Love
Bab 28.



Di dalam perasaan yang di dera rasa putus asa yang melanda pada dirinya membuat Vivian tak dapat menahan gejolak hati yang ingin mencari kebebasannya di rumah kumuh dan genggaman tangan kejam dari suaminya sendiri.


"Bagaimana cara aku untuk keluar dari tempat ini yang seperti neraka dunia bagiku? " tanyanya sambil menangis yang begitu menyayat hati tiap orang apabila ada orang yang melihatnya di dalam rumah itu.


Suara dentuman dari luar pintu rumah kumuh itu mengejutkan Vivian yang langsung bergerak untuk mundur dari pintu yang telah jebol oleh pria muda dan tampan di hadapannya.


"Nona.. Marilah kau ikut aku pergi dari tempat ini sebelum Tuan Alesandro Felipe dan Nyonya Margareta datang.. " kata pemuda tampan yang terlihat sangat baik hati untuk menyelamatkan Vivian.


"I.. Iya.. Aku mau ikut pergi keluar dari tempat ini bersamamu.. " jawab Vivian yang segera lari dari tempat itu dengan mengikuti jalan yang di pandu oleh pemuda tampan itu.


Di sebuah lapangan terbuka terdapat helikopter yang siap untuk menerbangkan Vivian dari Peru namun Vivian terkejut dengan sosok yang baru saja turun dari helikopter dan menghampirinya.


"Pablo, rupanya kau yang telah datang ke Peru untuk menyelamatkan ku dari Alesandro Felipe dan Margareta? " tanya Vivian kepada pria itu.


"Iya, aku mendapatkan perintah dari Tuan Muda Wandani yang telah mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh mu dan Beliau akan kirim kepolisian negara ini untuk menangkap dan juga menjebloskan Alessandro Felipe dan Margareta ke penjara. " jawab Pablo Neruda yang menjadi asisten rumah tangga Devano Wandani sepupu dari Vivian Wandani yang memiliki kekuatan dan kekuasaan yang besar untuk memenjarakan dua orang yang telah menyiksa Vivian Wandani di rumah kumuh di Peru.


"Ahh.. Devano Wandani.. Di.. Dia menyelamatkan ku.. " kata Vivian Wandani dengan tangisannya.


"Jangan menangis lagi, Vivian. Mari kau ikut aku naik ke dalam helikopter dan meninggalkan dari Peru untuk mempertemukan kamu dengan Tuan Muda Devano Wandani di rumah beliau di kota Beijing, China. "kata Pablo Neruda membantu Vivian Wandani naik ke dalam helikopter pribadi milik Devano Wandani.


Sesuai dengan apa yang telah diucapkan oleh Pablo Neruda. Di tempat yang berbeda namun tetap berada di Ibukota Lima, Peru. Alesandro Felipe dan Margareta benar-benar di sergap dan di tangkap oleh pihak kepolisian negara Peru atas penyekapan, penyiksaan terhadap Vivian Wandani dan juga membunuh anak di kandung Vivian Wandani sehingga kedua orang itu di jerat hukuman penjara seumur hidup.


Vivian Wandani terpana melihat rumah besar keluarga Wandani kembali setelah lima tahun ini, Ia tak pernah mengunjungi rumah yang dahulu milik Akong nya namun kini menjadi milik Devano Wandani sebagai pewarisnya.


" Vivian.. Ahhh, syukurlah aku berhasil membawa mu pulang ke rumah ini.. "kata Devano Wandani yang langsung menyambutnya dengan pelukan hangat persaudaraan.


"Dev.. Oh.. Dev... "


"Vivian..! "


Devano Wandani menahan tubuh Vivian Wandani yang limbung dan pingsan di pelukannya.


"Cepat, panggil Dokter Chen untuk memeriksa dan memberikan pengobatan terbaik untuk sepupuku ini..! " perintah Devano Wandani nada keras kepada pihak kepala rumah tangga.


" Siap, Tuan muda.. " jawab Pablo Neruda yang cepat melaksanakan perintahnya.


"Vi, aku sudah melayangkan surat perceraian resmi untuk mu kepada Alesandro Felipe agar kau bebas untuk memperoleh kebahagiaanmu di masa depan. " kata Devano Wandani yang duduk di sofa depan ranjang Vivian Wandani.


"Terimakasih, Dev. Tapi, bagaimana dengan Papa dan Mama ku? Apakah mereka berdua mau menerima ku setelah aku bercerai dengan suamiku yang jahanam itu? " tanya Vivian Wandani dengan tangisannya kepada Devano Wandani yang menggenggam tangannya.


"Jangan kau cemaskan kedua orang tua mu itu karena aku akan bicara kepada mereka secara langsung dengan memberikan hasil visum mu kepada mereka sebagai bukti bahwa mereka telah salah memilihkan pasangan hidup untuk mu kepada bajingan gila seperti Alesandro Felipe yang jelas-jelas ingin merusak reputasi dari kedua orang tuamu sebagai kerabat dekat keluarga Wandani. Aku Devano Wandani tentu saja takkan pernah membiarkan siapapun untuk mengganggu keluarga kita.. " Jawab Devano Wandani dengan nada menenangkan hati dan pikiran Vivian Wandani.


"Bagaimana dengan Bayu mantan tunanganku itu? Bagaimana kehidupannya setelah menikah dengan seorang wanita yang tidak pernah dia cintai? " tanya Vivian Wandani yang memikirkan mantan tunangannya itu kepada Devano.


"Kacau balau, dia menikah wanita yang tidak pernah ia cinta tapi dia menghamili wanita lain. Intinya dia juga tak layak untuk mu dan kamu harus bisa melupakannya dan membuka pintu lembaran baru untuk kebahagiaanmu. " Jawab Devano Wandani dengan apadanya.


"Ohhh? " Vivian Wandani menumpahkan airmata kesedihan begitu deras setelah mengetahui apa yang telah terjadi pada diri mantan tunangannya itu dari Devano Wandani yang terdengar muak dan membenci sikap pengecut Bayu Putra Wijayakusuma.


Ruby yang mendengarkan percakapan antara suaminya dengan sepupu suaminya itu dari luar kamar tidur yang ditempat oleh Vivian Wandani merasa kasihan dan iba kepada Vivian Wandani yang malang.


"Dev, kenapa kamu bicara soal Bayu tanpa ada rasa sedikit kasihan terhadap Vivian Wandani sepupumu yang kau tahu bahwa sepupumu itu masih mencintai Bayu yang juga sepupumu? " tanya Ruby begitu Devano Wandani keluar dari kamar tidur Vivian Wandani.


"Supaya Vivian Wandani bisa membuka mata batinnya dan menutup masa lalunya dengan si Bayu berengsek itu. " jawab Devano Wandani menatap galak langit-langit ruangan keluarganya yang megah.


"Ehh.. Kau ini suka sekali memperkeruh keadaan dengan kata-kata kasar mu kepada orang yang sedang mengalami luka pada batinnya.. " kata Ruby menggeleng kepalanya lalu meninggalkan suaminya di ruang keluarga.


" Pablo. Apakah kau sudah mengirimkan email ku kepada si bodoh Eduardo Xi untuk lihat data saham perusahaan Lan pada pagi ini? " tanya Devano Wandani yang memanggil asisten rumah tangganya yang sangat terampil itu.


"Sudah, Tuan muda.. " jawab Pablo Neruda.


"Bagus.. Sekarang aku ingin lihat wajah tua si nenek Lan yang membeli sepupuku dengan cara menikahkan cucunya yang sakit jiwa kepada sepupuku yang tamak itu. " kata Devano yang membuka layar televisi internetnya secara live terhubung dengan keluarga Lan di kota Ningbo dan Eduardo Xi di kota Guangzhou.


"Devano Wandani.. Kurang ajar kauuuu...! " teriak Nyonya Lan yang melihat pasar saham resmi dari perusahaannya telah anjlok oleh tim hukum dan keuangan Devano Wandani sehingga wanita tua menjadi miskin dalam waktu tiga jam saja dalam perang keuangan dan perbankan dengan Devano Wandani.


"Dev.. Kau sudah gila, ya? Apakah kau ingin kami membongkar rahasia kelam mu yang bukanlah anggota keluarga Wandani yang sebenarnya? " ucap Angela Lan dari rumah sepupunya dengan nada tajam.


Bersambung!!