Hoshi, My Tiger

Hoshi, My Tiger
Bagas dan Safira di Hotel



Safira merasa terusik tidurnya ketika sebuah tangan mengusap-usap kepalanya dengan lembut. Rasanya seperti sang Daddy yang mengusapnya waktu kecil tapi karena kesibukan Nathan, Safira sudah tidak bisa merasakan lagi.


"Dad, masih ngantuk" gumam gadis cantik itu sambil menaikkan selimutnya.


"I'm not your daddy" bisik sebuah suara di sisi telinga Safira membuat gadis itu terkejut lalu berbalik dan wajahnya melotot tidak percaya melihat Bagas tersenyum smirk tanpa baju satu tempat tidur dengannya.


"Aaaahhh!" teriak Safira heboh dan tanpa sadar dirinya terlalu ke pinggir tempat tidur dan sebelum Bagas meraih tangannya, gadis itu terjatuh.


"Astaghfirullah! Fira!" Bagas tergopoh-gopoh turun dari tempat tidur langsung menghampiri istri cantiknya terjatuh.


"Aduuuhh! Sakit!" rengeknya sambil mengusap-usap pan*tatnya.


"Ya Allah, Fira. Kok ya bisa jatuh sih?" Bagas lalu menggendong tubuh langsing istrinya yang sempat terpekik terkejut tubuhnya terasa melayang.


"Oom..." Bagas mendelik. "Mas Bagas sih... Kan terkejut aku" ucap Safira sambil manyun.


Bagas meletakkan pelan tubuh berkulit putih itu pelan dan matanya menatap gaun tidur sederhana yang dikenakan oleh Safira.


"Kok bajunya yang ini?" tanya Bagas bingung.


"Lho emang kenapa?" tanya Safira bingung sembari masih mengusap pan*tatnya.


"Kok nggak dipakai yang aku kasih seserahan?" Bagas menempatkan tubuhnya di sisi Safira.


"Aku...lupa bawa" cengir Safira yang membuat Bagas memicingkan matanya judes.


"Kamu tuh!"Bagas lalu mendekati Safira.


"Eh si Oom...Eh mas Bagas mau apa?" tanya gadis itu panik.


"Lihat pan*tat kamu lah! Mana yang sakit?" Bagas memajukan tubuhnya untuk melihat bagian belakang tubuh istrinya dan dengan santainya dia menyibak gaun tidur Safira yang memperlihatkan pan*tat padat putih mulus itu mulai memerah.


"Ya ampun, jatuh gitu saja sampai merah begini?" kekeh Bagas yang tangannya mulai mengusap bongkahan padat milik Safira.


"Eh? Mas Bagas meshum!" protes Safira yang keberatan bagian tubuhnya dipegang oleh pria asing. Eh tunggu dulu. Pria asing ini kan suami aku? Jadi boleh kan pegang-pegang?


Tanpa diduga Safira, Bagas mencium pan*tat merah itu. "Biar cepat sembuh."


Safira melongo lalu tertawa. "Ih mana ada dicium langsung sembuh?"


"Ada lah. Yakin pasti sebentar lagi sembuh."


Safira menggelengkan kepalanya geli dengan teori Bagas. "Mas, harusnya itu digosok pakai thrombophob atau Vicks bukan diciumi gitu. Itu mah modus Oom-oom meshum saja."


Bagas mengikis jarak antara dirinya dan Safira hingga keduanya saling berhadapan satu sama lain. Mata biru kehijauan Safira tampak berkejap cepat secepat jantungnya berdebar-debar menatap mata hitam milik Bagas yang semakin sayu.


"Clumsyku yang cantik" bisik Bagas dengan suara serak.


"Hah?" Safira nyaris tidak mengenali suaranya sendiri.


"Kamu tahu, Fira. Aku tidak yakin bisa mendapatkan dirimu mengingat bagaimana ketatnya Opa Javier" ucap Bagas dengan tangan kiri mengusap rambut Safira sedangkan tangan satunya mulai membuka tali gaun tidur istrinya.


"Aku bukan pria baik sebelumnya, Fira tapi aku berusaha menjadi pria yang terbaik untukmu, menjadi suami, partner, dan calon ayah yang patut dibanggakan baik olehmu maupun anak-anak kita kelak."


"Anak-anak?" beo Safira yang tidak menyadari bajunya sudah terlepas entah kemana karena model baju tidurnya tali yang diikat di bahu.


"Iya anak-anak" ucap Bagas sambil mencium kening Safira lalu turun ke hidungnya dan terakhir bibirnya yang bewarna peach.


Bagas Melu*mat bibir manis itu dan melakukan French Kiss seperti yang mereka lakukan di Singapura tapi kali ini mereka sudah dengan status halal jadi tidak ada rasa takut maupun was-was kena grebek.


Sebagai mantan player, Bagas tahu bagaimana membuat seorang wanita bisa merasakan nikmat dan kali ini istrinya yang dia eksplorasi titik-titik sensitif nya.


"Mas Bagas" bisik Safira di sela-sela desa*Hannya.


"Apa sayang?" tanya Bagas diantara kecupannya.


"Aku..."


"Aku apa?"


"Aku suka diciumi seperti ini" bisik Safira dengan mata terpejam. Bagas tersenyum smirk.


"I love you Safira" bisik Bagas di sisi telinga istrinya.


Bagas pun mencoba memasukkan juniornya yang membuat Safira terkejut.


"Eh? Kok dimasukin?" protesnya panik.


"Iya dimasukkan dong Safira. Lihat, punyamu sudah sangat basah."


"Hah? Tunggu sebentar, aku harus memikirkan itu namanya proses... mmmppp" Bibir Safira ditutup dengan bibir Bagas dan gadis itu terkesiap ketika miliknya ditembus juniornya Bagas.


Tangannya mencengkram bahu Bagas hingga kuku-kuku cantiknya menusuk lengan suaminya.


"Gosh Safira! Aku suka punyamu" racau Bagas.


Safira mencoba menghirup oksigen banyak-banyak karena dirinya merasa sakit dan linu namun lama-kelamaan dia merasakan apa yang namanya inter*course. Suatu kenikmatan yang melepaskan serta meningkatkan dopamine, epinefrin dan endorfin.


Bagas tahu istrinya masih sangat polos jadi dirinya berusaha selembut mungkin namun melihat bagaimana seksihnya Safira, jiwa playernya keluar juga.


"Maaf sayang, tapi kamu seksih sekali" ucap Bagas parau dan mulai meng*hentak agak kasar.


Menjelang subuh itulah Bagas dan Safira melakukan unboxing tanpa ada gangguan dari para sepupu durjana Safira karena Bagas telah mematikan ponselnya dan ponsel Safira.


***


Safira terbangun dengan tubuh pegal-pegal apalagi subuh tadi, Bagas hanya memberikan waktu istirahat sebentar tapi setelah itu mereka melakukannya lagi.


Diam-diam Safira tersenyum smirk. Ada point plusnya punya suami mantan player sebab dia lebih pengalaman. Safira bahkan tadi belajar mengetahui dimana titik sensitif suaminya yang malah dia sebutkan bahasa latinnya di ilmu anatomi dan tentu saja membuat Bagas melotot saat Safira berada diatasnya.


"Safira! Kita itu sedang bercin*ta bukan di ruang kuliah anatomi apalagi bedah mayat!" omel Bagas sambil tertawa melihat wajah istrinya memerah.


"Kan sekalian belajar, mas" balas Safira manyun.


Safira tersenyum sendiri mendengar ucapan cinta dari suaminya yang galak, judes tapi menggemaskan.


Wajah cantik itu menoleh ke arah suaminya yang masih terlelap dengan damai sembari memeluk dirinya dari belakang sangat posesif.


Safira mengelus tangan kekar Bagas lalu mengambilnya dan mulai menciuminya. "Suamiku, Oom meshum dan pedofil" kekehnya.


"Hhhhmmmm" gumam Bagas di tengkuk Safira. "Meshum dan pedofil?"


"Lha kok sudah bangun? Ayo tidur lagi!"


Bagas terbahak. "Morning clumsyku."


"Afternoon Oom! Tuh dah jam 12 siang!" sungut Safira sambil menunjuk ke arah jam digital yang ada di nakas.


"Oom lagi?" pendelik Bagas. "Mau dihukum kamu?"


"Memang mau dihukum apa?"


"Mandi bareng!"


Safira melongo. "Modus bin Meshum!"


***



Si Clumsy



Duh Laki Orang


Yuuuhhuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️