Hoshi, My Tiger

Hoshi, My Tiger
Bima dan Yudha



Bima tiba di bandara internasional Dubai dua hari kemudian setelah mendapatkan kepastian bahwa Yudha akan kontrol esok. Bima meminta Hoshi untuk tidak mengatakan pada sahabatnya kalau dia akan datang memberikan support.


Hoshi dan Direndra lah yang menjemput di bandara jalur reguler karena Bima tidak mau memakai pesawat pribadi milik keluarga Giandra.


Hoshi menatap malas ke arah iparnya yang berjalan dengan gaya coolnya sedangkan Direndra hanya menggelengkan kepalanya melihat aura 'ngajak gelut' yang terpancar dari keduanya.



Pening ya dik Direndra. Sama!



Mas Bima pun pusing?



Sumber pusingnya?


"Muka cewek."


"Werkudara."


Direndra hanya menggelengkan kepalanya lalu ngeloyor meninggalkan kedua orang itu. Putra Aidan dan Thara Blair itu sudah biasa melihat keduanya ribut tidak jelas. Mereka hanya akur saat sedih saja pas para opa dan Oma berpulang.


Bahkan saat hendak Lebaran di Tokyo, Hoshi dan Bima bertengkar karena Bima ngeyel ingin ikut tapi dilarang Bara karena belum resmi bersama Arimbi meskipun sudah pacaran lama. Direndra, Alaric, Enzo dan Ayrton yang diceritakan oleh Thara, Paradina dan Sabine hanya bisa menepuk jidatnya.


Mereka berdua itu seperti Spongebob dan Squidward, Batman dan Joker, Superman dan Lex Luthor, Galia dan Romawi, Bugs Bunny dan Daffy Duck...


"Woooiii Rendra! Kagak Salim lu sama kakakmu ini?" teriak Bima cuek. Direndra yang sedang berjalan pun berhenti lalu berbalik.


"Ogah!" sahut Direndra cuek.


Hoshi pun terbahak melihat wajah manyun Bima. Ketiga pria tampan itu pun menuju mobil Range Rover Direndra dengan diikuti beberapa pengawal.


***


"Gonorrhea dan Klamidia? Are you fu*king serious?" Bima melotot ke arah Hoshi saat mereka berada di ruang makan. Direndra sendiri setelah mengantar kedua kakaknya, harus kembali ke istana Al Azzam untuk menyelesaikan tugasnya sebagai Emir.


"Dua rius cumi!" balas Hoshi sebal.


Rina dan Benji yang duduk di meja makan hanya memandang kedua pria yang bisa dibilang jarang akur dan ngobrol manis satu sama lain.


"Astaghfirullah Al Adzim, Hoshi. Kok bisa temanmu kena penyakit mengerikan itu?" tanya Tamara sambil mengelus dadanya.


"Dia bukan teman aku, Oma tapi teman si Werkudara ini" tunjuk Hoshi ke Bima.


"Kok bisa sih teman kamu salah gaul begitu? Terus kalau sudah sakit, siapa yang susah? Malah teman-temannya yang bukan satu gerombolannya kan yang membantunya?" sarkasme Fatimah. "Kayaknya Oma harus turun tangan buat konseling dia deh!"


"Iya Oma. Konseling saja dia! Kan Oma psikolog ... eh tapi Oma juga nggak bisa menghandle Tante Sabine buat nggak bar-bar ya" gumam Hoshi dengan wajah datar.


Fatimah menggetok kepala Hoshi dengan sendok sayur yang dipakai untuk menyendok kuah kari kambing.


"Duh Omaaaa! Rambut Hoshi kena kuah kari ini!" protes pria cantik itu.


"Makanya kalau punya mulut dijaga, Quinn!" omel Fatimah yang memang duduknya dekat Hoshi.


"Sekarang aku tahu Tante Sabine bar-barnya dari siapa. Untung Ayrton ka... Aduuuhh!" Bima pun mendapatkan pukulan yang sama dari Fatimah.


"Benar-benar deh kalian berdua itu. Sekarang, mandi kalian! Rambut kalian bau kari!" perintah Fatimah judes.


"Kan Oma yang bikin kita begini!" seru Hoshi dan Bima bersamaan.


Benji hanya menggelengkan kepalanya sambil melanjutkan makan siangnya sedangkan Rina cekikikan melihat keributan di meja makan. Tamara hanya bisa tertawa melihat kakak iparnya heboh sendiri dengan para cucunya yang tampan-tampan.


***


Yudha terkejut melihat Bima datang bersama dengan Hoshi di jam jadwal pemeriksaan dengan dokter Atifa Syarief.


"Kok...elu kesini Bim?" tanya Yudha tidak percaya namun Bima hanya memeluk sahabatnya.


"Kamu sakit masa aku tidak menemani?" jawab Bima dengan mata sedikit basah.


"Bim...jangan peluk aku. Nanti kamu ketularan" bisik Yudha. "Ingat Arimbi sedang hamil."


Bima mengurai pelukannya. "Nanti gue kungkum di bathtub pakai Dettol tiga botol!"


Hoshi memutar matanya malas. Kungkum? Lu kira kebo kungkum?


.


"Alhamdulillah sehat, boy ku juga cuma aku curiga. Apa gue yang batin si muka cewek itu atau jeng Arimbi darting sama aku ya, kok ngidamnya makan yang pedas-pedas."


"Kalau anak lu kayak gue, bakalan gue ucap syukur Alhamdulillah soalnya yang ngeroyok elu bisa tag team" seringai Hoshi.


"Ipar lucknut!" umpat Bima.


"Sapa suruh nikah sama adik gue?"


Yudha tertawa. "Kalian itu kapan akurnya?"


"Nggak bakalan!" ucap Hoshi dan Bima berbarengan.


Seorang suster mendatangi ketiga pria itu dan akhirnya perdebatan Hoshi dan Bima terhenti karena mereka harus masuk ke ruang praktek dokter Atifa.


***


"Wah, suatu kehormatan bagi saya hari ini bertemu anggota keluarga Al Jordan" senyum dokter Atifa. "Saya dokter Atifa Syarief. Anda adalah tuan..."


"Bimasena Hendrawan Baskara. Saya ipar dari Paramudya Quinn." Bima mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya saat bertemu dokter cantik berhijab itu.


"Selamat datang ke Dubai tuan. Apakah tuan Bimasena ada hubungan dengan tuan Yudha?"


Bima tergelak. "Bukan hubungan yang ada di bayangan dokter lho!" Wajah dokter Atifa memerah. "Yudha adalah sahabat saya dari SMA dan saya sudah bilang pada Hos... Quinn kalau Yudha bersedia berobat, saya akan menemani sahabat saya itu di Dubai."


Dokter Atifa mengangguk. "Saya sangat salut dengan persahabatan anda dengan tuan Yudha."


"Yudha lah yang ada di sisi saya disaat masa terpuruk saya waktu remaja. Jadi saya bisa dijitak istri saya jika saya tidak membalas Budi Yudha terlepas dengan apa yang dilakukannya. Soal kehidupan sek*sual Yudha, itu memang dia sendiri yang memilih dan itu privacy dia. Saya hanya melihat Yudha sebagai sahabat saya dimasa susah dan bahagia remaja kami."


Hoshi melirik ke arah Bima yang tampak serius.


"Jadi dokter Atifa, bagaiamana kans sembuhnya Yudha? Saya berharap sahabat saya bisa sembuh dan sehat kembali."


"Saya buka ya tuan hasil test laboratorium nya. Seperti yang anda lihat, amplopnya masih bersegel." Dokter Atifa memperlihatkan amplop dengan logo laboratorium rumah sakit.


"Iya dok" ucap Yudha lemah.


"Saya buka ya gentlemen." Dokter Atifa mengambil pisau pembuka amplop dan mulai membuka sampul itu lalu mengambil kertas di dalamnya. Wajahnya tampak serius dan sendu saat membaca hasilnya.


"Bagaimana dok?" tanya Bima dengan wajah tegang.


"Seperti yang sudah saya duga, gonorrhea dan Klamidia tapi..."


"Tapi apa dok?" tanya Yudha tegang.


"Anda juga mengidap infeksi jamur kelamin stadium awal."


Yudha tampak lemas. Bima dan Hoshi hanya bisa melongo.


"Sudah ya Yudha. Berhenti! Semua penyakit kok kamu borong! Borong tuh emas, berlian, saham, bukan penyakit!" ucap Bima sarkasme. "Tapi bisa sembuh kan dok?" Bima menatap dokter Atifa.


"Insyaallah tuan Bimasena karena ini semua untungnya baru gejala tahap awal. Apakah tuan Yudha saat berhubungan menggunakan kon*dom?" tanya Dokter Atifa.


"Saya selalu memakai kon*dom dok."


"Untungnya itu setidaknya masih terlindungi meskipun anda tetap saja tertular. Siapa partner terakhir anda? Karena bisa jadi dia juga mengalami penyakit yang sama."


Yudha menatap ketiga orang disana lalu sambil berbisik dia berkata "Prince Kamil bin Abdullah."


Dokter Atifa terkesiap. "Astaghfirullah Al Adzim."


Hoshi hanya bisa mendelik mendengar ucapan Yudha sedangkan Bima menatap mereka semua bingung.


"Siapa itu prince Kamil bin Abdullah?"


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Maaf ceritanya agak berbau medis


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️