Hoshi, My Tiger

Hoshi, My Tiger
Freya dan Hoshi



Hoshi dan Taufan sedang mengawasi para pekerja yang membongkar ruang kerjanya. Setelah Arimbi dan dirinya melakukan perjanjian renovasi, baru semua dilaksanakan. Hoshi mengakui bahwa adiknya itu memang memiliki jiwa seni dan artistik meskipun background pendidikannya bukan dari desain grafis ataupun arsitektur.


Meskipun sekitarnya sedang melakukan pekerjaan, Hoshi dan Taufan tetap bekerja di meja milik asistennya.



Introducing Taufan Abisatya


"Pak Quinn, ini proyek terakhir yang dipegang oleh pak Julian." Taufan menyerahkan sebundel berkas ke Hoshi.


Hoshi pun duduk di kursi tempat biasa tamu datang sambil memeriksa berkas itu dengan teliti.


"Ini proyek akan berjalan bulan depan, Fan?" tanya Hoshi.


"Iya pak. Semua sudah siap pak, tinggal kita mulai bekerja pada tanggal yang sudah disiapkan karena harus menyelesaikan proyek yang di Bandung dulu agar tetap fokus dan kwalitas terjamin."


Hoshi mengangguk dan mulai membaca berkas itu kembali.


"Fan, ini perhitungan sudah bener?" tanya Hoshi.


"Sudah pak. Sudah kami hitung semua."


Hoshi mengambil kalkulator yang ada di meja Taufan lalu mulai menghitung semuanya.


"Aku bukannya tidak percaya Fan, tapi ini proyek kan diserahkan kepadaku dari Pak Julian. Jadi aku harus tahu isinya luar dalam."


Taufan mengangguk. "Iya pak, saya paham."


Hoshi pun tersenyum smirk setelah melihat kalkulasinya sama dengan yang ada disana ditambah dirinya mencari info semuanya. Proyek bernilai besar di Surabaya itu tidak boleh main-main karena mempengaruhi nama Giandra Otomotif Co.


Surabaya kan ada Oom Mark Neville di PRC group sana. - batin Hoshi yang langsung mengambil ponselnya.


"Wa'alaikum salam, Frey. Kamu dimana?"


" ... "


"Kamu kesini deh! Ke kantornya Oom Bara. Aku pengen ngobrol soal kerjaan."


" ... "


"Oke. Gue tunggu."


Hoshi mematikan panggilannya lalu mulai bekerja dengan Taufan membahas proyek lainnya.


***


Seorang gadis cantik berambut pirang panjang, memiliki tubuh sintal itu datang ke kantor milik Bara Giandra. Resepsionis pun memberikan akses ke gadis itu setelah memperlihatkan id card PRC group miliknya.


Gadis itu masuk ke dalam lift dan memencet tombol yang menunjukkan angka lantai tempat sepupunya yang memiliki wajah cantik tapi bermulut pedas.


Keluar dari lift, banyak orang yang menatap dirinya dengan tatapan kagum, heran dan bingung.


Bule dari mana ini?


"Hoshiiii!" teriaknya ketika sampai di ruang kerja sepupunya yang berantakan.



Hoshi hanya menghela nafas panjang mendengar suara cempreng itu lalu keluar dari ruang tersembunyi nya.


"Bisa kagak sih kamu nggak teriak-teriak manggilnya?" sungut Hoshi kesal.


"Eh mulut cabe, ini tuh lagi ramai dak dok dak dok! Kalau gue kagak teriak, ya kagak dengar kan dirimu!" balas gadis cantik itu. Memang ruangan Hoshi sedang berantakan dengan beberapa tukang disana.


"Udah, yuk ke meja Taufan" ajak Hoshi sambil merangkul gadis bule itu.


Gadis itu pun menurut kemana sepupunya menghelanya.



"Frey, Oom Mark Neville di Surabaya kan?" tanya Hoshi.


"Iya, Oom Mark disana. Kenapa kah?"


"Giandra ada proyek di Surabaya bulan depan dan aku yang bertanggung jawab. Jadi aku rasa sekalian mampir lah!"


"Hubungi Oom Mark saja, Hosh, biar kamu paham situasi dan kondisi Surabaya" ucap Freya Sky Lexington.


"Nanti aku akan hubungi."


"Jadi elu manggil gue kesini hanya mau omongin itu?" selidik Freya.


"Nggak lah! Gimana nikah? Masih pengen cari hantu lagi?" ledek Hoshi mengingat sepupunya itu suka sekali mencari hantu.


"Peralatan mencari hantuku nganggur soalnya Haris tidak mengijinkan aku hunting. Bilang saja dia jirih!" adu Freya.


"Lagian kamu tuh ya aneh-aneh hobinya. Makanya Opa Javier kasih kamu Haris yang penakut biar kamu mikir ulang kalau mau cari hantu!"


"Eh tapi tho Hosh, Opa Javier itu t.o.p b.g.t kasih aku jodoh kok ya ngepasi" kekeh Freya.


"Ngepasi gimana?"


"Kamu tahu kan semua sepupu pria aku thow badannya aduhai semua tapi paling aduhai itu badannya Haris. Perutnya? Beuuddd, roti gembong lewat! Ginuk-ginuk alot gitu, padat dan jelas."


Hoshi melongo mendengar penjelasan Freya yang tanpa filter itu.


"Satu hal yang pasti, Haris itu halal untuk di pelukable, sentuhable, cipokable dan boingable" cengirnya. "Enak banget! Makanya, kamu Ndang nikah, Hosh. Kata Haris, kalau aku sudah boing-boing diatas dia itu enak banget!"


Taufan langsung menutup telinganya dengan airpods tidak mau mendengar ucapan unfilter dan minus akhlak dari sepupu atasannya.


"Kalau ngomong itu dipikir dulu, Freyaaaa!" ucap Hoshi sambil menoyor dahi gadis itu. "Mulut kok meshum!"


Freya terbahak. "Habis enak Hosh. Sumpah!"


***


Rina sedang bekerja di toko karpet milik keluarganya yang berada di plaza Senayan. Awalnya Rina ingin bekerja di salah satu perusahaan milik keluarganya Arimbi sahabatnya tapi kedua orangtuanya meminta agar dirinya meneruskan bisnis karpet yang sudah dijalani turun temurun.


Ketika sedang mengawasi para pekerjanya, ponselnya berbunyi dan bibir gadis itu tersenyum. Terjadi percakapan antara keduanya dan pada jam makan siang, Rina pun memilih makan di luar tokonya untuk menemui seseorang yang menelponnya.


Gadis itu memakai blus bewarna putih bergaris hitam dan jaket wool bewarna abu-abu bergegas menuju restauran yang dituju.



Tak lama dirinya melihat sesosok pria yang selama ini dia rindukan. Wajah cantiknya pun semakin sumringah.


"Yudha" sapanya.


"Halo, sayang. Apa kabar? Aku rindu padamu." Yudha pun mencium pipi Rina tanpa menyadari bahwa ada seseorang yang melihat interaksi keduanya. Orang itu pun mengambil ponselnya.


"Halo? Mr Quinn. Nona Rina bertemu dengan tuan Yudha."



Rivalnya Hoshi, bang Yudha.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️