Hoshi, My Tiger

Hoshi, My Tiger
Aku Akan Ada Disisimu



Kediaman Kareem...


Bima dan Arimbi beserta Bara dan Arum datang ke acara lamaran Yudha dan Rina. Tidak banyak yang diundang oleh Abrisam dan Chitra Kareem di acara ini, karena hanya keluarga dan sahabat dekat.


Arimbi sendiri bingung kenapa harus terburu-buru Yudha melamar meskipun dia sudah tahu ceritanya dari Freya yang langsung auto ghibah sesampainya di kantor.


Bima sendiri juga merasa Yudha terlalu terburu memutuskan segala sesuatu hanya karena tidak mau ditikung oleh Hoshi. Meskipun sebal dengan iparnya itu, tapi Bima tahu kalau Hoshi serius dengan Rina. Tapi kalau bukan jodoh mau digimanakan tetap saja tidak bersatu.


"Si muka cewek masih di Dubai?" bisik Bima ke Arimbi sambil mengelus perut Arimbi yang mulai tampak membuncit. Kehamilannya sudah akan masuk trisemester kedua dan Bima serta Bara menjadi jauh over protective ke bumil cantik itu.


"Masih. Lagi urusan bisnis sama Rendra dan Ayrton" balas Arimbi dengan berbisik pula.


"Apakah menurutmu dia akan menyerah?" Bima menatap istrinya.


"Hoshi? Menyerah? Satu-satunya dia menyerah itu saat dia salah jurusan masuk ke Harvard business school Dan memutuskan pindah ke MIT."


Bima tampak berpikir. Apa yang direncanakan lambe cabe itu?


Arimbi lalu menepuk paha suaminya untuk berkonsentrasi mengikuti acara lamaran Yudha dan Rina. Bumil itu melihat wajah sahabatnya tampak tidak terlalu semangat menerima lamaran kekasihnya hampir tujuh bulan ini.


Kalau tidak mau lamaran sekarang, harusnya kamu minta ditunda lah Rin - batin Arimbi.


Malam itu acara lamaran Yudha dan Rina sudah dilaksanakan dan rencananya mereka akan melangsungkan pernikahan bulan depan, seminggu sebelum Yudha kembali bekerja di Dubai dan Rina pun akan ikut bersamanya.


***


Istana Al Azzam, Dubai


"Jadi Rina dan tukang gali kubur akan menikah tiga Minggu lagi?" tanya Hoshi setelah mendapatkan panggilan telepon membuat kedua adik sepupunya menatap bingung.


"Ay, si babang kenapa itu mukanya makin durjana ya?" bisik Rendra ke sepupunya yang hanya beda empat bulan.


"Kayak kamu nggak hapal kelakuan bang Hoshi saja" jawab Ayrton cuek.


"Oke. Thanks." Hoshi mematikan panggilannya lalu menatap ke kedua sepupunya yang tampan. "What?"


"Bang, elu serius mau nikung?" tanya Rendra. Pria lulusan Harvard business school itu memang sejak lulus langsung menemani Eyang Hasyim dan Eyang Aisyah mengurus semua pekerjaan dan bisnis milik Al Azzam sebagai persiapan menjadi Emir nantinya.


"Sejak kapan Hoshi Paramudya Quinn Reeves tidak pernah serius? Bahkan ngatain orang pun serius" sahut Hoshi cuek.


"Astaghfirullah! Abang tuh!" ucap Ayrton sambil menggelengkan kepalanya.


"Gue heran sama elu bang. Kayak nggak ada cewek lain dah. Secara nih ya, banyak yang ngantri mau sama elu bang. Coba deh teman-teman kuliah elu, atau nggak temen kuliahnya Fay, Dhita sama Fira. Pasti langsung auto mau sama elu..." ucap Rendra.


"Selama elu nggak buka mulut saja" sambung Ayrton.


"Memang kenapa kalau Abang buka mulut?"


"Keluar dragon breath nya!" gelak dua orang itu yang membuat Hoshi manyun.


"Apa sih yang bikin elu ngejar-ngejar Rina? Soalnya kata Arga n mbak Rimbi, kalian tuh kayak Tom and Jerry, Spongebob dan Squidward..."


"Batman dan Joker" sahut Ayrton yang membuat kedua orang itu melotot. "Eh salah, Bruce Wayne dan Selina Kyle aka Batman dan Cantwoman."


"Tony Stark dan Pepper Potts" sambung Rendra. "Ron Weasley dan Hermione Granger..."


"Sudah woiii... Semua kamu sebutin!" potong Hoshi.


"Shinichi Kudo dan Ran Mouri" gumam Ayrton.


"Knock it off!" Hoshi mendelik. "Kalian tuh bacaannya harusnya Mahabarata atau Ramayana gitu!"


"Malas! Pusing menghapal semua tokoh" ucap Rendra.


"Eh bagus tahu!" bantah Hoshi.


"Oke bang, kembali ke topik. Abang jangan bikin perkara lho ya! Jangan bikin skandal!" pinta Ayrton.


"Skandal? Skandal apa?" Hoshi pun berdiri lalu ngeloyor masuk kamarnya.


"Woooiii bang!" teriak Rendra kesal diacuhkan oleh kakak sepupunya. "Ay! Kita harus cari tahu apa yang direncanakan mulut cabe itu!"


Ayrton hanya mengedikkan bahunya. "Gue gak mau ikutan, Ndra."


"Aarrgghhh! Aku bisa dimarahi Daddy ini kalau bang Hoshi bikin perkara!" teriak Rendra frustasi.



Direndra Al Azzam Blair



***


Rina menatap langit-langit kamarnya lalu melihat cincin berlian di jari manisnya. Apakah aku sudah resmi bertunangan? Tapi kok rasanya ada yang salah. Tidak, tidak, aku mencintai Yudha... Tapi kenapa rasanya kosong? Apa karena tidak melihat si muka pucat disana ya?


Gadis itu memang mengirimkan undangan acara lamaran ke Hoshi via WhatsApp dan DM Instagram tapi balasan pria itu malah membuat dirinya dongkol.


Selamat tapi aku malas datang karena masih di Dubai. Kamu pikir apa nggak jetlag harus datang ke acara tidak penting?


Rasanya Rina ingin membanting ponselnya ketika membaca jawaban pria songong satu itu. Brengsek kau Hosh!


Gadis itu lalu mengambil ponselnya yang berada di nakas dan mulai membuka akun Instagram milik keluarga Pratomo. Rina melihat keuwuan pasangan Rajendra dan Aruna, yang sudah bersama sejak TK. Tampak juga Bima dan Arimbi yang pamer makan nasi liwet Solo, Rama yang mengajak dinner Tuti sahabat Falisha, Freya yang ngerjain Haris dengan memberikan coretan di wajahnya.


Rina cekikikan sendiri melihat kelakuan saudara-saudara Arimbi. Diluar keluarga, hanya Rina dan Tuti yang mem-follow dan difollow oleh keluarga Sultan itu. Rina dan Tuti pun menutup akses dengan memprivatisasi akun Instagram mereka.


Dilihatnya akun Instagram milik Hoshi. Wajahnya memerah melihat bibir bewarna merah itu yang sengaja dibuat manyun, membuatnya teringat adegan ciuman di parkiran hotel.



📸 By Direndra


Ya ampun tuh bibir! Pengen aku kruwes! Rina lalu melakukan gerakan dengan tangannya seperti hendak mengkruwes bibir Hoshi di layar ponselnya.


Tiba-tiba ponselnya berdering membuat Rina terkejut dan menjatuhkan ponselnya tepat di dahinya.


"Aduuuhh! Benjol nih!" umpatnya sambil mengusap dahinya. "Siapa yang telpon?"


Rina menggeser tombol hijau tanpa melihat siapa yang menelpon karena sibuk mengusap dahinya.


"Assalamualaikum cewek Arab" sapa suara itu.


Rina mendelik tidak percaya bahwa si mulut cabe itu melakukan video call. Untung aku pakai kaos meskipun tanpa lengan, bukan lingerie atau daster seksih.



"Apa muka pucat?" tanya nya judes.


"Jidat lu kenapa?" tanyanya sambil memperhatikan warna merah di dahi Rina.


"Ketiban ponsel."


"Kaget aku telpon?" tanya Hoshi. "B aja Rin. Atau jangan-jangan kamu lagi lihat foto aku di Instagram terus kaget aku main telpon?"


Rina melongo. Kok dia bisa tahu.


"Ada apa telpon, muka pucat?" sahut gadis itu masih dengan nada judes.


"Kamu senang dilamar?" tanya Hoshi serius.


"Senanglah!" Kayaknya.


"Kalau kamu merasa ragu, mundur lah Rin."


Apa-apaan? "Kamu kok gitu sih Hosh? Yudha pacar aku, jadi wajar dong kita naik tingkat ke jenjang yang lebih serius."


"Aku hanya tidak ingin kamu kecewa saja, Rin. Aku katakan ini karena aku eman kamu, aku sayang kamu Rin."


Mulut Rina semakin menganga. Is he serious?


"Hoshi..."


"Ingat ucapanku. Jika ada apa-apa, aku akan selalu ada di sisimu."


Entah kenapa aku merasakan sesuatu buruk akan terjadi.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️



Bonus Bang Hoshi Lagi