
Sarita menatap judes ke arah Rina. Sial! Gadis ini tidak mudah diintimidasi! Wajahnya menjadi memerah menahan amarah dan kemudian dia bergeser menuju tempat sholat yang sudah disiapkan ibunya.
Kalau tahu Tante Yanti dan Oma Ayame datang, harusnya aku bisa duduk diantara dua wanita kesayangannya Quinn. Kenapa gadis itu bisa hadir sih? Apa keistimewaan cewek yang wajahnya nggak ada Indonesia nya gitu!
Yanti yang melihat perubahan wajah Sarita yang 11-12 dengan ibunya, hanya tersenyum tipis. Rina yang sudah membenarkan duduknya setelah sempat menghadap ke belakang demi menghadapi penampakan demit di masjid.
"Harusnya tadi aku bacain ayat kursi ya Tan" bisik Rina ke Yanti. Gadis itu duduk diantara Ayame dan Yanti.
Yanti cekikikan. "Kata Ayrton di grup, pas Hoshi di Dubai dibacakan ayat kursi ya?"
"Lha kita kan tahu kalau Hoshi jarang halus mulutnya makanya kemarin pas dia sok bijak, langsung pada siyok. Sampai-sampai Direndra dan Benji mengira Hoshi ketempelan Jin iprit."
Yanti tertawa pelan. "Ya ampun, anak gantengku dianggap jin."
Ayame yang mendengar Rina berbicara soal Hoshi dikerjain oleh adik-adiknya di Dubai ikut tertawa.
"Kawaisōna mago ( Kasihan cucuku )" bisik Ayame ke Rina.
"Watashi wa chigaimasu ( Aku nggak )" balas Rina usil.
Ayame melirik geli ke Rina. "Memang kamu cocok sam Hoshi. Sama-sama usil!"
Tak lama imam masjid mengumumkan akan segera dilaksanakan sholat tarawih dan semua jamaah disana pun berdiri untuk beribadah.
***
"Mas Quinn" panggil pak Lukman ketika melihat Hoshi sedang menunggu Oma, ibu dan Rina sedangkan Eiji dan Levi masih mengobrol dengan para bapak-bapak tetangga.
"Ada apa pak Lukman?" balas Hoshi ramah.
"Mas Quinn, apa benar sudah punya pacar?" tanya pak Lukman.
"Iya pak. Memangnya kenapa?"
"Wah, sayang banget padahal mau saya jodohkan dengan putri saya, Sarita."
Hoshi berusaha mengingat siapa itu Sarita. "Yang mana ya pak?" Bagi Hoshi, perempuan yang harus diingat hanyalah para Oma, para Tante, para sepupu perempuannya, sahabat sepupu perempuannya dan pelayan di rumah. Di perusahaan saja Hoshi hanya mengingat beberapa karena sering bertemu di ruang meeting.
"Ya ampun, mas Quinn itu gimana sih? Itu dia, Sarita, putri saya." Lukman menunjukkan seorang gadis yang tampak menempel dengan Yanti dengan mencoloknya sedangkan Rina dengan santainya berjalan bersama Ayame.
"Oh yang dandanannya menor kayak dakocan padahal cuma mau tarawih itu? Yang nempel-nempel sama mama saya itu?" ujar Hoshi sarkasme.
Pak Lukman sedikit terkejut mendengar ucapan tanpa filter Hoshi tapi dirinya mengakui sih putrinya memang menor dandanannya.
"Iya mas Quinn. Itu Sarita putri saya."
Hoshi menoleh ke arah pak Lukman. "Maaf, pak tapi saya tidak berselera."
Pak Lukman tampak tidak suka mendengar ucapan pedas Hoshi. "Mas, itu putri saya."
"Saya tahu dan saya bukan orang yang suka basa basi. Jika saya tidak suka dan tidak tertarik, saya akan mengatakan apa adanya. Maaf jika tersinggung tapi bapak lihat sendiri. Apa anda sebagai orang tua tidak bisa menegur putri bapak untuk bersikap dan bermake-up sewajarnya. Lihat, dengan mama saya saja tuaan putri bapak wajahnya dibanding mama saya padahal mama saya tidak pakai make up dan usianya hampir 50 tahun!" Hoshi tersenyum melihat Rina menggandeng Ayame menghampiri dirinya.
"Pak Lukman" sapa Ayame ramah dan tahu jika pria itu habis kena serangan sambal dari mulut cucunya.
"Bu Ayame." Pak Lukman mengatupkan kedua tangannya di depan dada. "Siapa ini Bu?" tanyanya sambil menunjuk ke arah Rina.
"Oh ini Rina Kareem, pacarnya Quinn" senyum Ayame. "Rin, perkenalkan ini pak Lukman, imam mesjid sini."
"Assalamualaikum pak" sapa Rina ramah.
"Wa'alaikum salam."
"Sudah sholat nya sayang?" sapa Hoshi sambil meminta sajadah dan mukena yang dibawa Rina.
"Kok diminta sajadahnya?" tanya Rina bingung.
"Biar kamu gandeng Omanya nggak kerepotan. Lagian tadi kok nggak bawa tas sekalian sih?" sungut Hoshi judes.
"Kamu sudah ketularan si ceroboh!" umpat Hoshi.
"Mas Quinn!" panggil Sarita dengan wajah tersenyum.
"Siapa kamu?" tanya Hoshi dengan wajah datar.
"Ih mas Quinn gitu deh! Aku Sarita anaknya pak Lukman. Gimana sih?" kekeh Sarita genit.
"Oh maaf, aku nggak ingat nama perempuan lain selain keluargaku" sahut Hoshi cuek yang membuat Yanti mendelik.
Astaghfirullah anakku! Mulut nya mbok ya jangan judes-judes tho!
"Mas Quinn, jangan gitu lah! Teganya sama tetangga sendiri" sahut Sarita masih dengan gaya centilnya.
"Ngomong-ngomong kamu umur berapa sih?" tanya Hoshi to the point.
Ayame dan Rina sudah merasakan bahwa si mulut cabe ini bakalan bikin drama.
"Kenapa memangnya? Aku 24 tahun mas. Pas kan sama mas Quinn yang mau 26, beda dua tahun itu ideal."
"Pas buat apa?" tanya Hoshi sambil mendekap sajadah miliknya, Ayame dan Rina di dada.
"Pas buat rumah tangga lah!"
Rina melongo tidak percaya. Ada ya cewek kepedean begono.
"Iya lho mas Quinn. Sarita juga sudah kerja di bank Arta Jaya, gajinya juga besar. Kan bagus suaminya pengusaha istrinya bekerja di bank besar" timpal Bu Lukman.
Yanti yang sekarang mendekati Ayame dan Rina ikut terkejut mendengar ucapan tetangganya itu.
"Bank Arta Jaya?" seringai Hoshi.
"Iya mas. Saya lihat kalian pantas lho bersanding" ucap Bu Lukman tanpa malu.
Ayame dan Yanti nyaris tertawa mendengar ucapan super pede wanita bertubuh gemuk itu.
"Pantas bersanding? Maaf Bu Lukman, jika memang putri anda berusia baru 24 tahun, kenapa wajahnya dengan wajah mama saya masih mudaan mama saya?" ucap Hoshi judes. "Anda lihat saja, berapa dempul foundation, concelar dan berbagai macam te*Tek embrek lainnya dipasang semua di muka putri ibu!"
"Hoshi" bisik Yanti ke putranya.
"Saya tekankan ya Bapak ibu Lukman yang terhormat, saya tidak pernah tertarik dengan wanita lain karena saya sudah lama mencintai seorang gadis dan ini lah gadis yang akan menjadi calon istri saya. Dia bukan gadis centil, manja dan menor seperti putri ibu. Dan saya tidak suka melihat bagaimana orang tua seperti makakke anaknya ke seorang pria. Mboten patut!" tandas Hoshi.
Rina menatap tidak percaya bagaimana Hoshi mengatakan pada semua orang bahwa dirinya sudah lama mencintainya.
"Dan saya minta kamu berdandan lah sesuai usia kamu! Ngelihat kamu seperti ini macam aku lihat dakocan, tahu nggak!" Hoshi menatap dingin ke Sarita. "Jika kamu bersikap natural, tidak dibuat-buat dan tidak mentel, akan banyak pria yang tertarik sama kamu tapi bukan saya. Tapi kalau kamu bersikap seperti tadi, orang hanya melihat leher kebawah bukan dari atas kepala ke bawah. Paham kan maksudku?"
Semua orang-orang disana terbengong-bengong mendengarkan ucapan Hoshi karena banyak sebenarnya yang tidak suka bagaimana keluarga Lukman memuji-muji kecantikan putrinya padahal dalam hatinya membenarkan ucapan Hoshi tapi tidak berani bersuara.
"Oh Asal kalian tahu, Direktur Utama bank Arta Jaya adalah calon ipar aku." Hoshi tersenyum smirk.
Sarita melongo. Pak Bagas yang dingin itu akan menjadi ipar Quinn.
***
Makkake itu artinya memberikan makan tapi dalam hal ini maksudnya Hoshi mengumpankan atau menumbalkan.
Yuhuu Up Pagi Yaaaa
Maaf Hoshi judes banget
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️