Hoshi, My Tiger

Hoshi, My Tiger
Berkelahi



Javier mengangguk. "Apakah kamu mencintai Safira?"


Bagas menatap Javier. "Saya..." Bagas menelan salivanya susah payah. "Saya belum tahu" ucapnya pelan.


Plak!


Bagas memegang kepalanya yang terkena pukulan buku yang dibawa Javier dan buku itu lumayan berat. Bagas hanya bisa menghela nafas panjang. Lagian malah bawa novelnya Tom Clancy, kan tebal itu. Wassalam otakku rusak dikit ini.


"Kok kamu belum tahu!" hardik Javier gemas.


"Saya belum tahu karena saya baru dekat dengan Safira juga akhir-akhir ini. Saya tidak mau memaksa Safira juga Opa. Biarkan waktu yang menjawab perasaan saya dan Safira. Jika kami berjodoh, maka cepat atau lambat kami akan bersama juga. Dan saya bersyukur diberikan restu bila diijinkan bersama Safira."


Javier menatap Bagas intens.


"Hhhhmmmm. Masuk akal. Yang jelas Bagas, aku melihat kamu mulai banyak berubah. Bukankah aku pernah bilang Jika kamu bisa konsisten dengan hijrah kamu dan memang kamu ada jodoh dengan salah satu cucu perempuan saya, mungkin kami akan berubah pikiran."


Bagas tersenyum. "Terimakasih Opa tapi seperti saya sudah bilang tadi biarkan waktu yang menjawabnya."


"Jangan lama-lama!"


"Memang kenapa Opa?"


"Akhir bulan ini sudah mulai puasa ramadhan, lalu lebaran. Paling tidak, habis lebaran sudah ada kepastian kalian berdua."


Bagas melongo. "Why Sir?"


"Aku suka acara pernikahan" cengir Javier.


Oh Boy!


Flashback End


"Jadi, Opaku yang belagak buka biro jodoh itu mengijinkan Oom-oom meshum macam kau mendekati adikku yang ceroboh?" Hoshi memicingkan matanya.


"Aku sudah tobat Quinn!"


"Tapi kamu maunya sama anak kecil. Bukankah itu meshum? Pedofil?"


"Astaghfirullah! Safira sudah 21 tahun! Bukan anak kecil!" hardik Bagas sebal. Bakal apaan ini aku punya ipar macam dia!


"Hhmmm. Kalau Opa Sok Tukang Jodohin orang itu sudah kasih lampu hijau, ya sudah. Kamu jalani."


Bagas tersenyum. "Thanks Quinn. Oh by the way, si mantannya Rina punya aib apa?"


"Aib yang membuat Rina bersyukur belum menjadi istrinya si tukang gali kubur!" cebik Hoshi.


"Melihat wajah mu yang judes itu, aku yakin pasti parah."


Hoshi menatap Bagas. "Yang jelas aibnya dia lebih parah dari kelakuan kamu, Gas."


Bagas melongo. Gue udah parahnya kayak gitu, ini ada yang lebih parah? Pantas Quinn sumbut mencari aib Yudha. Pria ganteng itu hanya menatap bingung ke Hoshi.


***


Hoshi berjalan dengan langkah santai menuju Audi R8 nya dan ketika dia hendak masuk ke dalam mobil, sebuah suara membuatnya menoleh. Area parkiran basement Giandra Otomotif Co memang sudah sepi karena Hoshi memutuskan lembur setelah makan malam bersama Bagas tadi di ruangannya.


"Quinn!"


Hoshi membalikkan tubuhnya dan melihat ada empat orang preman mendatanginya. Pria cantik itu melirik bahwa tidak ada mobil lain selain mobilnya yang berarti semua orang sudah pulang.


"Ada apa?" tanya Hoshi tenang.


"Ada salam dari Yudha."


"Kenapa tidak dia sendiri yang datang memberikan salam padaku?" balas Hoshi yang melirik kamera CCTV terpasang di berbagai sudut basement parkir.


Pada kemana sih satpam-satpamnya? Awas esok aku tatar semuanya !


"Yudha tidak perlu hadir!"


Ya ampun, aku hajar kemarin masih belum kapok?


"Terus kalian pada mau ngapain? Mau hajar aku? Sini maju!" Hoshi mengambil kuda-kuda untuk menghadapi empat preman itu. Tanpa para preman itu tahu, Hoshi selalu menyimpan baton stik yang diselipkan di pinggang belakangnya.


Seorang preman berbadan besar membawa pentungan langsung maju dan Hoshi menangkis tongkatnya lalu memukul leher preman itu hingga terbatuk-batuk. Hoshi langsung memberikan tendangan berputar taekwondo nya tepat di wajah preman itu hingga pingsan.


"Duh! Salvatore Ferragamo aku ternoda!" keluh Hoshi kesal karena sepatu mahalnya terkena percikan darah dari wajah preman itu.


Tiga orang yang melihat bossnya terkapar pun langsung maju mengeroyok Hoshi. Pria itu langsung mengeluarkan baton stiknya, yaitu tongkat milik polisi yang bisa memanjang.



Hoshi pun langsung menghajar ketiganya tanpa ampun menggunakan jurus eskrima dan kemampuan preman-preman itu jauh dibawah levelnya dia. Tanpa lama, ketiganya pun terkapar.


Para satpam baru datang setelah Hoshi bersender di mobilnya sambil bermain ponsel.



Hoshi mengangkat tangannya menunjukkan dia tidak butuh alasan. "Panggil polisi. Sekarang!"


"Ba..baik pak!"


***


AKP Thomas sekali lagi harus menghela nafas panjang melihat kekacauan yang dibuat oleh cicit Alexa Pratomo dan cicit keponakan Nabila Pratomo. Benar-benar keluarga bar-bar.


"QUINN! Bisa nggak sih buat mereka tidak babak belur? Lihat ini! Giginya lepas dua biji!Terus ini juga! Ini lagi patah tangan!" AKP Thomas memijit pelipisnya.


"Masih bagus gigi doang yang ilang. Kalau nyawa? Mau apa?" sahut Hoshi cuek. "Setidaknya aku masih punya rasa kemanusiaan lho."


"Astagaaa! Apa jadinya kalau Oma Nabila dan Opa Manggala masih hidup!"


"Paling kalau oma buyut Nabila sangat mendukung, kalau Opa Mangga, aku pasti dijewer" seringai Hoshi.


"Kalian itu memang deh!"


"Kalau tidak ada urusan lain, aku pulang dulu Oom. Capek!" Hoshi beranjak dari kap mobilnya hendak masuk ke dalam mobil.


"Woi! Ke Polsek dulu!" bentak AKP Thomas.


"Besok aja sekalian aku bawa bang Travis." Hoshi pun masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan AKP Thomas yang marah-marah.


"Haaaiiisshhh ternyata benar kata Opa Manggala. Kamu bakalan pusing kalau berhubungan dengan keluarga Pratomo!" AKP Thomas lalu menyuruh anak buahnya membawa para preman itu ke ambulans untuk dibawa ke rumah sakit Bhayangkara.


***


Hoshi menelpon Benji, adik sepupu angkatnya, putra Bryan Smith yang kuliah di MIT seperti halnya dirinya dan papanya.


"Pagi mas Hoshi" sapa Benjiro atau biasa dipanggil Benji.



Introducing Benjiro James Smith.


"Malam Ben. Aku minta tolong bisa?" tanya Hoshi ke adiknya yang tampan.


"Cari aib atau hilangin orang?" kekeh Benji.


Hoshi terbahak. Benar-benar cucunya Abian Smith.


"Aib aku sudah dapat. Revenge yang belum."


"Mas Hoshi mau siapa?" tanya Benji tanpa basa basi.


"Yudha Hadiprojo."


"Serius mas? Mantan gebetan lu? Tuh orang nyenggol elu atau mbak Rina?"


"Nyenggol gue. Malam-malam gue disuruh gelut sama preman kiriman dia! Kagak level banget ke gue!"


Benji terbahak. Remaja berusia 18 tahun itu mengikuti jejak Opa dan Daddynya masuk MIT di usia muda karena otak jeniusnya.


"Itung-itung nggak usah nge-gym mas."


"Ih, ini masih pakai baju kerja cumiii! Mana sepatu gue kena darah pula! Bisa gue buang nih sepatu !"


"Dasar Sultan! Emang sepatu apa yang ternoda mas?"


"Salvatore Ferragamo harga $1,700."


"Bawa ke counternya saja minta dibersihkan. Jangan dibuang lah!" kekeh Benji.


"Gampang lah! Yang penting, kamu buat dia menyesal menyenggol aku tapi dengan cara halus. Kalau sudah dapat, aku hadapi dia."


"Considered it's done mas!"


"Thanks Ben."


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️