
"Bagas Hadiyanto! Kamu segera cerita atau bolpoin ini melayang ke jidatmu!" Hoshi menatap tajam ke arah pria khas Indonesia itu. Dirinya sudah merasa lelah dengan Bima, ditambah pekerjaan menumpuk sekarang Bagas pun membuat perkara. Ada apa sih dengan orang-orang bernama dengan huruf awalan B membuat aku cranky seharian ini?
"Tenang Quinn. Aku akan ceritakan apa yang terjadi dua Minggu lalu."
Flashback Bagas dan Safira
"Mas Hoshi memang keterlaluan! Aku dimarahi habis-habisan di depan mbak Rimbi. Sudah tahu scalpelnya itu kecangking! Bukan sengaja aku masukkan ke dalam tas! Marahnya ya ampuuunnn!" omel Safira sambil memasukkan kwetiau goreng seafood.
"Eh? Ini enak banget Oom!" seru Safira semangat.
"Enak kan? Makan yang banyak, karena ngomel pun butuh tenaga" sahut Bagas sambil memakan nasi goreng seafood favoritnya.
"Kok Oom..." Safira berdehem. "Mas Bagas diam saja aku tarik?"
"Lha kamu yang main tarik ya aku diam saja. Masa aku harus jejeritan pas ditarik?" balas Bagas cuek.
Safira pun manyun. "Lebay!"
"Safira, bisa nggak kamu nggak ceroboh sehari saja?" Bagas menatap gadis cantik itu.
"Kalau Fira nggak ceroboh sehari, dapat apa?"
"Kamu seminggu kan di Jakarta? Kalau sehari kamu nggak ceroboh, aku bakalan traktir makanan kesukaan kamu."
Mata hijau kebiruan Safira mengerjap-ngerjap bahagia. "Beneran Oo...eh mas?"
"Beneran. Masa aku bohong." Bagas tersenyum ke Safira. "Kamu kan pasti kumpul dengan saudara-saudara mu kan? Nanti aku titip pengawasan ke Arimbi, Falisha dan Freya kalau kalian jalan bareng. Apa kamu ceroboh atau tidak. Plus pengawal bayangan kamu bakalan aku tanyakan juga."
"Kok gitu?" sungut Safira.
"Ya iyalah! Harus ada bukti otentik dong" jawab Bagas. Entah kenapa dia bertekad untuk membuat Safira tidak ceroboh parah. "Lagian apa kamu mau kena amuk sama Quinn terus menerus?"
Wajah Safira makin menekuk. "Ih males banget kena Omelan si cabe pedas level 100 yang bikin aku sakit hati!"
"Makanya, aku bilang sama kamu. Rubah perilaku kamu, kurangi ceroboh mu. Quinn itu maksudnya baik hanya saja dia melakukan dengan caranya yang sering membuat orang sakit hati."
Safira pun mengangguk. Bukan karena traktiran yang menggoda iman, imun dan cacing di perutnya tapi lebih menjurus menghilangkan sedikit demi sedikit kecerobohannya yang juga sering membuat papa dan mamanya darting.
***
Arimbi, Falisha dan Freya terkejut membaca pesan dari Bagas yang meminta untuk mengawasi Safira soal kecerobohannya.
📩 Bagas Hadiyanto : aku minta tolong agar kalian laporan padaku kalau Safira tidak atau melakukan kecerobohan. Aku ingin membuat anak itu menghilangkan sedikit demi sedikit perilaku selebornya.
Masing-masing wanita cantik itu berdiskusi dengan suami masing-masing.
"Bagus lah si Bagas mau membuat adikmu itu nggak ceroboh. Kalau aku jadi Hoshi, wajar kalau aku ngamuk seperti itu karena bisa jadi ramai di dunia Maya. Bisa-bisa dikira Safira mau bunuh orang" jawab Bima saat Arimbi memperlihatkan pesan dari Bagas.
"Iya lho, Hoshi ngamuknya benar-benar deh!" senyum Arimbi.
***
Setidaknya dia punya niat baik untuk adikmu, Fa. Aji menatap istrinya dengan lembut.
Aku hanya merasa Bagas mulai tertarik dengan Safira.
Aji tertawa. Dia kan memang sudah tertarik dengan Safira sejak pernikahan kita hanya saja masih tertahan dengan restu Opa Javier.
Falisha memindahkan posisinya dari yang tiduran, menjadi menaiki tubuh liat suaminya.
Kalau dia jadi ipar kita, gimana? tanya Falisha sambil pelan-pelan membuka kancing piyama Aji.
Namanya jodoh itu Fa. Bukannya Bagas nanti malah awet muda kena darting Safira? Aji mulai menyusupkan tangannya ke dua gundukan di balik kaos rumah kebesaran Falisha. Merasakan remasan di dua gundukan miliknya yang semakin padat itu, membuat Falisha mende*sah.
"I want you baby" bisik Aji serak sembari membuka kaos istrinya.
***
"HAAAAHH? Aku disuruh ngawasin Safira sama si Bagas?" seru Freya yang sedang asyik membersihkan peralatan mencari hantunya.
"Bagas suruh apa?" tanya Haris yang baru saja membersihkan dapur. Gara-gara kalah suit, akhirnya Haris lah yang bertugas bersih-bersih.
Freya tidak berkata apapun hanya menyerahkan ponselnya ke Haris supaya suaminya membaca sendiri.
"Bagus lah Bagas punya inisiatif membuat Safira lebih baik. Lagian ya Frey, adikmu itu keterlaluan cerobohnya." Haris meletakkan ponsel Freya diatas meja buffet setelah membuatnya silent.
"Tapi kok aku yang disuruh ngawasin? Aku kan bukan baby sitter!" sungut Freya masih membersihkan lensa kameranya.
"Karena Bagas tahu Safira pasti kumpulnya sama kamu, sayang." Haris menatap istrinya yang masih serius menata semua peralatan yang sudah lama tidak dia pakai. "Kamu ngapain semuanya dikeluarkan?"
"Kalau kamera, recorder nggak dikeluarkan dan dibersihkan, nanti bisa kena jamur meskipun aku sudah kasih silica gel di dalamnya" jawab Freya tanpa menoleh ke arah Haris.
"Kamu yakin mau cari hantu lagi?" tanya Haris.
"Kan pohon Kamboja dekat sini belum aku periksa."
"Yakin milih pohon Kamboja daripada suamimu sendiri?" goda Haris yang membuat Freya menoleh.
Oh my God! Mamaaaa, Freya selalu lemah lihat body pelukable, sentuhable, cipokable dan boingable halal ini! Wajah Freya pun memerah.
"Kita coba sambil berdiri yuk, kamu bersender di tembok. Aku masukkan dari belakang?" bisik Haris sen*sual yang membuat Freya panas dingin.
"Hayuk!"
Setidaknya selamat nggak cari hantu hari ini!
***
Safira tiba di apartemennya setelah diantarkan oleh Bagas dan sepanjang perjalanan pulang, mereka saling berbincang berbagai hal.
Safira terkejut ketika Bagas mengakui bahwa dulu dirinya baji*Ngan, player, penganut hidup bebas.
"Tapi semenjak bertemu dengan kedua sepupumu, terutama Falisha, aku auto tobat, Safira. Kata-kata Falisha dan Freya lah yang membuat aku berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Usiaku sudah 28 tahun, menjelang akhir 20an, sudah waktunya memikirkan untuk membangun sebuah keluarga. Sebajingannya aku, pasti aku ingin mendapatkan pasangan yang baik, pasangan yang saling mendukung aku untuk berubah, berubah ke arah lebih baik."
"Mas Bagas sudah nggak macem-macem lagi?"
"Alhamdulillah sudah tujuh bulan ini, aku tidak macem-macem Fira. Insyaallah sampai aku mati nanti, aku tidak akan berbuat haram apapun. Bukan karena aku berjanji dengan tuan Javier tapi lebih memikirkan aku sendiri. Allah itu baik, Fira. Aku yang player itu tidak menderita sakit apapun, sehat karena aku rajin check up mengingat gaya hidupku yang high risk Penyakit Menular Sek*ual. Aku lebih rutin olahraga, pola hidup sehat dan mendekatkan diri pada Allah SWT. Bahkan aku lebih banyak ngobrol dengan Oom Kareem soal kehidupan dan agama."
Dan kini Safira di kamarnya merenung. Banyak pria yang mendekati Safira namun gadis itu tahu mereka mendekati karena dia anak siapa apalagi pria-pria itu mencari benefit agar bisa menjadi menantu Nathan Pratomo dan Haura Randall.
Oom Bagas itu memang kehidupannya masa lalu amburadul tapi aku salut dia berani mengakui dan berusaha untuk tobat. Aku harus menghargai atas keberaniannya mengakui. Safira menatap pemandangan dari kamar apartemennya. Setidaknya bajingan tobat lebih baik daripada sok alim tapi dibelakang lebih bajingan.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
Yang minta tolong ngawasin
Yang harus diawasi