
Hoshi kini sudah kembali ke Jakarta setelah hampir dua Minggu meninggalkan pekerjaannya. Taufan sudah siap dengan setumpuk berkas yang harus ditandatangani dan diperiksa oleh Hoshi.
"Fan, kamu dan Hani ada kesulitan tidak selama saya di Dubai?" tanya Hoshi sembari memeriksa satu persatu.
"Tidak pak Quinn tapi tuan Thomas dan pak Kapten Kosasih mencari anda."
Hoshi mendongakkan kepalanya. "Ada apa?"
"Saya kurang tahu pak Quinn."
"Bilang sama Pak Kosasih dan Pak Thomas, siang ini ditunggu makan siang di RR's Meal, ruang VIP 1."
"Baik pak Quinn, saya sekalian booking tempat di RR's Meal."
"Thanks Taufan."
***
Kapten Kosasih dan AKP Thomas datang bersamaan dengan ajudan masing-masing sedangkan Hoshi datang bersama Taufan seperti biasa.
Setelah berbasa-basi, Hoshi langsung menanyakan ada apa kedua anggota kepolisian itu meminta bertemu.
"Ada apa sebenarnya Oom Thomas? Pak Kosasih?"
"Soal Gavin Samuel." Kapten Kosasih menatap pria cantik di hadapannya. "Saya mencari mas Bima tapi menurut pak Jono, dia sedang ke Dubai. Apa benar?"
"Benar. Si Wer... eh Bima sedang berada di Dubai ada urusan pribadi. Memang apa hubungannya dengan Gavin Samuel? Apa urusannya dengan saya?"
"Karena yang paling dekat dengan mas Bima itu anda, mas Hoshi" senyum Kapten Kosasih.
"Kami tidak dekat pak Kosasih. Kami saling sebal satu sama lain!" jawab Hoshi cuek yang membuat dua perwira polisi itu hanya terkekeh.
"Jadi gini mas Hoshi, Gavin Samuel akan mendapatkan remisi lebaran besok karena berperilaku baik selama di penjara."
"Dia dihukum berapa lama?" tanya Hoshi.
"Sepuluh tahun. Dan sekarang masuk tahun keenam tapi Mentri kehakiman dan jaksa agung memasukkan nama Gavin Samuel sebagai narapidana yang mendapatkan remisi." Kapten Kosasih memandang Hoshi yang hanya menatap keduanya dengan tanpa ekspresi.
"Saya atau mungkin Bima tidak akan peduli jika Gavin mendapatkan remisi karena itu kan kewenangan pemerintah pusat. Tapi saya yakin Gavin Samuel akan berpikir ulang jika dia macam-macam dengan keluarga kami. Meskipun saya dan Bima tidak pernah akur, tapi dia bagian keluarga kami karena menikah dengan adik saya, Arimbi. Jadi, hemat saya pak Kosasih, Oom Thomas, kami tidak mempermasalahkan dia bebas."
"Baiklah mas Hoshi. Oh soal preman yang menyerang mas Hoshi gimana?" tanya Kapten Kosasih.
"Terserah mau diapain. Masih ditahan kan? Mau dilempar ke danau isi buaya juga boleh! Lumayan ngurangi populasi orang-orang nggak guna di bumi!" jawab Hoshi songong.
Taufan tersenyum tipis mendengar ucapan bossnya. Beneran si mulut cabe deh nih si boss.
"Astaghfirullah!" kekeh Kapten Kosasih. "Tapi benar lho mas Hoshi, kalau tidak ingat sumpah jabatan saya, mau lho saya buang orang-orang yang berbuat jahat ke kandang buaya atau kandang komodo atau kolam piranha daripada berbuat jahat terus ke orang lain setidaknya dagingnya berguna demi kelangsungan spesies lain. Tidak berguna di spesies homo Sapiens, setidaknya para buaya, komodo dan piranha tidak kelaparan."
Hoshi terbahak. "Akhirnya ada yang satu server dengan saya."
Kedua perwira polisi beserta ajudannya itu lalu makan siang dengan Hoshi dan Taufan sembari bercerita berbagai macam.
***
Tiga hari kemudian...
"Gavin Samuel bebas besok lebaran ceritanya?" tanya Bima ketika Hoshi datang ke bengkelnya. Calon ayah itu datang semalam dari Dubai setelah yakin Yudha bisa ditinggal dan sekarang pengobatan rutin dengan dokter Atifa Syarief apalagi pengajuan ke perusahaannya untuk bisa bekerja di darat alias kantor Dubai, dikabulkan.
"Iya. Pak Kosasih dan Oom Thomas menemui aku." Hoshi menatap Bima. Hari ini adalah hari kedua puasa jadi keduanya tidak makan siang.
"Biarin saja lah. Selama tidak menggangu aku ataupun bokap, aku sih nggak masalah. Lagipula bokap sudah tidak mau berurusan dengan orang-orang itu. Begitu si b1tch itu meninggal, bokap kan langsung tidak mau mendengar apapun soal pengadilan Samuel."
"Bokap lu sudah bahagia dengan kehidupannya sekarang, janganlah elu usik dengan kabar ini, Werkudara."
"Iyalah!"
***
Rina bersiap-siap untuk menutup tokonya untuk berbuka puasa dan dilanjutkan tarawih. Selama bulan Ramadhan, toko karpet milik keluarga Kareem memang tutup lebih awal, jam lima sore untuk menghormati para pegawainya agar bisa berbuka puasa bersama dengan keluarga di rumah.
"Bu Rina, sudah semua ya" ucap Vian, salah satu pegawainya yang bertugas sebagai kasir.
Seperti biasa setiap weekend, Rina memeriksa semua pembukuan apalagi dia sempat pergi lama membuat dirinya harus memeriksa semuanya toko yang di plaza Senayan karena yang di plaza Indonesia, dipegang oleh kedua orangtuanya. Abrisam Kareem memang menyerahkan toko di plaza Senayan untuk Rina kelola.
"Yuk kita pulang. Selamat berbuka puasa semuanya" ucap Rina ke ketiga pegawainya.
"Selamat berbuka puasa Bu Rina" balas semua pegawainya yang keluar toko sambil mengangguk berpamitan.
Rina pun mematikan lampu dan mengunci gerai karpetnya. Ketika berbalik usai mengunci pintu, dirinya terkejut melihat Hoshi sudah berdiri di belakangnya.
"Astaghfirullah! Muka pucat! Hampir aku banting kamu!" hardik Rina kesal sembari menetralisir detak jantungnya.
Hoshi hanya menyeringai usil. "Kaget Bu Rina?"
"Kaget dodol!" umpat Rina jengkel namun dirinya menatap Hoshi bingung karena pria itu memberikan sikunya. "Ngapain?"
"Selipkan tanganmu ke siku aku lah, cewek Arab! Masa kayak gitu harus aku kasih tahu?"
Rina memanyunkan bibirnya.
"Jangan maju-maju tuh bibir. Bisa khilaf aku nanti main ci*pok" kekeh Hoshi yang langsung mendapat keplakan Rina.
"Puasa cumi! Harus menahan hawa nafsu!" cebik Rina manyun namun tak urung tangannya menyelip di siku Hoshi.
"Mau sholat Maghrib dimana?" tanya Hoshi sambil berjalan menuju parkiran mobil dan lagi-lagi Rina menghela nafas panjang melihat mobil yang dipakai adalah Mercedes E-class Convertible milik sang Opa Eiji.
"Kenapa pakai mobil opa Eiji sih?"
"Audiku lagi aku masukkan ke bengkelnya Oom Kareem. Ada yang mau aku modifikasi." Hoshi membukakan pintu untuk Rina dan mempersilahkan gadis itu masuk.
"Kok nggak di tempatnya Bima?" tanya Rina sambil memasang sabuk pengamannya.
"Bima sudah penuh orderan jadi aku ke Oom Kareem saja lah. Kan sama saja tho? Masih saudara juga." Hoshi lalu menstater mobilnya dan keluar dari parkiran.
"Iya sih. Nanti nggak maksimal."
"Nah tuh tahu!" Hoshi lalu memencet tombol mobilnya ketika ada telpon masuk. "Assalamualaikum pak Toyib senior."
"Wa'alaikum salam. Eh Toyib junior, kamu dimana?"
"Jemput calon mantu. Kenapa? Pak Toyib keberatan?"
"Dasar anak durjana! Bawa calon mantu ke rumah!"
"Rumah mana? Rumah New York? Yang benar saja pak Toyib!" balas Hoshi yang tahu Levi masih di New York.
"Rumah keluarga Reeves lah cumiiii! Daddy di rumah ini! Jakarta, Bambang! Jakarta!" hardik Levi sebal.
"Lha Daddy dalam rangka apa pulang? Lagian ngapain aku disuruh bawa Rina kesana? Dih, Daddy kagak asyik! Ini kan malam Minggu, ganggu orang pacaran saja!" cebik Hoshi kesal.
"Pulang atau mamamu nangis drama! Mau kamu denger mamamu nangis lebay?" bentak Levi kesal.
"Dih, mama mah nggak pernah drama. Daddy tuh yang tukang drama sama Opa!"
"Hoshi Paramudya Quinn Reeves! Pul..."
"Iya iya ... Pulang pak Toyib! Jeez!"
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
The Four Emirs