Hoshi, My Tiger

Hoshi, My Tiger
Hoshi dan Rina di Apartemen



*Kagak berani h.o.t nanti nggak lolos*


Bagas kembali ke kamar hotelnya menjelang jam tiga pagi setelah diajak kumpul-kumpul... diseret paksa sebenarnya oleh para sepupu paripurna Safira, istrinya. Setelah meminta resepsionis untuk membukakan kamar honeymoon suitenya karena dirinya tidak membawa card key, akhirnya Bagas bisa masuk ke dalam kamar.


Pria itu melihat istri cantiknya yang clumsy tidur terlelap di balik selimut. Bagas menghampiri Safira dan mengelus puncak kepalanya dengan sayang lalu mencium pelipisnya karena Safira tidur miring.


Bagas tersenyum melihat kopernya sudah dibongkar Safira dan tampak kaos, celana pendek dan boxer hitamnya sudah disiapkan oleh Safira di atas meja yang terdapat memo dengan tulisan 'Sudah aku siapakan. Oom mandi dulu sebelum tidur karena pasti bau rokok.'


Bagas menoleh kearah istrinya. Oom? Benar-benar deh! Setelahnya pria itu pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


***


Hoshi dan Rina usai membersihkan diri, memutuskan untuk memakan pizza yang mereka beli sebelum ke apartemen. Hoshi beralasan dirinya tidak mau Rina kelaparan tengah malam jadi mereka membeli pizza dulu.


"So, gimana rasanya menikah denganku?" tanya Hoshi ke Rina yang duduk di sofa bersamanya.


"B aja Hoshi, kan ijab baru tadi pagi" senyum Rina yang memakai gaun tidur satin bewarna coklat metalik sedangkan Hoshi memakai kaos rumah dan celana training warna abu-abu.




"Iyalah B, Wong belum diapa-apain" gerutu Hoshi.


"Emang kamu mau ngapain, Tiger?" gelak Rina.


"Enaknya ngapain?" Hoshi pun menarik tangan Rina dan membawanya ke wastafel.


"Hoshi?"


"Cuci tangan dulu, tanganmu dan tanganku habis pegang pizza nanti diparani ( didatangi ) semut" jawab Hoshi sambil membawa tangan Rina dan membasuh nya dengan sabun cair cuci tangan.


Rina tertawa. "Ohya ampun. Memang di apartemen kamu ini ada semutnya?"


"Jangan lah! Semut itu binatang menyebalkan meskipun di Al Qur'an mendapatkan keistimewaan sendiri dalam surah Al Naml." Hoshi lalu mengelap hingga kering tangan Rina lalu menggandeng istrinya naik ke lantai dua menuju kamar tidur mereka.


Rina tersenyum melihat perlakuan Hoshi yang menurutnya romantis dengan gayanya sendiri.


"Tiger..."


"Hhmm?"


"Menurutmu Safira beneran ditinggal Bagas?" tanya Rina yang naik ke atas tempat tidur bersama dengan Hoshi yang naik di sebelahnya.


"Kamu sudah tahu kan tradisi di keluarga aku hobinya kabur usai menikah dan yang pria hobinya menggagalkan malam pertama. Aku saja yang lebih cerdik jadi bisa menghindari pasukan durjana itu." Hoshi membuka pakaiannya dan Rina mengetahui pria itu memiliki tattoo di atas dada kanannya.


"Kamu punya tattoo?" tanya Rina kaget.


"Ada. Satu ini doang gara-gara kalah taruhan sama teman waktu kuliah dulu" Hoshi mendekati istrinya dengan tiduran miring dan menyangga kepalanya dengan tangan kirinya.


"Papa Levi dan Mama Yanti gimana?" Rina merasa tidak tahan untuk tidak menyentuh tattoo itu dan Hoshi membiarkan jari lentik istrinya meraba gambar kupu-kupu di dada kanannya. Sesuatu yang menggelenyar mulai terasa di dalam tubuhnya.


"Well, ngedumel" ucap Hoshi parau. "Tapi cukup ini tidak boleh tambah lagi." Mata Hoshi mulai sayu menatap wajah cantik Rina yang juga membalas tatapannya.


"Kamu kenapa?" tanya Rina gugup ditambah tangan kanan Hoshi yang mengusap pipi Rina dengan lembut.


"Tidak percaya kamu bakalan benar-benar menjadi istri aku" suara Hoshi semakin terdengar parau.


"Me...memangnya kenapa?" Mata hijau Rina seolah terhipnotis dengan mata coklat milik Hoshi. Tatapan mereka saling mengunci.


"Aku selalu membayangkan hidup bersama dengan mu pasti akan ramai rumah tangganya... Ramai dengan kekacauan khas kita" Hoshi mencium dahi dan pipi Rina lalu ceruk lehernya yang harum Lily.


"Hah? Sejak kapan Hoshi?" tanya Rina dengan nada gemetar karena Hoshi menyentuh titik sensitifnya.


"Sejak acara nikahnya Arimbi" Hoshi menurunkan tali gaun tidurnya dan tampak pemandangan indah di hadapannya. "Ya ampun, cewek Arab. Punyamu bagus banget."


Hoshi tidak mempedulikan protes istrinya langsung menikmati dua gundukan bulat padat dengan lidah dan jarinya membuat Rina menggelinjang merasakan nikmat yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya.


Hoshi mulai menurunkan gaun tidur Rina sekalian dengan segitiga penutupnya yang bewarna hitam dan wajah pria itu tampak puas melihat pemandangan di hadapannya.


"Astaga Hoshi! Jangan dilihatin gitu dong!" Wajah Rina pun memerah menahan malu dan gairah bersamaan dan reflek tangannya berusaha menutupi semua asetnya.


"Idih! Ngapain ditutupi wong nantinya dicicipi juga!" cebik Hoshi sambil melepaskan celananya dan kini keduanya sama-sama polos. Hoshi langsung mengkungkung tubuh Rina dan menciumi bibirnya yang sudah menjadi halal sehalalnya dan keduanya pun saling berpa*gutan dengan penuh perasaan.


Bibir Hoshi pun berpindah menuju ke bawah dan menciumi semua aset Rina hingga meninggalkan jejak disana. Di atas perut Rina, Hoshi mencium lama disana.


"Hoshi, geli" gelak Rina merasa kegelian dengan bibir Hoshi disana.


"Semoga anak kita akan tumbuh disini setelah daddynya berhasil nembus punya mommynya" gumam Hoshi diatas perut Rina yang rata. "Kamu mau anak berapa?"


Rina menatap sayu ke arah pria yang memegang panggulnya. "Dua. Aku ingin punya dua anak."


Hoshi tersenyum smirk. "Aku setuju." Pria itu pun mulai menurunkan bibirnya dan menuju ke lembah hangat Rina. Lidahnya bermain-main disana membuat Rina berantakan baik otak dan libi*Donya.


"Hosh...aku... mau..."


"Keluarkan saja" ucap Hoshi di bawah milik Rina dan suara lengu*Han puas lolos dari bibirnya. Hoshi tersenyum berhasil membuat istrinya mendapatkan kli*maksnya yang pertama.


"Ka..mu belajar... dari mana? Beneran...kamu baru pertama...kali ini?" tanya Rina dengan nafas terengah.


"Aku baru pertama kali ini melakukannya bersamamu dan selamanya bersamamu" ucap Hoshi sambil mencium leher istrinya sedangkan tangannya yang satu memposisikan miliknya untuk masuk ke milik Rina.


"Ya ampun Hosh... apa cukup itu?" bisik Rina melihat milik suaminya yang sudah sempurna.


"Kamu tuh belajar biologi nggak sih? Kepala bayi itu lebih besar daripada kepalanya si junior bisa keluar dari situ. Kepalanya si junior nggak ada apa-apanya dibanding kepala bayi" sungut Hoshi sembari berusaha menyesak ke dalam.


Rina mendesis pelan ketika merasakan sesuatu mulai memasuki miliknya dan dirinya berteriak tertahan setelah Hoshi berhasil menembus pertahanan akhir miliknya dengan beberapa kali mencoba.


"Maaf sayang, tapi menurut video pemersatu bangsa nanti kamu dan aku bakalan enak" bisik Hoshi yang merasakan miliknya dijepit oleh milik Rina.


"Hah? Ya ampun... kamu belajar dari bo*Kep?" ucap Rina di tengah-tengah desa*Hannya setelah panggul Hoshi bergerak maju mundur.


"Iyalah! Kan aku maunya sama kamu!" ucap Hoshi gemas lalu Melu*mat bibir istrinya.


Keduanya pun saling memberikan sentuhan satu sama lain hingga beberapa saat kemudian tubuh Rina melengkung menunjukkan bahwa dirinya mendapatkan kli*maksnya yang kedua.


Peluh mulai bercucuran di tubuh keduanya namun Hoshi belum mendapatkan puncaknya lalu merubah gaya yang membuat Rina semakin merasakan nikmatnya.


Setengah jam kemudian keduanya pun mendapatkan puncaknya dan Rina tidak tahu berapa kali dirinya mendapatkan kli*maks, yang dia tahu tubuhnya sangat lemas. Wajahnya memerah akibat gai*dah dan puas. Dirasakannya Hoshi menumpahkan semua calon bibit anak mereka ke dalam rahimnya.


"Wow Rin... terimakasih sudah menjaganya untukku" ucap Hoshi dengan nafas terengah lalu mencium kening istrinya dengan penuh cinta.


"Istirahat ya" rengeknya.


Hoshi tertawa. "Iya istirahat tapi nanti lagi ya?"


Rina mendelik.


***


Yuuuhhuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️