
Rina masih termenung mengingat semua ucapan Hoshi dan itu diucapkan dengan melakukan video call. Mungkin kalau via telpon biasa, dia tidak akan percaya karena tidak bisa melihat ekspresi pria itu tapi ini via video call jadi Rina tahu bahwa Hoshi sangat serius.
Aku hanya tidak ingin kamu kecewa saja, Rin. Aku katakan ini karena aku eman kamu, aku sayang kamu Rin...
Aku sayang kamu Rin.
Jika ada apa-apa, aku akan selalu ada di sisimu.
"Kamu tahu apaaaa, muka pucaaatt! Kok bikin aku penasaran!" teriak Rina kesal. Beruntung kamarnya agak kedap suara jadi kedua orangtuanya tidak dengar. Apalagi jarak dari kamarnya dan kamar mereka agak jauh.
"Semoga tidak terjadi apa-apa. Aamiin."
Rina pun turun dari tempat tidur untuk melaksanakan sholat isya yang belum dia tunaikan.
***
Hoshi memandang laptopnya melihat video yang dikirimkan oleh anak buahnya. Rasanya dia sendiri ingin menghajar orang yang berada di dalam video itu.
Awas kau! Aku tahu apa yang kamu rencanakan. Beraninya kamu berbuat seperti itu !
Hoshi menutup laptopnya dan menatap pemandangan Dubai di waktu malam. Diliriknya jam tangan mahalnya yang menunjukkan pukul dua belas malam. Ada waktu untuk tidur sejenak sebelum melakukan sholat malam.
Pria itu pun langsung naik ke tempat tidur dan terlelap.
Itu bibir gemesin banget yak??
***
Pagi ini Rina bersama dengan sang mama mencari baju pengantin sedangkan untuk katering, RR's Meal sudah menyanggupi dengan harga saudara karena keluarga Rina sudah seperti bagian sahabat keluarga Giandra khususnya dan klan Pratomo umumnya.
Usai mendapatkan baju pengantin dan makan siang, mobil Rina melewati sekolah tuna rungu milik Falisha saat hendak kembali ke plaza Senayan. Entah kenapa, Rina ingin mampir ke sepupu sahabatnya yang juga teman masa kecilnya juga. Rina dan Falisha memang berbeda sekolah karena rumah mereka beda wilayah juga.
"Mampir kemana, Rin?" tanya Chitra bingung kenapa putrinya membelok ke arah sebuah sekolah.
"Itu ada Falisha ma. Kangen belum ketemu lagi semenjak menikah dengan Aji" ucap Rina.
"Oh iya. Mama juga mau ngobrol sama Falisha. Papamu kemarin ingin jadi donatur buat sekolah dia."
"Ma, Fa itu dapat sokongan dari Opa Javier" kekeh Rina.
"Ya nggak papa tho ditambah sama mama" senyum Chitra.
Mobil mini Cooper warna merah itu pun masuk ke halaman parkir bersebelahan dengan mini Cooper milik Falisha. Entah kenapa para perempuan di lingkungan keluarga Pratomo paling suka memakai mini Cooper sebagai mobil pribadinya.
Rina dan Chitra pun turun melihat banyak orang tua yang menunggu putra putrinya keluar dari sekolah karena sudah jam pulang. Kedua ibu dan anak itu duduk di sebuah kursi taman yang memang disediakan Falisha agar semua orangtua nyaman menanti.
Setelah bel berbunyi, banyak anak-anak keluar dari kelas dan bedanya, mereka keluar dengan suara sunyi karena rata-rata tuna rungu jadi menggunakan bahasa isyarat.
Chitra sangat terharu melihat bagaimana wajah anak-anak itu bahagia dan semangat bercerita kepada orang tuanya dengan bahasa isyarat tidak ada bedanya dengan anak-anak normal. Dan dia pun salut kepada orangtua mereka yang begitu sabar menghadapi anak-anak spesial mereka.
"Ma? Mama nggak papa?" tanya Rina melihat sang mama tampak melow.
"Rin, mama salut lho sama mereka. Tidak mudah mendidik dan ngopeni anak-anak spesial seperti mereka lho" ucap Chitra sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes. "Eh apa Falisha sudah siap andaikan nanti punya anak seperti Aji?"
"Ma, Fa itu sudah tahu resikonya saat memilih Aji apalagi dia tahu dia bisa mengatasi semua rintangan karena dia memiliki Aji di sampingnya." Rina memeluk bahu sang mama.
"Kok mama agak gimana ya kemarin saat Yudha melamar kamu" ucap Chitra tiba-tiba.
"Agak gimana, gimana ma?" tanya Rina bingung dan berdebar.
"Entah kenapa kok rasanya terlalu cepat dan terburu-buru. Tapi mungkin perasaan mama saja yang takut ditinggal anak perempuan satu-satunya" senyum Chitra.
"Paling itu ma" senyum Rina menenangkan. "Apa mama ada pandangan lain?"
Chitra menoleh. "Pandangan lain gimana maksudnya?"
"Ya, apa mama ada calon lain di hati mama buat menjadi pendamping aku selain Yudha?"
"Mama hanya berdoa kamu mendapatkan yang terbaik, pria yang jujur dengan perasaannya, yang sangat mencintai kamu, menerima kamu apa adanya. Klise memang tapi kita cari apa sih di pernikahan? Teman sehidup semati, rekan berdiskusi, pasangann yang selalu ada dalam suka dan duka." Chitra menyingkirkan rambut Rina ke belakang telinganya.
"Seperti mama dan papa?"
Rina terbahak.
"Yang penting jujur nak. Apapun meskipun itu menyakitkan karena cepat atau lambat akan tahu juga. Dan lebih baik pasangan mengetahui dari bibir kita sendiri agar bisa memilah gosip dan ghibah."
"Iya ma. Aku lihat di keluarga besar Arimbi, mereka sangat menjunjung tinggi kesetiaan dan aku tidak pernah mendengar adanya skandal."
"Kamu harus banyak belajar dari keluarga Arimbi, Rin. Mereka bisa menyelesaikan masalahnya dengan smooth."
"Rina! Ada angin apa kemari?" seru Falisha yang datang bersama Tuti berjalan menuju meja taman tempat Chitra dan Rina duduk.
"Hai! Kami mampir setelah mencari baju pengantin" jawab Rina sambil memeluk Falisha dan Tuti bergantian.
"Tante Chitra" sapa Falisha ramah sambil mencium punggung tangan mamanya Rina itu.
"Fa, habis nikah tambah cantik saja. Cocok ya sama Aji?" kerling Chitra menggoda Falisha yang memerah wajahnya.
"Ah Tante bisa saja" senyum Falisha.
"Tuti sekarang sama siapa?" tanya Chitra.
"Masih penjajakan sama kakakku, Tante" jawab Falisha yang melirik wajah malu Tuti.
"Yang mana, Fa?"
"Mas Rama, ma" sahut Rina.
"Wah, ganteng lho itu kakakmu Fa" puji Chitra.
"Memang" ucap Rina.
"Kamu serius sama Yudha, Rin? Yakin?" tanya Falisha ke Rina.
"Insyaallah, Fa" jawab Rina serius.
"Semoga lancar acaranya ya" ucap Falisha tulus. "Habis ini pada mau kemana?"
"Paling balik ke plasa Senayan. Soalnya kita seharian belum balik ke toko" jawab Rina.
"Falisha!" sebuah suara bariton membuat keempat wanita itu menoleh.
Tampak seorang pria tampan berkacamata datang menghampiri sambil tersenyum. Matanya menatap Falisha penuh cinta.
"Mas Aji" sapa Falisha sambil tersenyum lebar dan menyambut suaminya. Aji lalu memeluk dan mencium pelipis istrinya dengan mesra.
Rina merasa iri melihat kemesraan keduanya yang entah tidak dia rasakan di Yudha. Ada yang kurang rasanya.
"Tante Chitra, perkenalkan ini mas Aji. Kan waktu acara pernikahan cuma ketemu di pelaminan. Mas, ini Tante Chitra mamanya Rina."
Aji menyalami Chitra dengan sopan. Suara ponsel Rina membuat gadis itu meminta diri untuk menerima panggilan teleponnya.
Setelah agak menjauh, Rina mengangkat ponselnya.
"Assalamualaikum cewek Arab. Kamu lagi dimana?"
Hoshi!
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
Bonus Mas Aji