
Hoshi mendatangi kantor PRC group pusat dengan wajah ingin memakan orang. Bahkan resepsionis PRC group dan satpam pun tidak ada yang berani menyapa pria cantik itu. Meskipun Hoshi sering jutek, tapi dia masih ramah menyapa para petugas keamanan dan resepsionis tapi kali ini aura pengen makan orang tampak sedang menguar di putra Levi Reeves membuat semua orang memilih menundukkan kepalanya.
Hoshi masuk ke dalam lift bersamaan dengan Haris Lexington yang baru saja datang entah dari mana dengan membawa tas Prada nya.
"Quinn. Ada perlu apa kamu kesini? Apa ada perlu dengan Bu Davina?" Haris di kantor memanggil ibu mertuanya formal.
"Aku ada perlu dengan Safira" ucap Hoshi dingin.
Haris melirik iparnya yang tampak judes menahan amarah. "Safira? Safira disini?"
Hoshi hanya mengangguk. Pintu lift pun terbuka dan Hoshi langsung menuju ruangan Arimbi. "Aku duluan Ris."
"Ok Quinn."
Hoshi sampai di divisi desain interior dan membuat semua orang disana langsung mengkeret melihat wajah pria itu.
"Safira Pratomo!" teriak Hoshi membuat Safira terlonjak dan langsung bersembunyi di belakang Arimbi.
"Apaan sih Hosh? Datang-datang teriak-teriak?" tegur Arimbi kesal melihat sikap seenaknya pria yang beda tidak terlalu jauh usianya dengannya.
"Anak nakal itu bikin ulah!" tunjuk Hoshi ke Safira yang semakin menyembunyikan kepalanya di balik punggung Arimbi.
"Ayo masuk ke ruang meeting!" Arimbi menarik tangan Safira dan diikuti oleh Hoshi yang masuk ke sebuah ruang meeting kecil tempat biasa para klien atau anggota tim divisi meeting.
***
Kira-kira apa yang akan terjadi pada si ceroboh binti clumsy itu? Bagas melihat jam dinding ruangannya. Jam lima sore. Apa aku ke PRC group saja ya. Mau lihat nasib anak menggemaskan itu?
Setelah berperang dengan dirinya sendiri, akhirnya Bagas memutuskan untuk ke PRC group pusat untuk mengetahui nasib gadis imut itu.
***
"Bagaimana bisa scalpel masuk ke dalam tas? Apa yang kamu pikir Fira? Bisa-bisanya! Bisa-bisanya!" amuk Hoshi.
"Apa yang terjadi?" tanya Arimbi bingung.
"Anak satu ini ketangkap di pihak imigrasi bandara Soekarno Hatta gara-gara ada scalpel di tas Hermès nya! Dan dia minta tolong siapa? Bagas Hadiyanto! Apa sih yang ada di pikiran kamu? Hah!"
"Apa? Kamu ditangkap pihak imigrasi? Jadi yang bebasin kamu itu Bagas?" pelotot Arimbi. "Kenapa kamu tidak hubungi kami? Jadi kamu tadi bilang tidak sengaja hubungi Bagas itu supaya kami tidak tahu? Iya?"
"Aku ... Itu scalpelnya kecangking" cicit Safira.
"Astagaaa ! Itu nggak kecangking! Itu kamu teledor taruh barang kedokteran kamu!" hardik Hoshi.
"Kamu naik apa kesini?" tanya Arimbi.
"Singapore Airlines."
"Pemeriksaan di bagasi lolos?" tanya Arimbi lagi.
Safira mengangguk. Hoshi hanya bisa mengusap wajahnya kasar.
"Nggak lolos di Jakarta?" Arimbi menatap tajam wajah adiknya yang tampak ingin menangis. Safira mengangguk lagi.
"Kamu tuh! Benar-benar deh! Mas Hoshi nggak mau urus kamu lagi kalau cerobohmu nggak hilang-hilang! Benar-benar bikin malu! Kamu itu bawa nama keluarga Safiraaaaa! Hanya kamu yang memakai nama Pratomo! Kami semua tidak ada yang pakai nama belakang itu! Pikir! Kamu kan punya otak!" bentak Hoshi emosi. Pria itu pun keluar dari ruang meeting sambil membanting pintunya membuat semua orang disana terkejut.
Pertahanan Safira pun jebol dan dia langsung menangis kencang membuat Arimbi harus menutup telinganya.
***
Bagas memarkirkan mobilnya di parkiran khusus tamu dan gedung PRC mulai banyak pegawai yang hendak pulang. Pria itu pun berjalan masuk dan seorang satpam menyapa dirinya.
"Selamat sore pak Bagas. Mau bertemu siapa?"
"Quinn Reeves ada?" tanya Bagas biarpun tidak yakin pria itu masih berada di kantor PRC.
"Ada pak. Tapi sepertinya lagi mau makan orang" bisik satpam itu dengan wajah takut.
Pasti ngamuk ke Safira.
"Di divisi berapa si Quinn naik?"
"Dari gosip karyawan, katanya di ruangan Bu Davina."
"Oke." Bagas pun segera naik ke lantai tempat ruang CEO milik Davina.
"Eh maaf pak Bagas. Saya tidak melihat bapak."
"Ada apa Merry?"
"Tuan Quinn Reeves lagi ngamuk di ruang kerja nyonya Davina. Saya tidak tahu ada masalah apa tapi sama nyonya saya disuruh pulang saja" ucap Merry.
"Kamu pulang saja, soal Quinn biar aku yang urus." Bagas memberikan senyuman ke Merry yang agak tenang.
"Baik pak Bagas. Selamat sore." Gadis itu pun bergegas menuju lift untuk pulang.
Bagas pun berjalan menuju ruangan Davina dan tampak Hoshi masih mode marah-marah.
"Assalamualaikum. Apakah saya mengganggu?" sapa Bagas sambil mengetuk pintu yang tidak tertutup rapat. Beruntung para pegawai di sekitar ruang kerja Davina sudah pada pulang jadi tinggal putri Javier Arata dan keponakannya.
"Wa'alaikum salam. Bagas, terimakasih ya sudah membantu Safira" ucap Davina lembut.
"Sama-sama nyo...." Davina mendelik. "Tante Davina" ralat Bagas.
"Ini sudah di luar jam kantor jadi panggil informal saja" ucap Davina.
"Kamu kenapa tidak cerita kalau Safira ditahan?" Hoshi menatap tajam ke Bagas.
"Safira yang memintaku untuk tidak menceritakan pada kalian karena bakalan seperti ini kan?" senyum Bagas santai.
"Tanpa kamu cerita pun, kita semua akan tahu pada akhirnya" dengus Hoshi kesal.
"Memang kamu tahu dari siapa?" tanya Davina.
"Oom Bara." Davina menepuk keningnya.
"Aku lupa Giandra Otomotif Co kan punya hanggar dan kantor disana dan semua pihak kemanan bandara tahu kalau nama Pratomo berkaitan dengan keluarga Giandra." Davina menggelengkan kepalanya. "Safira, Safira."
"Tapi di Changi lolos ya dia" gumam Bagas.
"Bejone ( beruntungnya ) Safira" senyum Davina. "Sudah Hoshi, jangan marah-marah. Kasihan kan adikmu sampai nangis kejer kamu marahi."
"Tapi Fira memang keterlaluan kok Tante! Ini untung cuma scalpel dan dia bisa membuktikan bahwa dia mahasiswa kedokteran. Lha kalau sampai ketahuan bawa Glock atau PPK nya? Apa nggak lebih kacau lagi?" Hoshi akhirnya duduk di sofa milik Davina.
"Sekarang Safira dimana?" tanya Bagas.
"Di ruangan Freya. Kamu kesana saja Gas, kasihan anak itu habis dimarahi sama kakaknya satu ini" senyum Davina. "Ruangan Freya turun satu lantai, keluar lift langsung belok kiri. Ada namanya kok di depan pintu ruangannya."
"Baik Tante, saya turun dulu. Quinn, sudahlah. Yang penting Safira sudah bisa keluar dari bandara." Bagas menepuk bahu Hoshi.
"Thanks B."
Bagas pun keluar dari ruangan Davina lalu menuju lift dan memencet tombol satu nomor dibawahnya. Setelah pintu lift terbuka, Bagas lalu belok kiri dan melihat ruangan milik Freya tampak terbuka. Bagas pun mengetuk pintu dan tampak ketiga wanita serta satu pria menoleh.
"Mas Bagaaaasss!" teriak Safira sambil memeluk Bagas yang terkejut dengan perlakuan tiba-tiba gadis imut itu.
"Mas Bagas?" seru Arimbi, Freya dan Haris.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Maaf telat
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
***
Yuhuu My Next Project after Bang Aidan, Bang Hoshi n Bang Dapid tamat Yaaaa
Love and Revenge of Mr Mafia