Hoshi, My Tiger

Hoshi, My Tiger
Lebaran ala Keluarga Pratomo 1



Bagas menunggu Safira yang datang dari Singapura untuk mempersiapkan acara pernikahan mereka. Seperti biasa, gadisnya selalu suka naik pesawat komersial dibandingkan pesawat pribadi milik keluarganya.


Flashback Lebaran ala Klan Pratomo


Acara lebaran kemarin untuk pertama kalinya Bagas diperkenalkan secara resmi oleh Nathan Pratomo sebagai calon suami Safira.


Bagas sempat khawatir jika ada salah satu anggota keluarga Safira yang tidak menyetujui mengingat mereka semua tahu sepak terjangnya dia dulunya seperti apa.


Namun kecemasannya pun hilang ketika Javier menepuk bahunya hangat ditambah Haura Pratomo pun merangkul dirinya menunjukkan kedua orang tua Safira bisa menerima dirinya.


"Masa lalu tidak bisa dihapuskan melainkan sebagai cermin bahwa sesuatu yang jelek jangan kamu lakukan lagi. Kamu sudah bisa menata hidupmu menjadi lebih baik, jangan kamu sia-siakan semua barokah yang Allah berikan kepadamu sebagai reward niat kamu yang serius dan ikhlas untuk berhijrah" nasehat Javier ke Bagas saat mereka berbincang berdua di halaman belakang mansion milik keluarga Neville.


"Iya Opa Javier, saya merasakan bahwa semenjak saya memantapkan diri untuk berhijrah, banyak barokah yang saya terima tidak hanya di pekerjaan tapi juga kehidupan pribadi saya." Bagas menatap pria yang masih tampan dan aura tegas di wajahnya yang sudah berumur.


"Gas, Opa hanya meminta kamu perlakukan Safira sebagai ratu dalam hatimu, jangan pernah sakiti dia. Kamu lihat, di keluarga kami sangat menghormati para wanita kami. Opa Arga Pratomo selalu memperlakukan Oma Ajeng ratu di rumah tangganya dan nasihat beliau selalu disampaikan turun temurun. Kamu boleh berdebat dengan Opamu, Papamu atau Oom kamu tapi jangan pernah sekali-kali melawan Omamu, Mamamu dan Tante-tante mu. Kamu bisa lihat meskipun Hoshi sekalipun, jika Ayame atau Yanti sudah bilang stop, dia akan berhenti. Beda jika itu Eiji atau Levi yang ngomong, bisa sampai besok debat juga dijabani."


Bagas terbahak. "Quinn kan memang begitu Opa."


***


"Tidak boleh!" protes Hoshi ke Rina. Kedua calon pengantin itu sedang berdebat di depan Faranisa yang memberikan katalog gaun pengantin.


"Hoshi! Yang pakai tuh aku, bukan kamu!" pendelik Rina tidak mau kalah. "Ini sekali seumur hidup! Jangan bikin aku marah ya!"


"Itu terbuka, cewek Arab!"


"Terus kenapa?" tantang Rina.


"Nanti kamu masuk angin!" jawab Hoshi.


"Kan tinggal minta kamu kerokin pakai balsem!" balas Rina judes.


Faranisa tertawa terbahak-bahak. "Ya Allah, mana ada malam pengantin pakai acara kerokan?"


"Bener kan Nis? Kalau enter wind paling enak itu dikerokin punggungnya jadi tato tulang ikan terus habis itu minum teh mint panas lalu tidur. Hilang kan angin lisusnya?" ucap Rina ke calon iparnya yang masih tertawa.


"Ya ampun Cewek Arab! Elu itu orang Arab! Bisa-bisanya milih kerokan!" cebik Hoshi. "Enter wind itu ya minum Paracetamol dan obat flu!"


"Heh, muka pucat! Apa kamu lupa nyokap gue wong Jogja?" pelotot Rina galak.


"Pokoknya nggak boleh pakai itu!" Hoshi menunjuk ke arah katalog gaun pengantin yang dipilih Rina.


"1,2,3,4... " hitung Rina.


"Kamu ngapain?" tanya Hoshi bingung. "Kok malah hitung-hitungan?"


"Hitung sampai angka berapa aku bisa nahan emosi buat jotos kamu!" Rina menatap Hoshi kesal.


"Apakah berhasil?" tanya Hoshi.


"Eerr kalian berdua, aku permisi dulu" pamit Faranisa sambil membawa ipadnya dan meninggalkan kedua orang yang sedang berseteru itu.


"Apanya yang berhasil?" tanya Rina.


"Hitungannya. Apakah berhasil menahan emosi kamu?" seringai Hoshi.


BUGH!


"Astaghfirullah! Woooiii cewek Arab! Sakit tahu!" teriak Hoshi sambil mengusap bahunya yang ditonjok Rina.


"Masih bagus aku nggak hajar kamu beneran!" Rina pun ngeloyor meninggalkan Hoshi.


"Woooiii Rina! Minal aidzin lagi! Lu dosa lagi sama calon suami! Rina!" Tapi yang dipanggil memilih pergi.


***


"Kenapa bang?" tanya Direndra melihat Hoshi tersenyum smirk.



Direndra hanya menghela nafas panjang. "Sukanya bikin mbak Rina marah tho?"


Lebaran tahun ini para keluarga kumpul semua di Jakarta dan memutuskan untuk cuti besar hingga sebulan untuk persiapan duoble wedding lagi. Dalam setahun, keluarga besar Pratomo mengadakan acara pernikahan double wedding dua kali.


"Bikin Rina marah itu mood booster buat aku. Rina dan Werkudara itu asyik dijahili" cengir Hoshi.


"Untung mbak Rina udah mantep sama kamu banh, kalau nggak bisa ditinggal!" sungut Direndra sambil memakan lontong opor nya. "Kenapa sih masakan lebaran selalu begini?"


"Kan tradisi, Ndra. Tanpa opor ayam dan sambal goreng ati itu kurang afdol lebarannya" ucap Hoshi.


"Ini pada masak sendiri kah?" tanya Direndra yang datang pada saat pagi-pagi sebelum sholat Ied bersama Aidan, Thara dan adiknya Alaric. Keluarga Al Azzam Blair baru datang kemarin dari Dubai bersama dengan keluarga Schumacher dan Al Jordan.


"Udah pada masak-masak dari kemarin. Tahu sendiri kan para emak dan sepupu kita sukanya masuk dapur dan masak. Tuh dedengkotnya kalau sudah kasih perintah!" Dagu Hoshi menunjuk ke arah Rajendra dan Aruna yang sedang menyuapi Dira, putrinya.


Direndra terbahak. "Mas Jendra kan kalau soal masak memasak memang maju pertama seperti Daddy."


"Kamu nggak tertarik macam si chef bucin itu?" tanya Hoshi ke pria tampan di sebelahnya.


"Bang, tugas aku sebagai Emir Al Azzam saja sudah menyita waktu banyak mana Alaric sama saja bomat dan lebih memilih jadi anak hilang yang hobinya traveling dengan Ducati nya" keluh Direndra.


Alaric, bungsu Aidan Blair itu mirip sang Oma buyut Yuna Pratomo Blair yang pecinta seni dan traveling. Pria itu baru saja wisuda dan sekarang makin menjadi hobinya.


"Alaric tuh dikasih tahu, punya tugas berat juga. Kasihan elu sama eyang Hasyim."


"Bilangin deh bang, aku sudah capek kasih tahu anak bahlul itu" kekeh Direndra.


"Yaelah, adik sendiri dibilang bahlul ( bodoh ). Keluarga kita gak ada yang bahlul, cumiii!" omel Hoshi.


"Ngapain?" sebuah suara membuat keduanya menoleh dan tampak Alaric berdiri menjulang di hadapan mereka.



Alaric Al Azzam Blair


"Lu jangan tinggi-tinggi kenapa cumi! Bikin gerhana tahu nggak?" ledek Hoshi yang kesal kalah tinggi dari para adik-adiknya yang Emir Dubai. Hoshi memiliki tinggi hanya 181 sedangkan keempat Emir itu tingginya diatas dirinya semua.


"Iisshhh, sunat lagi Sono!" balas Alaric sambil duduk di depan Hoshi dan Direndra.


"Kampret lu!" cebik Hoshi. "Mumpung elu disini, lu tuh bantu kakak lu kerjaan Emir di Dubai. Bukan ngelayap pakai Ducati kemana-mana!"


"Bang, mumpung masih muda jadi nikmatin hidup lah. Lagian bulan depan aku pindah Dubai kok bantu Oom Abraham di RR's Meal sana sambil bantu mas Rendra. So, elu tenang ajah ya! Yang penting, mulai dari sekarang elu kudu hapalin bacaan ijab qobul." Alaric menyeringai licik.


"Gue curiga sama elu. Kenapa muka elu ikutan sok licik kayak gue?" Hoshi memicingkan matanya.


"Gue tadi kagak sengaja dengar kalau mbak Rina maunya pas besok elu ijab qobul pakai bahasa Arab, kagak pakai bahasa Indonesia atau Inggris." Alaric menatap serius ke Hoshi.


Direndra langsung terbahak. "Modyar lu bang!"



Direndra durjana juga lu...


"AAPPAAA!" Hoshi mendelik.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️