Hoshi, My Tiger

Hoshi, My Tiger
Mengambil Kehidupannya?



"Eh cewek Arab, lu kira gue mau dijadikan kambing guling buat nasi kebuli?" sungut Hoshi kesal.


"Kayaknya enak tuh nasi kebuli..." Rina tampak berpikir. "Anggep saja kamu gantiin kambingnya."



Hoshi menatap tidak percaya ke gadis cantik yang sangat digilainya tapi menganggap dirinya kambing. Seriously? Kambing?


"Apa kamu bilang?" Hoshi pun berdiri dan menghampiri Rina yang masih tersenyum usil.


"Kambing... mbeeekkk" gelaknya namun setelahnya suara gadis itu menghilang ketika Hoshi berdiri di hadapannya.



"Apa kamu bilang?"


"Mbee..." Bibir Rina pun terkunci oleh bibir Hoshi. Pria itu membungkuk sembari memegang wajah gadis itu agar tidak memberontak. Rina merasakan bagaimana perasaan Hoshi tersalurkan dari ciumannya, hanya mampu memegang jas pria itu.


"Sekali lagi kamu bilang aku kambing, wedhus, atau mbeeekkk, bakalan aku cium kamu!" ancam Hoshi setelah keduanya melepaskan ciumannya. Hoshi tampak geli melihat bibir gadisnya sedikit membengkak akibat ulahnya.


"Hukumannya kok ciuman? Tas Hermès limited edition dong" goda Rina.


"Kok kamu sekarang jadi tukan malak?" Hoshi menatap judes sambil bersedekap.


"Iya dong! Lagian main cium-cium aja!" Rina pun cemberut. Sebenarnya dirinya tidak ingin menodong Hoshi tapi dia mau berbuat usil kepada pria cantik itu.


"Hhmmm. Boleh kalau sudah ijab qobul ya" seringai Hoshi yang membuat Rina melongo.


"What?" Rina mendelik.


"Iyalah, kalau sudah resmi, kamu mau minta apa saja, aku kabulkan."


Astagaaa! Dasar mulut cabe! Otaknya jalan juga!


"Ehem..." Rina menetralisir jantungnya yang berdegup melihat bibir yang menggemaskan di hadapannya. Benar kata Freya, kalau ada bibir seksih itu dan cipokable, jangan sampai lepas. Eh, kok aku jadi ikutan meshum macam cewek penggemar hantu itu?


"Apa Rina Maliha Kareem?" Hoshi kini berlutut di hadapan gadis itu.


"Apa benar semalam kamu dikeroyok oleh preman kiriman Yudha?"


Cup!


Hoshi mencuri ciuman di bibir Rina. "Tahu dari siapa?"


"Papa. Tadi tanpa sengaja bertemu dengan pak Thomas di restauran dan Pak Thomas bercerita soal kamu."


"Iiissshhh Oom Thomas ember!" cebik Hoshi.


"Bagaimana kamu? Baik-baik saja kan?"


"Kalau aku nggak baik-baik saja, mana mungkin aku disini bisa mencium bibir kamu yang seksih?" Hoshi mencium bibir Rina sekilas.


"Hoshi!"


"Njih?"


"Kamu menyebalkan!"


"Semua orang bilang begitu" sahut Hoshi kalem.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan?"


"Tidak ada."


Rina menyipitkan matanya. Tidak mungkin seorang muka pucat tidak akan membalas orang yang sudah membuatnya kesal.


"Hoshi Paramudya Quinn Reeves! Apa yang akan kamu lakukan?"


Hoshi tampak berpikir. "Apa Yaaaa kira-kira setelah para cecunguk-cecunguk itu membuat sepatu Salvatore Ferragamo terkena noda darah?"


"Astagaaa! Malah mikir sepatu?"


"Mahal itu, cewek Arab!"


"Memang harga berapa?"


"$1,700."


"Buat kamu, uang segitu receh!" kekeh Rina geli.


"Untung aku nggak pakai yang limited edition harga $10,000."


Rina memegang pelipisnya.


"Jangan suka nyureng, nanti keriput dan biaya facial, treatment etc itu mahal, cewek Arab."


Rina melongo. "Kayak kamu nggak perawatan saja Hosh."


"Well, sebenarnya aku beruntung diwarisi jenis kulit yang bagus dari Opa dan Papa. Gen aku bagus kan Rina?" cengir Hoshi.


Rina hanya melengos. Hoshi pun berdiri dan menyempatkan mencium kening Rina.


"Apa yang akan kamu lakukan Hosh?" tanya Rina. Bukan tanpa sebab gadis itu bertanya kepada pria itu karena Rina tahu bagaimana keluarga Arimbi. Mereka memang tidak pernah. menyenggol siapapun, tapi kalau sekalinya disenggol, mereka akan membalas lebih kejam dari apa yang dilakukan.


"Oh astaga! Hoshi ! Jangan mengambil nyawa orang!" bentak Rina.


"Aku tidak akan mengambil nyawa orang kalau orang itu tidak keterlaluan. Aku hanya mengambil kehidupannya."


"Sama saja itu!"


"Beda baby, nyawa itu langsung dicabut, kehidupan dicabut, berarti dia akan mati pelan-pelan."


"Hoshi, please stop. Apapun itu, jangan lah. Kamu memang ada darah mafia tapi jangan terlalu dah..." Rina memegang wajah Hoshi. "Aku tahu arti nama Hoshi itu Tiger, tapi janganlah kamu menjadi raja hutan tidak jelas karena kita tahu diatas langit masih ada langit. Sekarang mungkin keluarga kalian diatas langit tapi entah tahun depan."


Hoshi menatap gadis cantik itu. Memang benar keluarga aku memiliki bisnis yang tetap bertahan akibat kerjasama dan merger sana sini yang membuat bisnis klan Pratomo semakin menggurita tapi kami juga tahu diri untuk tidak serakah.


"Itulah kenapa aku sangat mencintaimu, Rin. Kamu adalah wanita yang pantas buat Hoshi Paramudya Quinn Reeves."


"Apa maksudnya Hosh?"


"Kamu adalah wanita yang kuat tapi juga mampu memberikan pendapat yang logis. Aku suka perempuan logis."


"Kalau aku logis, aku tidak akan memilih kamu Hoshi."


Hoshi menaikkan sebelah alisnya. "Why?"


"Bisa dibayangkan dua orang dengan logika dan emosi balance menjadi satu? Bubrah!"


Hoshi terbahak. "Bukankah itu bakalan seru?"


Rina menggelengkan kepalanya. "Please, Hoshi, jangan ambil kehidupannya Yudha. Ingat, hukum tuai tabur berlaku."


"Kamu masih belain dia?" Hoshi langsung cemberut.


"Nggak, Tiger tapi aku eman kamu. Percaya padaku, jangan balas semuanya dengan kekerasan juga. Itu membuat kamu sama saja sama si banci itu!"


"Tiger... Aku suka panggilan itu daripada muka pucat" seringai Hoshi.


"Perasaan aku lagi ngomong serius, kenapa kamu malah ngomong yang lain sih?" Rina menggaruk kepalanya.


"Fix Rin, mulai detik ini, kamu harus memanggil aku Tiger!"


"Aku ganti toge gimana?" cengir Rina.


Hoshi mendekatkan wajahnya ke Rina. "Apa? Toge?"


"Eh?" Cup!


"Sekali lagi bilang kambing, wedhus, mbeeekkk dan ditambah toge, aku cium kamu."


"Hoshi modus!" seru Rina kesal.


"Eh sebentar lagi puasa. Kita bikin jadwal peraturan harus buka puasa bersama dan tarawih bareng yuk!"


Rina menatap Hoshi. "Serius?"


"Dua rius, cewek Arab! Masa iya aku melupakan ibadahku?"


Rina mencium pipi Hoshi. "Aku suka itu."


***


Benji dan Bryan hanya bisa saling termangu setelah mengetahui aib yang dimiliki Yudha.


"Dad..." panggil Benji.


"Ya?"


"Aku tidak munafik, teman-teman kuliah aku ada yang seperti ini tapi mengetahui bahwa orang terdekat kita nyaris menjadi korban manusia tidak bermoral seperti itu."


"Ben, keluarga kita tidak sempurna. Kita bahkan pernah membunuh orang tapi itu karena mereka semua pantas mendapatkannya. Tapi ini diluar nalar kita semua, Boy. Bagaimana bisa seseorang berbuat maksiat baik dengan pria maupun wanita?" Bryan hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Bahkan mereka memiliki label tersendiri yang membuat aku tidak habis pikir Dad. Tidak ada Adam menikah dengan Adam. Yang ada Adam menikah dengan Hawa, bahkan binatang saja pasti mencari lawan jenis, magnet pun baru bisa menempel jika berlawanan."


"Jadi, Hoshi minta apa?" Bryan kembali ke topik pembicaraan.


"Mengambil kehidupannya."


Bryan hanya menatap datar ke Benji, putranya.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Maaf telat... family time heula di jogjes


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


tararengkyu ❤️🙂❤️



Wink dari bang Hoshi