Hoshi, My Tiger

Hoshi, My Tiger
Clumsy Yang Gemesin



Bagas melirik ke arah gadis cantik di sebelahnya, gadis yang baru dua puluh satu tahun, beda tujuh tahun denganku. Pantas saja Safira seenaknya manggil aku 'Oom' padahal aku seumuran dengan kakak sepupunya.


"Kamu kok tumben pakai pesawat komersial? Nggak pakai pesawat pribadi keluarga Pratomo?" tanya Bagas sambil membuka ipadnya.


"Pesawatnya dipakai papa ke London. Ada simposium disana, jadinya aku ke Jakarta naik pesawat komersial. Yang sialnya malah aku kena tangkap." Safira hanya menatap pemandangan luar jendela.


Mereka sekarang sedang berada di dalam mobil Mercedes C-Class hitam milik Bagas bersama dengan asisten dan sopir.


"Kok bisa scalpel masuk ke dalam tas Hermès mu?" tanya Bagas lagi.


"Namanya saja kecangking ( ikut terbawa )" jawab Safira asal.


Bagas hanya menggelengkan kepalanya. "Itu bukan kecangking Fira, tapi memang kamunya saja ceroboh, tidak periksa lagi."


Safira hanya mendengus.


"Ngapain kamu ke Jakarta?"


"Ada libur di kampus seminggu jadinya yaaa aku kesini saja lah daripada manyun di Singapura."


"Kan temanmu banyak disana?"


"Enak disini. Bisa morotin mas Hoshi, mas Bima, ghibah sama mbak Rimbi, mbak Falisha, mbak Freya, mbak Rina, bisa diskusi dengan Anandhita sama Arga." Safira menyebutkan nama-nama sepupunya yang di Jakarta.


"Ya ampun..." keluh Bagas.


"Kenapa Oo...eh mas?" tanya Safira sebelum dipelototi Bagas.


"Kalau saudara mu disini banyak, kenapa aku yang kamu repotin buat bantu kamu keluar dari tahanan bandara?" Bagas menatap gadis itu dengan perasaan gemas dan jengkel.


"Panjang urusannya. Pertama, pasti diomeli si cabe pedas aka mas Hoshi, habis itu kena ceramah tauziah sama kakak-kakak perempuanku, ketiga diledek habis-habisan sama Dhita dan Arga, keempat Oom, Tante, Opa dan Oma pasti laporan ke papa dan mama. Nanti aku jadi trending topik di keluarga. Tajuknya 'Safira ditahan di bandara'. Jadi skandal lah! Memang Oom... eh mas Bagas tega melihat aku jadi trending topik mendapatkan aib di keluarga aku?" cerocos Safira tanpa jeda yang membuat Bagas melongo.


"Tega sih kalau aku" akhirnya Bagas membuka mulutnya setelah terkesima melihat wajah menggemaskan gadis itu.



Safira menganga tidak percaya. "Dasar Oom-oom tega!" umpatnya sambil memukul bahu Bagas.


"Kamu apa nggak putri tega? Bikin aku harus meninggalkan pekerjaan demi kamu yang super ceroboh pakai acara drama mau nangis gitu!" omel Bagas.


"Kalau aku nggak akting nangis, Oom Bagas juga nggak mau datang nolongin" ucap Safira cuek lalu menatap luar jendela lagi.


"Apa? Safiraaaaa!" desis Bagas kesal.


Asisten dan sopir Bagas hanya bisa diam melihat interaksi bossnya dengan gadis cantik itu.


Kayaknya ini kali kedua si boss sama cewek yang sama. Tumben si boss mau Deket sama cewek lagi setelah sekian lama lebih suka sibuk bekerja dan nggak pernah kemana-mana.


Asisten Bagas tahu kalau selama ini, Bagas sudah lama tidak pernah ke tempat dugem, jalan bareng sama cewek seperti dulu. Pulang kantor pasti langsung ke rumah. Kalau pun ada acara bisnis malam, dia juga tertib tidak seperti dulu yang masih dilanjutkan dengan ons bersama cewek-cewek cantik.


Alhamdulillah si boss sudah sadar. Semoga cewek imut itu jodohnya si boss.


***


Bagas mengantarkan Safira ke kantor pusat PRC group karena permintaan si gadis ceroboh itu. Lagipula jarak kantor milik Davina Arata itu lebih dekat dengan kantor Bagas.


"Oom Bagas nggak naik dulu? Nggak kangen sama mbak Freya?" ajak Safira dengan wajah polos.


"Kamu mau bikin pecah perang dunia aku sama Haris ya?" sungut Bagas kesal. Gadis satu ini memang cantik tapi kelakuan sama mulutnya minta diajak berantem.


"Lha kan bisa sekalian ketemu sama mas Haris" lanjut Safira lagi masih dengan wajah santai.


Astaghfirullah Al Adzim. Kayaknya aku kudu banyak - banyak istighfar kalau dekat sama Safira.


"Udah deh nggak usah cari perkara. Sana masuk. Jangan ceroboh!" Bagas pun masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Safira di pintu lobby gedung PRC group.


***


Freya dan Arimbi menatap adik sepupu mereka dengan tatapan kepo. Melihat Safira datang, tentu saja kedua kakaknya bertanya naik apa ke kantor. Ketika dijawab oleh Safira diantar oleh Bagas, keduanya auto kepo maksimal.


"Kok bisa Bagas jemput kamu di bandara terus antar kemari?" tanya Freya.


"Buktinya bisa" jawab Safira cuek.


"Aku curiga deh! Nggak mungkin kan Bagas main jemput Safira kalau tidak ada alasan yang bagus?" sahut Arimbi sambil memakan soto Betawi nya.


Ketiga gadis cantik bersaudara itu sekarang berada di kantin kantor. Dan para pegawai PRC group pun juga santai bersama mereka makan siang di kantin tapi dengan mengambil jarak dari boss-boss mereka.


"Menurutmu, Bagas modus nggak tuh sama Safira?" tanya Freya ke Arimbi.


"Kayaknya kok kali ini nggak kelihatan modus deh mbak" jawab Arimbi.


"Kalau pun modus, kan sudah tahu kudu gimana. Lagian dia juga sudah janji sama Opa Javier buat tobat." Freya menatap Safira lekat-lekat. "Kamu ada perasaan sama Bagas nggak?"


"Nggak. Lagian siapa yang mau sama Oom-oom" cebik Safira.


"Dia seumuran mas Rama, Firaaaa" sahut Arimbi gemas.


"Tapi kok dia lebih Oom-oom dari mas Rama ya" gumam Safira cuek.


"Karepmu Wis." Arimbi pun menyesap juice alpokat nya.


"Mbak Rimbi" panggil Safira.


"Apa?"


"Anaknya cowok atau cewek?"


"Hasil USG sih cowok" jawab Arimbi.


"Alamat..." gumam Safira.


"Alamat apa?" tanya Freya.


"Alamat slengean mirip mas Bima" gelak Safira.


"Asal jangan ceroboh kayak kamu saja Fir. Mbak heran deh, kamu tuh nurunin siapa sih cerobohnya?" Freya menatap gemas ke adiknya.


"Meneketehe. Papa dan mama saja bingung, apalagi aku yang melakoni" jawab Safira cuek.


"Mbok ya dikurangi cerobohnya kamu itu, Fir." Arimbi menatap adiknya.


"Insyaallah."


***


Bagas masuk ke dalam ruang kerjanya dan segera melepaskan jasnya. Baru saja dia duduk di kursi kebesarannya, ponselnya berbunyi dan tampak nama 'Quinn Reeves' di layar.


"Assalamualaikum Quinn" sapanya.


"Wa'alaikum salam. Gas, kenapa Safira bisa ditahan di imigrasi bandara Soekarno Hatta?" tanya Hoshi tanpa basa basi.


"Dia ketangkap karena ada scalpel di dalam tas Hermès nya."


"Scalpel? Scalpel? Pisau bedah?" seru Hoshi di seberang.


"Iya." Bagas tidak perlu harus bertanya darimana Hoshi tahu soal itu.


"Astaghfirullah tuh anaaaakkk!"


"Sudah aku bereskan, Quinn. Aku yang menjamin Safira tadi."


"Beneran deh! Minta dijewer bener tuh cumi! Thanks ya Gas sudah bantuin Safira. Sekarang makhluknya dimana?"


"PRC group pusat."


"Oke. Thanks."


"De nada."


Bagas mematikan panggilan dari Hoshi. Akan ada gegeran nih kayaknya. Bagas tersenyum membayangkan wajah manyun Safira.


Kok lama-lama kamu gemesin, clumsy?


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️