Hoshi, My Tiger

Hoshi, My Tiger
Jin Iprit



Hoshi duduk bersama Yudha setelah pria itu diambil darahnya di laboratorium. Dalam hatinya, pria cantik itu tertawa miris. Disaat dia dikeroyok oleh preman kiriman Yudha, kini dia malah membantunya. Life is so drama.


"Quinn..." panggil Yudha pelan.


"Apa Yud?" Hoshi memejamkan matanya.


"Rina kemana?"


"Pergi makan dengan Rendra. Kenapa? Oh, kenapa kamu memanggil adikku itu Emir Al Azzam?" Hoshi membuka matanya sebelah.



"Disini semua orang tahu siapa Direndra, Ayrton dan Enzo. Tiga Emir dari dua istana terkenal di Dubai, Al Jordan dan Al Azzam."


"Masih ada satu Emir lagi yang belum ke Dubai karena dia masih kuliah di Oxford. Alaric Al Azzam Blair."


"Apakah dia akan ke Dubai juga?" tanya Yudha.


"Aku belum tahu karena setahuku, Direndra yang akan menjadi pewaris utama. Alaric lebih memilih menjadi pengusaha restauran seperti Oom Aidan."


Yudha menoleh ke arah Hoshi.


"Kalau kamu berani macam-macam denganku, nyawamu melayang!" Hoshi menatap judes.


Yudha terbahak. "Sejujurnya Quinn, wajahmu banyak diincar banyak kaum g@y."


Hoshi bergidik. "Amit-amit!"


"Berhati-hatilah karena semalam, para teman-temanku sudah pada mengincarmu." Yudha menatap lurus ke ruang laboratorium.


"Berani menyentuhku, siap-siap saja ketemu aku sebagai Lucifer karena mewakili malaikat Izrail." Mata Hoshi berkilat penuh kemarahan.


Yudha bergidik melihat Hoshi. Aku tidak terkejut jika pria ini bisa membunuh banyak orang dengan tangannya sendiri.


"Quinn. Apa aku bisa sembuh?" Yudha menerawang menatap langit-langit rumah sakit.


"Jika kamu yakin, banyak berdoa, rajin berobat jangan sampai bolong, insyaallah diberikan kesembuhan. Oh, bertobatlah! Mohon ampun karena apa yang kamu perbuat adalah sesuatu yang dilaknat Allah." Hoshi tersenyum smirk.


"Padahal kamu tadi mengatakan akan menjadi Lucifer" kekeh Yudha.


"Aku hanya menjadi Lucifer karena membela dan melindungi diriku sendiri dari orang-orang berorientasi sek*sual yang salah! Bukankah bila ketahuan, kalian akan dihukum rajam hingga mampus?"


Yudha terdiam.


"Mungkin karena ada pangeran Kamil jadi para aparat seolah seperti trio monkey. No see, no speak, no hear" gumam Hoshi.


"Bisa jadi karena dia juga sama denganku" ucap Yudha lirih.


"Aku tidak habis pikir. Apa sih yang kalian cari? Kenikmatan hanya paling banter satu jam tapi dapat penyakit seumur hidup. Sejujurnya Yud, semua itu berpulang ke diri kita sendiri. Kita selalu ada pilihan atas segala sesuatu. Mau pilih A atau pilih B dengan segala konsekwensinya." Hoshi menatap sendu ke seorang pria yang dia tahu pasti mengidap penyakit yang parah.


"Kenapa Quinn?" tanya Yudha melihat Hoshi terdiam.


"Pria itu adalah pemadat, pecandu heroin dan aku yakin dia sedang sakit parah sekarang. Lihat saja kulitnya seperti itu dan matanya menguning. Aku rasa dia terkena Hepatitis."


Yudha melihat ke orang yang dimaksud Hoshi. Meskipun duduk agak jauh dari mereka berdua, tapi Yudha salut dengan ketajaman mata Hoshi.


"Kamu tahu, kedua orangtuaku tidak kuno. Bahkan mereka mengijinkan aku merokok dan minum asal aku bisa bertanggung jawab. Tapi satu yang mereka larang dengan keras, narkoba."


"Alasannya Quinn?"


"Kamu akan selalu bisa berhenti minum, berhenti merokok dan badanmu tidak separah saat sakaw akibat tidak ada obat yang masuk. Aku mempunyai teman kuliah di MIT dulu yang ngedrug nya sudah main heroin, bukan kokain lagi. Rehab, pulang, kumat, rehab. Terus begitu sampai dia dikeluarkan dari MIT dan tak lama dia meninggal karena over dosis." Hoshi tampak sendu bila mengingat teman seangkatannya itu. "Dia baru 19 tahun, Yud. Padahal aku tahu dia pintar tapi narkoba merusak semuanya."


Yudha terdiam. "Quinn, maafkan aku karena aku sudah mengirimkan preman-preman itu."


"Aku sudah tidak memikirkan lagi. Yang jelas sekarang, buat hidup kamu berguna. Meskipun kamu sakit, semangat lah. Kalau bisa kamu minta bekerja di daratan bukan di laut lepas agar kamu bisa ke rumah sakit teratur."


Yudha mengangguk. "Aku sudah mengajukan tadi pagi Quinn. Tinggal menunggu keputusan perusahaan."


"Sembuhlah untuk diri kamu sendiri."


"Ternyata Rina memang pantas denganmu, Quinn." Yudha tersenyum ke arah Hoshi.


"Astagaaa!" kekeh Yudha.


***


Rina dan Hoshi bersama ketiga adiknya sekarang berada di halaman belakang istana Al Jordan. Ketiga adiknya bingung menghadapi sang kakak yang tampak santai saja membantu Yudha. Sore tadi Hoshi, Rina dan Direndra berpisah dengan Yudha dan berjanji tiga hari lagi akan bertemu di rumah sakit untuk mengetahui hasil laboratorium.


"Mas, apa kamu habis diruqyah? Kok jadi kalem?" selidik Benjiro.


"Ternyata berbuat baik itu menyenangkan juga" gumam Hoshi yang membuat ketiga adiknya melongo.


"Mbak Rina, tolong dipegang keningnya mas Hoshi. Panas nggak?" Direndra tampak bergidik. "Apa si gennie nya Aladdin kasih jampi-jampi yang salah ke masku satu ini."


Rina meletakkan punggung tangannya ke kening Hoshi. "Panas."


"Nah bener kan! Kudu mandi kembang tujuh rupa tuh!" celetuk Benji.


"Ben, kita cari kembang yuk!" ajak Direndra.


BUGH!


"Sembarangan!" umpat Hoshi yang melempar bantal ke wajah tampan Direndra.


"Kau bukan mas Hossshiiii! Kembalikan kakakku wahai jin iprit!" teriak Benji dramatis.


"Eh cumi! Siapa juga jin iprit! Kampret lu!" hardik Hoshi kesal.


"Alhamdulillah kau telah pergi dari tubuh kakakku, oh Jin iprit" Direndra bergaya sedang berdoa dengan membuka kedua tangannya.


"Rendraaaa!" teriak Hoshi kesal.


"Allohu laa ilaaha illaa Huwal Hayyul Qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa nauum, la Huu maa fis samawaati wa maa fil ardh, mann dzalladzii yasyfa’u ‘inda Huu, illa bi idznih, ya’lamu maa bayna aidiihim wa maa kholfahum, wa laa yuhiituuna bisyayim min ‘ilmi Hii illaa bi maa syaa’, wa si’a kursiyyuus samaawaati walardh, wa laa yauudlu Huu hifdzuhumaa, wa Huwal ‘aliyyul ‘adziiim."


Hoshi, Rina, Direndra dan Benji langsung menoleh ke arah Ayrton.


"Lu baca ayat kursi?" pendelik Hoshi. "Astaghfirullah! Cumiiii !!!"


"Lho katanya mas Hoshi kesambit jin iprit" kekeh Ayrton usil.


"Brengsek lu semua!" Hoshi melempar bantal ke arah Ayrton yang langsung menghindar.


Rina tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Hoshi bersama dengan adik-adiknya.


"Kualat lu sama orang tua!" sungut Hoshi kesal.


"Jiaaahhh dia ngaku sudah tua!" gelak Benji.


"Kamuuuu!" Hoshi langsung memiting leher Benji sambil mengusek kepala putra Bryan Smith itu.


"Aaaahhh rambutku kusuuuttt!" protes si bontot.


Fatimah dan Tamara yang mendengar ribut-ribut di belakang hanya bisa mengelus dada. Nggak opa nggak cucu, hobinya kok rusuh dan gesrek sih?


"Eh sudah! Hoshi! Benji! Stop!" teriak Fatimah.


"Njih Oma" seru mereka semua.


"Ayo masuk, istirahat!" ajak Tamara.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️