
"Siapa itu prince Kamil bin Abdullah?" Bima menatap ketiga orang yang berada di ruang praktek dokter Atifa Syarief dengan wajah bingung. Did I miss something here?
"Prince Kamil bin Abdullah adalah putra mahkota Emir Abdullah dari Abu Dhabi dan dia adalah putra satu-satunya dari permaisuri Emir" ucap dokter Atifa.
"Dan dia bise*sual? What? Seriously?" pendelik Bima tidak percaya.
"Dia memang seperti itu, Bim" jawab Yudha.
"Apa jadinya jika seorang pangeran, pewaris gelar Emir, berpenyakit seperti itu?" gumam Bima.
"Bodo Amat! Salah sendiri memilih hidup hedonis yang menyalahi kodrat demi naf*su binatang nya! Mana ada macan cowok kawin sama macan cowok? Binatang aja ga doyang terong versus terong, eh manusia yang dikasih akal, otak dan logika sempurna malah lebih begok dari undur-undur!" omel Hoshi.
Ketiga orang disana memandang pria cantik itu dengan melongo. Wajah Yudha tampak pias karena secara tidak langsung Hoshi mengatainya begok.
"Malah undur-undur lu bilang!" gerutu Bima sambil manyun.
"Daripada gue bilang bang*sat yang suka ada di kursi rotan?" balas Hoshi nggak mau kalah. "Kan ambigu itu. Bang*sat binatang atau bang*sat misuh!"
"Repot ngomong sama elu!" sahut Bima kesal.
"Gue kagak digelari si mulut cabe di keluarga kalau nggak gini, chuy!" cengir Hoshi durjana.
"Whatever cumi!"
Dokter Atifa berdehem mendengar perdebatan dua pria Asia tampan di hadapannya.
"Tuan Quinn, tuan Bimasena, tuan Yudha, saya minta tolong agar kondisi prince Kamil disembunyikan. Saya tidak mau terjadi skandal yang bisa menyeret tuan Yudha dan ada kemungkinan untuk dideportasi dan akan menyulitkan pengobatan tuan Yudha karena ini masalah serius dan tidak boleh bolong sehari pun."
Ketiga pria itu saling berpandangan.
"Kalau kami, bisa tutup mulut tapi saya tidak bisa menjamin kalau ada dari salah satu dari gerombolan itu membuka rahasianya" ucap Hoshi.
Dokter Atifa hanya mengangguk.
***
Safira mengembuskan napas panjang di kursi panjang depan ruang operasi setelah mengikuti dokter senior yang mengoperasi pasien tumor di payu*dara. Dirinya benar-benar lelah setelah mengamati jalannya operasi. Terkadang Safira menanyakan dirinya sendiri, apakah dia mampu menjadi seorang dokter bedah seperti Opa Mamoru dan Oma Ingrid atau memilih menjadi dokter obgyn atau jantung seperti Tante Arum, Tante Rani dan Papanya.
Gadis itu pun melepaskan cap operasinya dan rambut coklatnya tampak lembab karena keringat termasuk scrubnya yang basah oleh keringat. Sambil berjalan lesu, Safira pun berjalan menuju ruang loker dan mengambil tasnya. Yang Safira inginkan saat ini adalah berendam dan tidur.
Setelah mengambil tasnya, gadis itu pun berjalan menuju keluar rumah sakit sembari menyapa ramah para dokter, suster dan staf. Dan tak lama, Uber yang dipesannya datang dan membawa dirinya ke apartemennya.
Sesampainya di apartemen, gadis itu langsung masuk ke kamar mandi, menyiapkan bathub yang diberikan sabun harum dan garam mandi. Tak lama, Safira melepaskan semua bajunya dan mulai berendam.
Gadis itu lupa untuk mengaktifkan sound pada ponselnya dan tidak menyadari bahwa sejak tadi ponselnya bergetar terus.
***
"Kemana si clumsy? Dari tadi nggak diangkat? Jangan-jangan lupa mematikan do not disturb nya. Aaaahhh! Dasar Safiraaaaa!"
Bagas Hadiyanto ngomel-ngomel sejak dua jam lalu. Setibanya di Singapura untuk urusan bisnis, Bagas berniat mengajak Safira makan malam tapi yang ditelpon tidak ada respon.
"Beneran deh! Kalau sampai do not disturb nya belum di off kan! Awas!" Bagas mencoba menelpon gadis itu lagi yang lagi-lagi tidak ada jawaban.
"Brengsek!"
***
Safira meregangkan tubuhnya yang sudah relaks dan usai membilasnya, gadis itu lalu memakai kaos rumah kebesaran favoritnya dan celana pendek untuk tidur.
Diambilnya ponsel dari dalam tasnya dan mata hijaunya melotot melihat banyaknya panggilan dari Bagas.
Dih, si Oom ngapain telpon? Kok aku nggak denger ya... Astaghfirullah! Masih aku silent rupanya. Pantas banyak misscall.
Safira pun tiduran di atas tempat tidur Queen size nya lalu menonaktifkan no disturbnya dan hendak menelpon Bagas tapi pria itu sudah menelponnya lebih dulu membuat gadis itu terkejut.
Kok video call? - batin Safira yang akhirnya menggeser tombol hijau.
Neng Fira, ada yang muring-muring tuh!
"Safiraaaaa! Kamu tuh kemana sih?" bentak Bagas kesal.
Safira pun manyun. "Aku tadi tuh berendam! Nggak mungkin kan bawa handphone."
"Kok nggak ngajak mas berendam sekalian?" goda Bagas yang membuat Safira auto melongo.
"Mas Bagas meshuuumm!" jerit Safira kesal.
"Meshumnya sama kamu kok! Lagian sudah boleh sama Opa Javier" kekeh Bagas.
"Ish! Siapa yang mau sama Oom meshum macam kau!" ledek Safira dengan logat Batak.
"Kamu, sayangku" cengir Bagas. Rasa kesalnya sudah mulai hilang. "Eh, jangan bilang tadi kamu lupa menonaktifkan silent mu ya?"
Safira nyengir lebar. "Iyaaa."
Bagas menepuk jidatnya. "Sudah aku duga!"
***
Faranisa tiba di Singapura untuk mengikuti Singapore Fashion Show. Sarah, sang manager dan Jenny, pengawalnya pun mendampingi putri Fuji Al Jordan itu.
Dua bulan lalu, Faranisa memutuskan untuk datang ke kantor Patrick Rogers setelah dia menceritakan lamaran yang dilakukan putra senator itu. Fuji dan Seira Hayami memang sudah tahu banyak pria yang mendekati putrinya tapi hanya Patrick yang terang-terangan menyatakan keseriusannya.
Kedua orang tua Faranisa menyerahkan semua keputusan itu pada putrinya karena yang akan menjalani adalah dirinya.
"Daddy sih sudah tahu sepak terjangnya Patrick bukan temannya Spongebob itu dan so far, dia lolos. Daddy tidak mau kamu hanya emosi sesaat dan baper dengan sikap Patrick jadi menerimanya. Pikirkan baik-baik. Sholat sepertiga malam jika kamu kesulitan mencari jawabannya." Nasehat Fuji kepada putrinya.
Dan Faranisa pun memilih melakukan sholat di sepertiga malam dan dia mendapatkan beberapa petunjuk bahwa Patrick Rogers yang terbaik meskipun pria itu masih belajar agamanya. Akhirnya gadis itu mendatangi kantor Patrick di daerah Hyde Park.
Resepsionis yang mengetahui siapa Faranisa, mengijinkan gadis itu menuju ruangannya Patrick. Sang asisten yang melihat gadis pujaan boss nya datang, mempersilahkan Faranisa datang.
Patrick tersenyum melihat gadis cantik itu datang dan dia sudah tahu jawabannya.
"Fara..." panggilnya mesra.
"Patrick." Faranisa berdiri di depan meja kerja pria itu.
Patrick Bukan Temannya Spongebob
Faranisa yang sudah mantap
"Kamu sudah memiliki jawabannya?" Patrick pun berdiri berjalan menuju gadis cantik itu. Pria itu lalu bersandar di meja kerjanya di hadapan Faranisa.
"Aku... " Faranisa memilin jari-jarinya pertanda dirinya sangat gugup. Mending aku jalan di catwalk daripada harus berhadapan dengan Patrick.
"Aku apa, sayang?" tanya Patrick mesra.
"Aku... menerima ka..." suara. Faranisa menghilang ketika Patrick membungkam mulutnya dengan mulut pria itu. Kedua tangan Patrick memegang wajah Faranisa yang terkejut dengan ciuman pria itu.
"Terimakasih, Fara. I love you so much" bisik Patrick usai mencium bibir Faranisa.
***
Faranisa mencoba menelpon sepupunya, Safira tapi line nya sibuk terus.
Kemana ini kakakku yang cerobohnya amit-amit. Sedang ditelpon siapa sih?
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️