Hoshi, My Tiger

Hoshi, My Tiger
Flashback 3



Bagas segera memesan tiket menuju New York besoknya setelahnya dia mengurus visa di kedutaan Amerika Serikat. Sesampainya di kantor setelah selesai urusannya, Bagas meminta Indra, assisten nya untuk memegang sementara urusan pekerjaan selama dia berada di New York.


"Bapak ada urusan apa di New York? Kok mendadak sekali?" tanya Indra..


"Urusan nyawa ini, Ndra!" ucap Bagas serius.


"Yang benar pak?" Indra tampak gelisah dan takut. "Nyawa siapa pak?"


"Nyawaku."


***


Bagas tiba di bandara JFK setelah menempuh perjalanan 18 jam yang membuat badannya sakit semua. Meskipun sudah mengambil business class yang dianggapnya paling nyaman, tetap saja badannya merasa pegal-pegal.


Sepulang dari sini, aku tampaknya minta pijat deh! Tapi jangan ke tempat pijat plus-plus macam dulu, cari yang benar.


Seorang sopir sudah datang menjemputnya dan mereka pun menuju ke sebuah rumah sakit tempat Javier dirawat di Roswell Park Cancer Institute.


"Apakah tuan Javier dirawat inap disana?" tanya Bagas pada sopir Javier.


"Tidak tuan, ini jadwal kemoterapi saja. Tadi tuan Arata meminta saya mengantarkan anda kesana" jawab sopir itu.


Bagas pun mengangguk.


Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam dari Bandara, Bagas pun tiba di sebuah rumah sakit yang mengkhususkan untuk para penderita kanker.


Bagas masuk ke dalam lobby yang luas dan duduk di salah satu sofa disana. Sopir Javier mengatakan agar dirinya duduk disana sembari menunggu Javier selesai kemoterapi.



Sembari menunggu Opa Falisha itu, Bagas membuka iPad nya dan mulai membuka laporan pekerjaan yang dikirimkan Indra. Wajahnya yang ganteng khas Indonesia, membuat beberapa orang bisik-bisik membicarakan dirinya tapi Bagas mengacuhkan dan tetap fokus bekerja. Perbedaan waktu 11 jam antara Jakarta dan New York membuat Bagas terlambat membaca laporannya.


"Sudah lama, Bagas?" suara bariton khas Javier terdengar oleh Bagas yang mendongakkan kepalanya.


Bagas pun berdiri dan mencium punggung tangan Javier yang langsung memeluknya. Sikap pria yang dikenal sebagai pengusaha dingin dan kejam, tidak terasa di Bagas saat ini. Tubuh Javier lebih mengurus dari saat terakhir dia lihat di pesta pernikahan duo F.


"Tuan Javier baik-baik saja?" tanya Bagas setelah Javier mengurai pelukannya.


"Well, damn chemotherapy! Bikin makan tidak enak!" kekeh Javier. "Kamu tahu Gas, aku tidak boleh makan sate kambing!" Javier pun duduk di hadapan Bagas. Asisten dan perawat Bagas duduk di sofa lainnya.


"Astaghfirullah. Jangan dulu lah tu..."


"Panggil saja Opa seperti Fa, Freya dan Safira. Bukankah kita tidak sedang dalam urusan pekerjaan?" senyum Javier.


Seriously? Aku panggil opa? Yang benar saja Sir?


"Baik O..pa" senyum Bagas.


"Gimana rasanya dipanggil 'mas Bagas' oleh cucuku yang ceroboh itu?"


Bagas menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Well, agak mendingan daripada dipanggil 'Oom', berasa tua saya."


"Aku mendapatkan cerita dari Fa dan Freya kalau kamu meminta mereka dan Arimbi mengawasi Safira agar tidak ceroboh. Benar?"


"Benar Opa."


"Dan Safira memilih kamu yang membebaskan dirinya dari tahanan bandara?"


"Itu saya juga tidak menduganya, Opa."


"Apakah Nathan dan Haura sudah bertemu denganmu?"


"Belum Opa, kata Safira, dokter Nathan dan dokter Haura sedang ke London."


Javier mengangguk. "Bagaimana perasaan kamu ke Safira? Sejujurnya?"


"To be honest Sir, saya sering gemas dengan si clumsy itu" senyum Bagas.


"Clumsy?"


"Eh? Itu panggilan saya ke Safira sih, Opa."


"Oma Agatha kemana, Opa?" tanya Bagas mencari istri Javier.


"Agatha sedang kumpul-kumpul dengan Rhea dan Yanti. Biarkan dia memiliki waktunya sendiri karena aku tahu, dirinya lelah selama ini menemani aku periksa, kontrol, kemoterapi. Ada saatnya dia menikmati 'women day' bersama saudaranya." Javier melembutkan wajahnya saat membicarakan Agatha. Bagas dapat melihat bagaimana cintanya Javier kepada istrinya itu.


"Kamu tahu Gas, aku tidak takut mati tapi aku lebih takut jika Agatha sedih berkepanjangan ditinggal aku. Secara kami menikah hampir 50 tahun. Kamu bisa bayangkan apa saja yang sudah kami lalui selama itu. Kelahiran Davina, pernikahan putriku dengan Kareem, kelahiran dua cucuku Falisha dan Fathir sampai Fa menikah dengan Aji."


"Oma Agatha adalah wanita kuat, Opa" ucap Bagas.


"Luarannya saja Agatha savage tapi dia sama saja dengan wanita yang takut kehilangan pasangannya" senyum Javier. "Oke, Bagas. Sudah tidak maksiat lagi?"


"Alhamdulillah sudah jauh Opa. Sejak bertemu dengan Falisha, saya auto tobat dan saya lebih memilih pola hidup sehat. Oom Kareem adalah tempat saya berdiskusi berbagai macam hal jika kami menyempatkan bertemu makan siang atau pun bermain golf."


"Alhamdulillah. Saya ikut senang. Masih rutin periksa kan kamu?"


Bagas tertawa kecil. "Benar-benar tidak ada yang bisa lolos dari seorang Javier Arata."


"Aku tidak mungkin dijuluki si licik dari klan Pratomo kalau tidak tahu semuanya. Bahkan apa penyebab Rina membatalkan pernikahan dengan Yudha pun aku tahu."


Bagas melongo. "Berarti Quinn berhasil menikung dengan sama liciknya dengan anda, Opa."


"Well, licik tidak tapi yang namanya bangkai suatu saat pasti akan terbongkar juga entah bagaimana caranya." Javier tersenyum smirk.


"Wah, Opa benar-benar deh" kekeh Bagas.


"Rina beruntung lepas dari tukang gali kubur itu dan aku sih berharap dia bersama dengan si mulut cabe itu. Aku sudah suka dengan anak itu sejak masih sekolah di SMP bareng Arimbi dan Falisha."


Bagas menggelengkan kepalanya. Nggak Opa nggak cucu kalau kasih nama seenak jidatnya. Eh tapi aku juga kasih nama Safira si Clumsy juga Ding.


"So Bagas, bagaiamana Safira. Sudah mulai berkurang cerobohnya?"


"Agak lumayan Opa, setidaknya dompet, ponsel dan kunci mobil tidak ketinggalan lagi."


"Hhmmm. Scalpelnya sudah tidak ada kan?"


Bagas terbahak. "Parah itu Safira. Tapi kata Quinn masih mending daripada Glock atau ppknya kebawa."


"Bisa-bisa Opa gantung anak cantik itu di pohon cabe kalau sampai membawa pistolnya lewat jalur reguler bukan jalur VIP seperti biasanya." Javier memegang pelipisnya gemas.


"Apakah Safira bisa menembak, Opa?"


"Safira sama seperti cucuku lainnya, kecuali Anandhita yang tidak mau ambil kelas beladiri, dia bisa menembak dan judo."


Bagas hanya bisa mengangguk.


"So, apakah Safira tahu tentang masa lalu kamu?"


"Saya sudah menceritakan semuanya kepada Safira termasuk bagaimana bajingannya saya dulu."


Javier mengangguk. Bagas sangat gentleman menceritakan pada cucunya dan tidak mudah bagi seorang pria untuk mengakui keburukannya kepada seorang gadis yang bukan apa-apanya.


"Bagaimana tanggapan Safira?"


"Safira bilang pada saya kalau dia menghormati dan menghargai kejujuran saya. Setidaknya saya mengakui dan berusaha berhijrah. Kalau boleh saya quote 'Aku lebih menghargai bajingan yang bertobat daripada tampak alim di depan tapi bajingan di belakang '. Dan saya seperti mendapatkan air sejuk di hati saya. Setidaknya Safira tidak mencela kehidupan masa lalu saya."


Javier mengangguk. "Apakah kamu mencintai Safira?"


Bagas menatap Javier. "Saya..."


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Maaf aku kesiangan bangun 🤣🤣🤣


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️