
Hoshi dan Rina sibuk mencari barang-barang seserahan yang sesuai dengan keinginan gadis itu. Rina tidak mau kejadian Freya yang protes sama Hari warna lingerie jadi ramai gara-gara Freya tidak suka dengan warna gonjreng.
"Hoshi."
"Hhmmm."
"Safira serius tuh sama pak Bagas?" tanya Rina.
Hoshi menoleh ke arah tunangannya yang sedang asyik memilih sepatu Jimmy Choo sebagai acara balas dendam sepatunya yang dibuang pria itu. Tidak tanggung-tanggung, Rina langsyng menodong tiga sepatu Jimmy Choo untuk seserahan.
"Kok kamu panggil Bagas pakai 'Pak'? Panggil nama saja lah! Asal jangan pakai mas!"
"Apa aku harus memanggilmu 'mas'?" seringai Rina.
"Emang wajib!" sahut Hoshi tegas. "Oma dan mamaku manggil Opa dan Daddy dengan sebutan itu. Banyak istri-istri di keluargaku memanggil dengan panggilan 'mas' atau 'bang' kecuali Oma Rain yang selalu memanggil Opa Jeremy, Elang."
"Aku pernah mendengar cerita soal Opa Jeremy dan Oma Rain dari mbak Aruna. Romantis banget ya." Wajah Rina tampak berseri-seri.
"Emang kita nggak romantis, Rin?"
Rina menatap Hoshi sambil tersenyum. "Nggak." Lalu gadis itu melihat-lihat rak sepatu.
"Kita romantis kalau sudah halal saja ya?" cengir Hoshi. "Eh ingat nggak waktu kamu bawa Semar mendem terus kamu minta Falisha hajar aku?"
Rina yang sedang memilih-milih sepatu menoleh. "Kenapa, Tiger?"
"Aku saat itu bilang belum waktunya kan? Dan kalau kita sudah sah, baru boleh kamu hajar aku..." Hoshi berdiri di belakang Rina. "Tapi di kasur" bisiknya.
Rina langsung menyikut perut Hoshi.
"Meshum!" desisnya.
Hoshi langsung memegang perutnya. "Ya Allah, cewek Arab! Ini ulu hati gue cumiii!"
"Salah sendiri meshum!"
Damn it! Aku lupa kalau cewek Arab juga jago berantem.
***
Safira menatap judes ke arah Bagas yang datang ke Singapura di hari Sabtu ini. Wajah cantiknya tidak menunjukkan keramahan apapun ke arah pria yang dianggapnya main serobot dan klaim dirinya bakal menjadi istrinya.
"Siapa kamu?" ucap Safira dingin ke arah Bagas yang berdiri di depan pintu apartemennya.
"Calon suamimu lah, Safira binti clumsy" seringai Bagas.
"Namaku Safira binti Nathan Kim Pratomo bukan binti Clumsy! Kuwalat nanti kamu sama Daddy!"
"Aku nggak diajak masuk, Safira?"
"No! Oom-oom meshum tidak boleh masuk ke apartemen aku!"
Bagas mencondongkan tubuhnya dan berbisik di sisi telinga kiri Safira. "Oom-oom meshum ini adalah calon suamimu."
"Idiiihh! Siapa juga yang mau nikah sama Oom? Ngelamar langsung kagak, kasih cincin kagak, pacaran juga kagak tapi main ngajak kawin eh nikah. Apaan tuh!" omel Safira sebal. "Sudah sana kembali ke Indonesia!"
Safira hendak berbalik tapi kakinya saling tersandung satu sama lain membuat Bagas reflek memeluk perut gadis itu agar tidak jatuh. Bagas lalu memeluk Safira erat dari belakang lalu mencium pipi gadis itu.
"Mbok dikurangi tho cerobohnya" bisik Bagas yang membuat Safira merinding. "Tapi kalau clumsynya begini, aku ya suka, Fira."
"Jiwa meshumku tadinya mati suri tapi kini sudah bangkit lagi gara-gara kamu, clumsy." Bagas lalu mencium bibir bewarna peach itu dan membawa Safira masuk ke dalam dan menutup pintu apartemen.
***
Safira menatap Bagas dengan nafas terengah. Dia tidak menyangka yang namanya French Kiss ternyata benar-benar membuatnya melambung. Selama ini dia hanya mendengar ketiga sepupunya yang sudah menikah, Arimbi, Falisha dan Freya.
Safira tahu sebagai mahasiswi kedokteran, efek positif dari ciuman dari segi dunia kesehatan antara lain mengurangi sakit kepala, membuat wajah kencang, bahagia, mengusir energi negatif, aliran darah meningkat, bakar kalori dan meningkatkan daya tahan tubuh.
Tapi kalau ciumannya dengan Oom meshum satu ini lebih dari sekedar itu tapi membuatnya basah di bagian inti. Safira mengalami sendiri apa arti mencapai puncaknya. Padahal hanya ciuman tapi yang mencium ahli banget. Sialan!
"Kenapa Safira?" tanya Bagas yang wajahnya tampak memerah. Meskipun dulunya dia player tapi baru kali ini dia merasakan rasanya berciuman dengan gadis polos yang menggemaskan dan itu benar-benar dahsyat menurutnya.
"Oom Bagas meshum!" teriaknya sambil mengeplak bahu Bagas dan berlari ke dalam kamar.
Bagas sendiri harus mengontrol nafasnya. Astaghfirullah! Aku lupa kalau masih puasa! Bagas bodoohhh!
Safira bersandar di balik pintu kamarnya. Ini masih puasa kan? Astaghfirullah Safira! Batal dong puasa kamu!
"Oom Bagas brengseeekkk!!!" teriak Safira dari kamarnya yang membuat Bagas terkejut.
Dasar peri clumsy satu itu! Bikin iman gue babak belur! Harus segera dihalalkan ini! - Bagas menyandarkan kepalanya di sofa Safira dan tak lama matanya pun terpejam.
***
Hoshi dan Rina menikmati acara buka puasa di sebuah kedai pinggir jalan yang menjual nasi uduk. Rina pernah makan disana saat dirinya pulang bersama dengan Arimbi setelah latihan menari gambyong dan sekarang dia mengajak Hoshi karena menurutnya masakannya sedap.
"Gimana Tiger?" tanya Rina sambil memasukkan nasi uduk ke dalam mulutnya.
"Enak. Kalau mas Jendra pasti suka nasi uduk begini."
"Kok bisa?"
"Soalnya semua bumbunya pas."
"Aku sama Arimbi sering datang kemari kalau kelar latihan menari."
Hoshi menatap Rina lembut. "Inilah yang aku suka dari kamu."
"Apa itu?"
"Kamu bukan tipe cewek yang ogah makan pinggir jalan begini dan aku suka cewek yang mampu diajak di berbagai situasi. Makan mahal ayo, makan pinggir jalan juga nggak masalah."
Rina tersenyum.
***
Yuhuuuu Up Malam
Lanjut besok Yaaaaaa... aku capek banget hari ini
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️