
Hoshi dan Rina menatap tajam ke arah Yudha yang seperti kena sidang oleh hakim dan jaksa penuntut umum sedangkan dirinya adalah tersangka.
"Well, kamu mau bicara atau tidak? Atau aku bisa membuat hidupmu sengsara dengan mem-blacklist dirimu di semua perusahaan di dunia. Semuanya tidak ada yang mau menerima kamu!" ancam Hoshi.
Yudha hanya menatap penuh amarah ke pria cantik itu.
"Aku hanya ingin tahu, Yudha. Setelahnya, aku tidak ingin dan tidak mau tahu kehidupan kamu. Kenapa aku penasaran? Karena dulu kamu tidak seperti ini." Rina menatap kasihan ke Yudha.
"Kalian ingin tahu kenapa?"
"Iya!" jawab Hoshi dan Rina berbarengan.
"Karena enak!"
Hoshi melongo begitu juga Rina. "Enak? Astaghfirullah! Itu tempat kotoran bang*sat!" umpat Hoshi.
"Aku sudah kecanduan s3x sejak aku kuliah di Jogja. Sebenarnya hanya iseng berhubungan badan dengan pacarku dulu tapi setelahnya aku seperti kecanduan. Hingga lulus dan aku diterima di sebuah perusahaan minyak membuat aku lebih bebas. Hingga aku ikut pesta orgy di sebuah Club di Italia saat aku liburan kesana dan ternyata bersama pria pun aku bisa menikmati nya. Dan ya, aku bisa dengan pria atau wanita tapi sekarang aku lebih suka dengan pria."
Hoshi dan Rina hanya bisa menatap Yudha prihatin.
"Yud, stop! Apa yang kamu cari? Kenikmatan sesaat tapi nantinya akan sengsara seumur hidup? Penyakit s3x menular itu tertinggi berasal dari pria dan pria karena kalian melakukannya dengan Du*bur. Itu pusat kotoran, tahu! Pusat segala bakteri dan pembuangan.
Aku tidak akan bicara dosa karena pasti kamu sudah tahu. Aku hanya mengatakan fakta penelitian saja. Sebagai alumni MIT, aku juga mengikuti berbagai penelitian yang dibuat oleh fakultas lain terutama biologi dan genetika.
Apakah kamu tahu, yang namanya virus dan bakteri itu pasti bermutasi? Kita tahu HIV/AIDS, Klamidia, gonorrhea, sifilis bahkan cacar monyet itu berasal dari perilaku sek*sual yang salah." Hoshi menatap Yudha.
"Apakah kamu pernah memeriksa kesehatan kamu? Penyakit-penyakit itu lebih cepat menular di kalangan g@y apalagi dengan bergonta-ganti pasangan, bahkan lebih cepat dibandingkan dengan hubungan pria dan wanita" lanjut Hoshi lagi.
"Kalau mau dibilang jahat, kamu itu jahat Yud. Kamu ingin berkamuflase menikah dengan Rina tapi kamu sudah kesana-kemari dan kamu bisa saja sebagai carier penyakit itu lalu menularkan ke Rina yang tidak tahu apa-apa. Mungkin bukan aku yang akan menghabisimu, tapi malah Bima sendiri yang akan menghabisimu."
Yudha tersentak. "Bima tahu?"
"Bima tahu karena kamu memberikan cerita yang tidak jujur membuat anak itu menuntut penjelasan sebenarnya. Tenang, Rimbi tidak tahu."
Rina menatap Yudha tapi kali ini tatapannya tidak sejudes tadi. "Yud, tidak ada gen seseorang menjadi lagibete, tidak ada! Kesalahan kromosom xx dan xy menjadi xxy itu lebih cenderung membuat seseorang menjadi trans*gender bukan menjadi g@y, bisek*sual atau lesbong.
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang memilih menjadi transgender, yaitu faktor kromosom, neuropsikologis, dan hormonal. Ini adalah faktor genetik, merupakan bawaan yang akan mempengaruhi perilaku seseorang karena kromosomnya.
Tapi kamu, kamu itu memilih orientasi sek*sual kamu sendiri, bukan karena gen" ucap Rina.
Hoshi melirik ke arah gadis yang disayanginya. "Kok kamu tahu?"
"Aku mencari tahu kenapa Yudha bisa begini, Hosh." Rina pun menoleh ke Yudha lagi. "Berhentilah Yud, kamu bisa ikut terapi ke psikolog atau psikiater, mumpung kamu belum terlambat. Mumpung kamu belum menderita sakit karena jika kamu sakit, tidak ada orang-orang di lingkungan kamu yang akan membantu kamu. Pikirkan ibumu, Yud."
Yudha terdiam lalu menundukkan kepalanya dan tak lama tubuhnya bergetar karena menangis. Hoshi dan Rina membiarkan pria itu mengeluarkan semua emosinya.
"Aku...bisa minta tolong padamu Rin" bisik Yudha setelah selesai menangis.
"Apa itu Yud?"
"Bisa temani aku periksa ke dokter? Sejujurnya aku takut..." Yudha menatap Rina dengan wajah memelas.
"Aku sih tidak apa-apa menemani kamu tapi juga harus bersama Hoshi, karena dia sekarang kan bersamaku." Rina menatap lembut ke pria bermulut cabe itu.
"Aku akan minta Ayrton membuat janji dengan dokter terbaik di Dubai." Hoshi menatap Yudha serius. "Apapun hasilnya nanti, aku minta kamu segera berhenti dari perilaku menyimpang kamu dan mendekatkan diri pada Allah SWT. Sejujurnya aku masih bisa terima kalau kamu selingkuh dengan banyak wanita tapi aku lebih tidak terima pada saat mengetahui kamu juga bisa sama laki-laki. Aku tidak terima Rina menerima barang kotor!"
"Biar dia sadar, Rin. Aku bukan pria sempurna tapi aku sangat menjunjung tinggi yang namanya kehormatan karena bagi aku, semua tubuhku hanya milik istriku kelak. Hanya dia yang berhak mendapatkan. Kamu berharap ingin mendapatkan pasangan yang perawan tapi kamu sudah jajan kemanapun, apa itu adil? Aku lebih salut sama bajingan yang bertobat daripada bajingan yang ogah tobat!"
"Apakah semua keluarga mu seperti itu?" tanya Yudha.
"Iya. Mau kami pria atau wanita, di keluarga kami sangat menghormati namanya hubungan suami istri. Kami tidak ada yang jajan di luaran karena kami akan mendapatkan skandal jika terdengar kami pesta atau player. Nama keluarga kami sampai di generasi kelima ini tetap baik karena itu, kami sangat menghormati nama baik keluarga." Hoshi menatap Yudha.
"Pandangan keluarga mu sangat kuno Quinn" celetuk Yudha.
"Justru yang kuno itu yang bagus karena para leluhur ku tahu itu ajaran yang terbaik untuk selamat dunia akhirat" sahut Hoshi kalem.
***
Usai pertemuan di ruang VIP, Yudha pun keluar bersama Hoshi dan Rina untuk kembali ke kelompoknya.
Keempat sepupu Hoshi menatap kedua orang yang baru datang itu dengan wajah penasaran. Mereka berempat merasa bingung melihat wajah Yudha masih mulus tidak ada bekas dihajar Hoshi.
"Kukira dia kamu hajar mas" ucap Benji sambil menoleh ke arah Yudha yang masih mengobrol dengan teman-temannya.
"Tidak. Kami berbicara dengan cukup beradab tadi" sahut Hoshi. "Ayrton, apakah kamu ada kenalan dokter kulit dan kela*min terbaik di Dubai?"
"Aku ada kenalan dokter sih di rumah sakit Al Zahra. Coba nanti aku hubungi" jawab Ayrton.
"Mas, kamu tidak melakukan..."
Suara Direndra terpotong oleh Hoshi. "Mas Hoshi ingin membuatnya tobat!"
"Seriously mas? Bukannya kamu ingin menghabisi dia?" tanya Enzo bingung.
"Bagas Hadiyanto saja bisa tobat, kenapa dia tidak? Bagaimana pun dia sahabat Bima dari SMA.". Hoshi teringat percakapan dengan Bima saat mereka bertemu sepulangnya dari Surabaya.
Tolong bantu Yudha, Hosh. Dia hanya bergaul dengan lingkungan yang salah dan toxic. Sadarkanlah dia karena hanya kamu yang bisa membuatnya sadar dengan mulut cabemu. Buat dia melek bahwa apa yang dilakukannya salah. Jika kamu berhasil membuatnya mau berobat, hubungi aku dan aku akan menemuinya.
Hoshi menghela nafas panjang. Jika tidak karena janjiku dengan si Werkudara, mungkin aku akan lebih memilih mengacuhkan Yudha. Mau kena Aids terserah! Tapi aku tahu Bima punya hati baik dan ingin sahabatnya sembuh.
Keenam orang disana melihat Yudha yang memilih pulang duluan dan sendirian.
Suara notifikasi ponsel Hoshi berbunyi dan pria itu membukanya.
📩 Yudha : Aku pulang dulu Quinn. Aku ingin istirahat. Kabari aku jika kamu sudah mendapatkan dokternya. Thanks.
📩 Quinn : Aku kabari besok.
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaa
Penelitian MIT itu benar adanya dan penelitian tentang penyakit akibat perilaku g@y memang lebih cepat menular dibandingkan yang hetero.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️