Hoshi, My Tiger

Hoshi, My Tiger
Double Wedding yang Gitu Deh...



Di hari Sabtu pagi yang cerah ini, di sebuah halaman belakang yang luas sudah disulap menjadi tempat pernikahan untuk dua orang cicit klan Pratomo, Hoshi Reeves dan Safira Pratomo.



Menurut awu, Safira duluanlah yang akan menjalani ijab qobul terlebih dahulu dan Hoshi pun tidak keberatan. Safira dan Bagas pun sudah duduk di depan meja ijab yang sudah ditata cantik. Tampak Nathan Pratomo didampingi Senna Al Jordan dan Kai Al Jordan sebagai saksi dan Kresna Hadiyanto, ayah Bagas serta Chandra Hadiyanto, kakak Bagas.


Safira tampak cantik dengan gaun pengantin warna putih dan rambut coklatnya dia bentuk ikal besar.



Sedangkan Bagas sendiri memilih mengenakan suit tuxedo lengkap dengan kemeja putih dan jas hitam. Wajahnya tampak serius dan gugup apalagi melihat calon istrinya tampak cantik pagi ini.



"Itu baju nggak kurang terbuka?" bisik Bagas.


"Hah?" Safira menoleh ke arah Bagas.


"Ehem! Mas Bagas, mbak Safira. Acara debatnya nanti saja ya" tegur pak penghulu yang membuat keduanya terdiam dan mendapatkan pelototan dari Nathan dan Kresna.


Semua keluarga besar sudah biasa jika acara ijab qobul pasti ada kehebohan. Keluarga Hadiyanto yang melihat besarnya keluarga calon istri Bagas hanya bisa tertegun bagaimana keluarga Sultan no kaleng-kaleng itu tampak santai. Begitu juga dengan keluarga Kareem yang datang dari UAE yang terkejut melihat empat Emir disana termasuk Senna, Kai dan Reyhan Al Jordan.


Acara ijab qobul Bagas dan Safira pun dilangsungkan dan pria itu dengan sekali tarikan nafas langsung mengucapkan ijab qobul tanpa ada kesalahan yang langsung sah. Safira pun mencium punggung tangan Bagas yang dibalas dengan ciuman di kening dan bibir gadis itu.


"Bagas! Kening saja! Bibir nanti malam pas unboxing!" Hardik Senna kesal melihat cucu menantunya berbuat ulah.


"Maap Opa. Habis bibir si Clumsy menggoda sih" cengir Bagas yang mendapatkan keplakan dari Kresna Hadiyanto.


"Bikin malu!" desis Kresna sedangkan Chandra hanya memegang pangkal hidungnya.


Keluarga besar Safira tertawa melihat ulah pria ganteng itu.


"Datang lagi biang gesrek" gumam Bima.


"Ish kayak mas Bima nggak gesrek saja waktu ijab" kekeh Arimbi yang kehamilannya sudah masuk delapan bulan.


"Masa sih?" Bima menatap istrinya dengan wajah polos yang membuat Arimbi manyun.


Usai tukar cincin dan penandatanganan berkas - berkas pernikahan serta buku nikah, Bagas dan Safira duduk di kursi yang sudah disediakan karena giliran Hoshi dan Rina Kareem.


Levi sendiri menggantikan posisi Kresna Hadiyanto yang didampingi oleh Eiji dan Bara Giandra. Abrisam Kareem duduk menggantikan posisi Nathan didampingi oleh dua orang sepupunya.


Berbeda dengan Bagas dan Safira yang kesannya modern, Hoshi dan Rina memilih adat Jawa. Pria cantik itu mengenakan beskap warna putih sedangkan Rina mengenakan kebaya putih lengkap dengan cunduk mentul berjumlah tujuh ( harus ganjil ) beserta dengan paes juga.


Semua keluarga surprise dengan keputusan Hoshi dan Rina karena hingga kemarin mereka berdua benar-benar tidak memberitahukan mengenakan baju apa. Melihat Abrisam memakai beskap beserta blangkon, mereka akhirnya tahu Rina mengikuti adat keluarga Chitra yang berasal dari Jogja.


Hoshi membenarkan peci putihnya alih-alih memakai blangkon dan melirik Rina yang tampak cantik dengan dandanan adat Jawa.


"Elu cantik banget cewek Arab" bisiknya.


"Kemana saja elu selama ini?" balas Rina juga dengan berbisik.


Levi dan Eiji hanya bisa memegang pelipisnya. Kedua orang itu juga memakai beskap yang baru diberikan subuh tadi.


"Kalian berdua tuh ya. Nanti soal puji memujinya" ucap Abrisam yang diam-diam mengakui putrinya tampak cantik.


"Mas Quinn, mbak Rina, sebelum kita mulai ada baiknya mendengarkan wejangan dari saya selaku penghulu yang akan menikahkan kalian." Penghulu itu pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan ke Bagas dan Safira tadi.


Setelah selesai, pak penghulu pun membacakan doa.


"Baarakallahu likulii wahidimmingkumaa fii shaahibihi wa jama'a bainakumma fii khayrin" yang artinya mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan.


"Hoshi, sudah siap?" tanya Abrisam ke pria cantik itu.


"Insyaallah siap." Hoshi menyambut uluran tangan Abrisam.



"Bismillahirrahmanirrahim. Ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka Rina Maliha binti Abrisam Kareem alal mahri baiti hallan. ( Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan pinanganmu, puteriku Rina Maliha binti Abrisam Kareem dengan mahar sebuah rumah dibayar tunai )".


"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq ( Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar yang telah disebutkan, dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah )"


"SAH!"


Hoshi menghembuskan nafas lega yang disambut senyuman manis Rina. Mereka semua lalu mengucapkan doa syukur bahwa acara ijab qobul hari ini berjalan lancar tanpa ada aral rintangan.


***


"Eh sumpah lho, nggak nyangka kalau elu pakai beskap" goda Bima ke Hoshi usai acara foto-foto keluarga.


"Resepsi malam nanti malah pakai jas biasa kok" ucap Hoshi yang tidak lepas memandang Rina yang asyik berselfie bersama dengan para sepupu-sepupunya yang perempuan.


"Lu ngapalin berapa lama tuh bacaan?" tanya Bima usil.


"Tiap malam, Werkudara! Puas!"


Bima terbahak. "Untung cuma sekali seumur hidup!"


"Iyalah! Nikah itu sekali seumur hidup. Kalau kawin berkali-kali, nah itu baru kelinci sama kucing!" ucap Hoshi asal.


"Yaelah, malah bawa kelinci sama kucing. Mentang-mentang suka beranak banyak. Emang elu ma Rina mo punya banyak anak?" tanya Bima.


"Belum rencanain. Dikasihnya Gusti Allah saja tapi kalau mauku sih, aku ingin punya anak sepasang. Secara aku anak tunggal, Rina juga. Kerasa lho sendirian itu nggak enak."


"Yoi, muka cewek. Gue kan juga anak tunggal dan nikah sama jeng Arimbi itu membuat gue merasakan rasanya punya saudara banyak yang asyik-asyik."


"Elu beruntung bisa masuk ke keluarga gue yang notabene Sultan gesrek, satu server sama elu."


"Yoi, Hosh. Benar-benar barokah untuk aku pribadi, mendapatkan keluarga yang tidak memikirkan perebutan kekuasaan, serakah dan reseh."


"Julid iya" kekeh Hoshi.


"Kata jeng Arimbi, kalau julid gesrek itu memang sudah mendarah daging." Keduanya terbahak.


***


Ayrton Schumacher berdiri di pinggir sebuah pagar yang memang terpasang disana. Dasinya sendiri sudah terlepas entah kemana ( dasi hilang saat pesta pernikahan sudah menjadi tradisi para kaum pria klan Pratomo ) sambil membawa minuman.



Dilihatnya seorang gadis bergaun kuning tampak menjauh dari acara pesta pernikahan sepupunya. Ayrton pun datang menghampiri.


"Halo?" sapanya.


"Halo" balas gadis itu ramah.


"Kamu dari keluarga siapa? Bagas atau Rina?" tanya Ayrton tanpa basa basi.


"Keluarga mas Bagas. Kamu? Oh stupid question." Gadis itu tertawa renyah. "Sudah pasti kamu keluarga Safira."


Ayrton terkesima melihat tawa gadis itu.


"Iya, aku sepupunya Safira dan Hoshi. Ayrton Schumacher." Ayrton mengulurkan tangannya.


"Mariana Hadiyanto" balas gadis itu.



Introducing Mariana Hadiyanto


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaa


Maaf jika ada salah pelafalan bahasa Arab diatas.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️