Hoshi, My Tiger

Hoshi, My Tiger
Pacaran Dulu Atau Nikah Dulu?



Rina berjalan dengan langkah lebar-lebar dengan wajah kusut. Hoshi memang menyebalkan tapi pria itu juga yang menyelamatkan dirinya sebelum menikah dengan Yudha.


Gadis itu menuju ruang VIP dan nyaris bertabrakan dengan Bagas Hadiyanto yang hendak keluar.


"Eh maaf" ucap Rina yang hampir terhuyung dan ditahan oleh Bagas.


"Saya yang minta maaf, Rina. Dimana Quinn?" tanya Bagas sambil melepaskan pegangannya di bahu Rina.


"Bodo amat sama si muka pucat!" Rina pun mengangguk ke Bagas. "Mari pak Bagas."


"Silahkan Rin" balas Bagas sambil menggelengkan kepalanya. Muka pucat? Memang masih ada ya ungkapan ala suku Indian, muka pucat, muka merah... Aku kebanyakan baca Lucky Luke kayaknya.


"Bagas!"


"Oh halo Quinn." Bagas tersenyum melihat pria itu. "Masih berdarah tuh bibirmu."


"Lihat cewek Arab nggak?" tanya Hoshi cuek.


Satu muka pucat, satu cewek Arab. Apa yang terjadi pada dunia ini?! - batin Bagas. Apa nggak ada panggilan yang bagusan ya?


"Rina ke ruang VIP sana" jawab Bagas sambil menunjuk ruang khusus milik keluarga.


"Thanks Bro" ucap Hoshi sambil menepuk bahu Bagas. "Oh gimana kabar Safira?"


"Kok tanya aku, Quinn?"


"Siapa tahu elu ada kemajuan membuat adik ceroboh ku normal" kekeh Quinn.


"Kamu memangnya kasih ijin jika aku mengejar Safira?"


"Asal kamu konsisten nggak ke maksiat dan agamamu dbibagusin lagi, bisa aku pertimbangkan" jawab Hoshi serius.


"Aku hanya mengikuti takdir berjalan, Quinn. Jika anak ceroboh itu memang jodohku, aku pun tidak bisa kabur kan?" seringai Bagas.


"Ish! Safira rugi dapat elu. Oom Oom meshum!" sarkasme Hoshi.


"Brengsek kau! Ah aku mau ke kamar mandi jadi lupa! Kapan-kapan kita ngopi bareng Quinn." Bagas pun berjalan menuju toilet.


"No problemo. Kabari saja."


***


Hoshi masuk ke dalam ruang VIP dan melihat Rina asyik memakan lamb grilled favoritnya. Gadis itu cuek saja melihat Hoshi duduk di hadapannya.


"Enak?" tanya Hoshi yang dijawab anggukan. "Mau tambah apalagi?" Rina menggeleng.


Hoshi pun memanggil pelayan dan memesan rib eye steak dan jus jeruk nipis. Setelahnya pria itu menopangkan dagunya dengan tangannya diatas meja tempat mereka makan.



"Apa muka pucat?"


"Kamu cantik."


"Baru tahu?"


"Nggak, kemarin-kemarin pengsan."


"Pingsan Hosh, nggak ada pengsan."


"Pingsan itu biasa, tapi kalau pengsan itu lebih ditekankan."


Rina hanya menatap datar ke pria cantik di hadapannya. "Terserah kamu Hosh." Gadis itu melanjutkan makannya.


Pesanan Hoshi pun datang dan pria itu pun langsung melahap pesanannya.


"Ternyata berantem itu bikin laper" ucap Hoshi cuek.


"Jadi pas dulu kamu gelut sama Bima juga bis itu makan banyak?"


"Iyalah! Oma Rhea masak enak-enak. Rugi kalau nggak aku makan" sahut Hoshi sambil memasukkan potongan daging ke mulutnya.


"Tapi kamu kalah kan sama Bima" ledek Rina.


"Mengalah, Rina, mengalah" sahut Hoshi yang membuat gadis itu terbahak.


"Bukan itu yang diceritakan Arimbi padaku, Hosh."


"Kamu lebih percaya Rimbi atau aku?" pendelik Hoshi.


"Arimbi lah!" Hoshi berdecih mendengar jawaban Rina.


"Rin..."


"Hhmmm." Rina masih asyik menikmati mashed potatoes yang enak itu. Rina sudah sering makan di tempat lain tapi baginya, mashed potatoes buatan RR's Meal paling lezat. Mau di cabang mana saja termasuk yang di Singapura saat dia kuliah disana. Semua rasanya sama karena Aidan Blair dan Rajendra McCloud sangat ketat dengan rasa agar tidak turun kwalitasnya.


"Kita pacaran yuk! Apa kita nikah langsung?"


Rina yang sedang mengunyah mashed potatoes itu langsung tersedak dan membuat Hoshi bangkit dari kursinya dan menepuk punggung Rina.


"Makanya tho, kalau mau makan baca doa makan dulu atau nggak minimal tuh bismillahirrahmanirrahim" ucap Hoshi sambil menepuk pelan punggung gadis itu.


Rina langsung melotot ke arah Hoshi yang memasang wajah serius dan mengambil air putih disana lalu meminumnya. Setelah agak enakan, gadis itu memukul bahu Hoshi.


"Lho bener kan? Aku tikung kamu. Sekarang jalan tikungan sudah ketemu jalan lurus, ngapain belok belok lagi?" sahut Hoshi santai.


Rina melengos kesal. Rasanya dirinya ingin mencakar muka cantik di hadapannya itu tapi kok gue kayak kucing garong Yaaaa kalau gitu.


"Mau ya Rin? Pacaran dulu atau nikah dulu?"


Oh Astaga dragon ball!


"Mana ada kayak gitu Hoshiiii! Pacaran ya pacaran, nikah ya nikah!"


"Ya udah, nikah dulu pacaran kemudian. Gimana?" tanya Hoshi sambil mengedipkan sebelah matanya.



"Aku baru saja memutuskan pertunangan, Hoshi. Leren dulu lah!"


"Jangan lama-lama lerennya, capek tahu!"


"Capek ya istirahat" sahut Rina cuek.


***


Bagas tersenyum setelah acara pertemuan dengan makan siang ini berjalan dengan lancar. Para koleganya bersedia bekerja sama dengan bank nya untuk pembiayaan beberapa proyek penting.


Penandatanganan pra kontrak sudah dilakukan dan tinggal peresmian kerja sama yang akan dilaksanakan besok pagi di kantor pusat Arta Jaya.


Bagas dan asistennya mengantarkan para kolega hingga ke parkiran dan setelah mereka pergi, pria ganteng itu berjalan menuju mobilnya.


Bagas hendak masuk ke dalam mobil ketika suara ponsel nya berbunyi membuatnya mengurungkan niatnya masuk ke dalam Mercedes nya.


Tampak nama 'Si ceroboh' disana. Kenapa lagi anak itu?


"Assalamualaikum Safira. Ada apa?"


"Wa'alaikum salam Oom Bagas. Oom, tolong bantu Fira. Fira ditahan di bandara" rengek gadis itu.


Bagas terkejut. "Kok bisa?"


"Udah, Oom kesini saja. Pleasseee."


"Kenapa nggak minta bantuan kakak-kakakmu?"


"Udah, Oom kesini" suara Safira terdengar menahan tangis.


Hadddeeehhh apalagi yang diperbuat cewek imut yang super ceroboh itu?


"Ya sudah, Mas Bagas kesana" ucap Bagas dengan nada terpaksa.


"Oom Bagas." protes Safira.


"Mas Bagas atau Mas tidak mau bantuin kamu!" ancam Bagas. Dia sudah cukup lelah dipanggil Oom oleh gadis cantik itu.


"Iya deh, mas Bagas..." jawab Safira enggan.


"Anak pintar. Sudah mas ke bandara sekarang."


***


"Scalpel? Safira membawa scalpel di tasnya?" seru Bagas sambil mengusap wajahnya kasar.


"Betul pak Hadiyanto. Nona Pratomo membawa pisau bedah di tasnya" ucap petugas keamanan bandara itu dengan takut-takut karena yang ditahan adalah salah satu anggota keluarga terkenal.


"Astaghfirullah Safiraaaaa! Kok bisa bawa pisau bedah di tas kamu sih! Lama-lama kamu aku karungi, dipajang ke museum Inggris sekalian diwax model madame Tussauds dengan tulisan 'Cewek paling ceroboh di dunia!" omel Bagas kesal.


Safira pun manyun. "Aku kan nggak sengaja Oom..." Bagas melotot tajam. "Eh...mas."


"Pak, maafkan nona Pratomo, dia memang paling ceroboh di keluarga mereka dan saya bisa jamin kalau dia memang mahasiswi kedokteran di Yong Loo Lin School of Medicine, National University of Singapore." Bagas menatap petugas bandara itu. "Bukannya kartu mahasiswa nya sudah ditunjukkan?"


"Baik pak Hadiyanto. Kalau begitu saya lepaskan nona Pratomo karena bapak sudah menjamin. Tapi pisau nya saya sita ya pak."


"Sita saja tidak apa-apa." Bagas melirik tajam ke arah gadis cantik yang masih manyun.


Alamat tensiku naik lagi ini!



Pening ya Oom ... Eh mas Bagas?



Nah lho neng, mau dimasukin ke museum


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️