Hoshi, My Tiger

Hoshi, My Tiger
Di Singapura



Faranisa tiba di hotel yang disediakan oleh panitia bersama dengan Sarah dan Jenny. Ketiganya melongo melihat kamar nya yang ada queen bed dan sedikit sempit.


"Yakin nih kita tidur untel-utelan disini?" Faranisa mengerenyitkan dahinya.


"Nona Fara, apa tidak kasihan sama saya yang badannya saingan sama Ursulanya The little mermaid?" Sarah menatap horor ke anak asuhnya. "Saya takut kasurnya jebol."


Faranisa terbahak. Sarah memang memiliki tubuh besar tapi menyamakan dirinya seperti Ursula kok kebangetan.



Mak Ursula


"Lagian juga aku sudah minta dua kamar kenapa dikasih satu sih!" omel Sarah yang berencana memprotes panitia.


"Kita tidak usah menginap disini. Pindah saja ke apartemen Safira. Sebentar aku telpon dulu." Faranisa mencoba menelpon Safira lagi dan kali ini tersambung.


"Assalamualaikum" sapa Safira.


"Wa'alaikum salam. Mbak, aku numpang tidur di apartemen kamu ya" ucap Faranisa tanpa basa-basi.


"Hah? Memangnya kamu di Singapura?" seru Safira. "Malam-malam begini?"


"Iya. Tahu nggak, aku cuma dikasih satu kamar padahal aku minta dua karena Sarah kan badannya seperti Ursula di little mermaid..."


Safira terbahak. "Memang dia Ursula."


Sarah keluar dari kamar hotel mencari panitia untuk meminta kamar satu lagi sesuai dengan isi kontrak.


"Aku dan Jenny akan di apartemenmu mbak, biar Sarah disini."


"Memang kalian menginap dimana?" tanya Safira.


"Di Hotel Orchard. Apartemenmu di Treetops kan? Dekatlah."


"Kamu tuh ya aneh! Suruh Ursula protes ke panitia baru nanti kalau nggak bisa ke tempat ku." Safira memberikan kode password pintunya kalau-kalau Faranisa tidak mendapatkan kamar satu lagi untuk Sarah dan Jenny.


"Ini Ursula sudah pergi mencari panitia."


***


Hoshi menatap pesan yang dikirimkan oleh Jenny, pengawal Faranisa kalau mereka sekarang berada di Singapura. Nisa sedang menelpon Safira.


"Ada apa mas?" tanya Benji melihat wajah kakaknya tampak serius.


"Nisa di Singapura sekarang dan mungkin besok akan bertemu dengan Safira." Hoshi menatap adik bontotnya.


"Wah, anak ceroboh ketemu sama anak ceking?" kekeh Enzo.


"Eh bener tuh, Nisa terlalu ceking!" timpal Ayrton. Direndra menginap di istana Al Azzam karena besok pagi-pagi dia harus ikut pertandingan polo bersama para Emir lainnya. Ayrton dan Enzo tidak ikut karena sudah diwakilkan kedua opa mereka dan Emir Reyhan.


"Tapi Patrick bukan temannya Spongebob demen tuh sama tuh anak" sahut Enzo.


"Patrick mah bucin. Tapi nanti kalau ketemu, akan aku komporin supaya memaksa Nisa makan banyak" seringai Benji.


"Kalian tuh nggak suka cewek kurus? Menurut aku, Nisa tuh nggak kurus deh" sahut Rina.


"Nisa kalau dibandingkan kamu ya jauh! Kamu tuh bohay, enak dipeluk-peluk. Lha Nisa? Aku takut dia patah tulang" timpal Hoshi cuek.


"Astaghfirullah! Memangnya Nisa seperti Jack Skellington di Nightmare Before Christmas?" protes Rina gemas.


"Intinya aku tidak suka cewek ceking!" Hoshi menatap serius ke Rina.


"Eh, yang kamu sebut ceking itu adik kamu."


"So? Kenapa? Aku hanya ingin Nisa lebih segar wajahnya."


"Dia itu model. Kan ada persyaratan ukuran tubuh!"


"Salah sendiri jadi model! Mending dia kuliah, badannya nggak seceking itu. Lihat saja, dadanya jadi kecil kan. Aku tuh bingung. Apa sih yang disukai dari Nisa di mata Patrick?"


Rina, Ayrton, Enzo dan Benji hanya bisa melongo mendengar ucapan Hoshi.


"Astaghfirullah mas Hoshi! Bisa-bisanya komentar dadanya Nisa!" hardik Benji.


"Sekarang kalian lihat ini. Tangannya kecil banget coba!" Hoshi memperlihatkan foto Nisa yang berpose dengan gaun putih.



"Sama tangannya Rina aja separonya!"


Rina langsung mengeplak bahu Hoshi. "Lenganku gak besar ya!"


"Nisa jalan sama Sarah itu seperti angka 100 tahu" lanjut Hoshi sarkasme.


"Dih, mas Hoshi body shaming" ledek Ayrton.


"Repot kalau ngomong sama orang yang super ngeyel seperti elu mas" cebik Enzo malas.


"Hei, sepet tahu lihat Nisa makan. Kambing saja makannya lebih banyak dari dia."


"Astaga! Malah bandingkan sama wedhus!" gelak Ayrton.


Rina hanya memegang pelipisnya. "Ya Allah mulut cabe, mulut cabe."


***


Safira terkejut melihat Faranisa sudah ada di apartemennya pagi hari. Calon dokter itu celingukan mencari Sarah atau Jenny namun tidak ada.


"Ursula sama Jenjen kemana? Kok nggak ada?" tanya Safira sambil membuat kopi.


"Sarah dan Jenjen di hotel, aku minggat kesini karena tidak tahan mendengar Jenjen ngorok" jawab Faranisa sambil memakan cerealnya.


Semalam memang akhirnya Sarah berhasil mendapatkan kamar satu lagi yang sesuai kontrak tapi Faranisa yang satu kamar dengan Jenny tidak bisa tidur karena pengawalnya ngorok kencang.


Sembari membawa duffle bag yang sudah diisi dengan baju ganti, Faranisa memutuskan ke apartemen Safira dan tidur disana. Nisa tahu, apartemen Safira memiliki dua kamar tidur.


"Jadi kesimpulannya kamu kesini karena terkena polusi kuping?" kekeh Safira seraya menyiapkan cereal dan susu putih.


"Benar-benar polusi kuping mbak. Aduhai bener. Padahal aku dah ngantuk banget jadi kepaksa kesini daripada nggak bisa tidur."


Safira lalu duduk di depan adiknya dan mulai memakan cerealnya.


"Semalam aku telpon mbak bolak balik kok nggak bisa mbak?"


"Oh, aku ditelpon Oom Bagas" jawab Safira cuek.


"Oom Bagas di Singapura?" Safira mengangguk. "Dalam rangka apa?"


"Ada pertemuan para bankir disini dan mungkin semingguan Oom Bagas stay nya. Katanya sekalian liburan sebentar."


Faranisa menatap Safira dengan tatapan menyelidik. "Kalian sudah pacaran?"


Safira mendongakkan wajahnya. "Siapa yang pacaran?"


"Kamu lah mbak! Lagian Opa Javier kan sudah kasih lampu hijau ke Oom Bagas."


Safira menggelengkan kepalanya. "Biarin gini saja dulu, Nisa. Mbak masih nyaman hubungan tanpa status."


"Memang Oom Bagas belum nembak kamu mbak?"


"Lha memang Patrick yang main pasang cincin ke jari kamu?" gelak Safira.


"Ah kalau Patrick mah nekad!" senyum Faranisa.


"Di keluarga kita tuh, siapa yang mau jadi pasangan kita kalau nggak nekad, nggak dapat."


"Seperti Patrick, mas Bima, mas Pandu" senyum Faranisa.


"Betul itu."


***


Seorang pria berambut coklat dan bermata biru tampak turun dari pesawat pribadinya yang mendarat di Bandara Changi Singapura. Mengenakan kaos polo putih, celana selutut dan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya, pria itu berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan. Asistennya membawakan tas-tas nya yang nantinya akan dibawa ke hotel Marina Bay.



Pria itu masuk ke dalam mobil BMW sedangkan asistennya ke mobil Nissan NV.


Sopir mobil BMW itu bertanya kepada pria yang duduk di belakang.


"Kemana tuan Rogers?" tanya sopir itu.


"Apartemen Treetops."


Sopir itu menjalankan mobilnya dan pria itu mengambil ponselnya dan mulai menekan tombol fast nya.


"Fara? Aku sudah sampai di Singapura, sayang."


***


Yuhuu Up Siang Yaaaa


Ada yang bertanya kenapa Fara dan Patrick bukan temannya Spongebob, Bagas dan Safira, Natasha dan Taufan nggak dibuat sendiri. Soalnya ceritanya saling related dengan main story Dan supaya aku enjoy ngetiknya. 😁😁😁


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️