Hoshi, My Tiger

Hoshi, My Tiger
Wanita Itu Butuh Kepastian



Hoshi dan Rina memutuskan untuk pulang terlebih dahulu karena mereka sudah terlalu lama meninggalkan Jakarta sedangkan Bima masih stay di Dubai hingga seminggu ke depan untuk menemani Yudha berobat.


Benji dan sang Daddy, Bryan, sudah pulang terlebih dahulu setelah sang anak memilih bolos kuliah lima hari dan membuat Bryan meradang.


Pesawat pribadi milik keluarga Reeves sudah datang sehari sebelum Hoshi pulang dan kini keduanya sudah berada di bandara diantar oleh Direndra, Ayrton dan Enzo.


"Hati-hati mas. Mbak Rina jangan dinakali" pesan Direndra. "Tar ditinggal mewek lu."


Hoshi menyipitkan matanya. "Adik durjana lu!"


"Eh gurunya siapa dulu?" gelak Direndra.


"Titip Bima ya. Kasihan dia sendirian" pinta Rina.


"Ilang ya Wis Ben" sahut Hoshi cuek yang langsung mendapat keplakan Rina.


"Kamu tuh! Dikurangi ah usilnya ke Bima! Kasihan Arimbi, Hosh" omel Rina kesal.


"KDRT aja mbak, aku ikhlas lahir batin kalau kamu begitu sama si mulut cabe ini!" kompor Enzo.


"Tenang saja, Zo. Macam-macam, aku hajar!" seringai Rina.


"Aku lupa kalau mbak Rina juga jago kelahi" gumam Ayrton.


"Mas Hoshi langsung ke Jakarta?" tanya Enzo.


"Nggak, kita ke Singapore dulu. Aku pengen tahu si ceroboh dan si ceking gimana."


Ketiga adiknya hanya melengos. Adiknya sendiri dikatain!


***


Patrick Rogers tersenyum melihat tunangannya berjalan lenggak lenggok di atas catwalk memamerkan koleksi terbaru dari Louis Vuitton. Patrick dan Faranisa sudah melakukan perjanjian siapa yang ada waktu, harus datang mengunjungi.


Sebagai CEO perusahaan game online dan console, Patrick memiliki sedikit waktu luang tapi dia selalu berusaha mendatangi saat Faranisa bekerja apalagi jika negara yang dikunjungi gadisnya cocok untuk ekspansi bisnisnya, maka Patrick akan terbang kesana sambil bertemu pengusaha disana untuk kerjasama.


Wajah tampan Patrick membuat banyak wanita yang tertarik untuk menggodanya tapi mata biru pria itu hanya terpaku pada satu gadis saja, gadis berdarah blasteran berambut hitam panjang dengan mata coklat bening.


Usai acara, Patrick pun dengan setia menunggu Faranisa selesai berganti pakaian. Pria itu duduk di ruang tunggu bersama dengan Jenny, sedangkan Faranisa bersama dengan Sarah.


"Mr Rogers, anda akan berapa lama di Singapura?" tanya Jenny sebab mereka masih berada di Singapura seminggu sesuai dengan jadwal fashion show dan pemotretan.


"Kenapa Jenny?" Patrick balik bertanya.


"Nona Nisa kan jadwalnya seminggu disini, masa anda juga?" cengir Jenny.


"Aku disini juga sekalian ada kerjaan, Jenny. Jadi sambil menemani Fara, aku juga dapat rekan bisnis. Bukankah di Dubai pun sama?"


Jenny mengangguk. Memang tidak setiap negara si Patrick datang sih, cuma negara yang cuannya banyak. Dasar otak bisnis!


"Jangan mengumpat, Jenjen" kekeh Patrick yang membuat Jenny melongo.


Iisshh tahu saja si Patrick bukan temannya Spongebob.


Ponsel Jenny berbunyi dan terkejut ketika tahu siapa yang menelpon.


"Selamat siang Miss Blair."


Patrick hanya melirik namun dia meneruskan pekerjaannya.


***


"Kita kemana Jen?" tanya Faranisa di dalam mobil Nissan NV hitam yang disewa oleh Patrick meskipun awalnya dia ingin Cadillac tapi teringat ucapan gadisnya agar tidak terlalu lebay.



"Kita ke Marina Bay, Miss Nisa" jawab Jenny yang duduk di depan bersama sopir Patrick, sedangkan pria tampan itu duduk di tengah bersama Faranisa dan Sarah di belakang.


"Kamu minta ke Marina Bay, Pat?" tanya Faranisa bingung. Dirinya sudah cukup lelah dan ingin tidur di apartemen Safira. Faranisa menolak tawaran Patrick untuk menginap di Marina karena dia ingin dekat dengan kakak sepupunya.


"Bukan aku sayang, tapi Jenny tadi mendapatkan telpon dari 'Miss Blair.'


Faranisa mengernyitkan dahinya. Miss Blair? Tante Kaia? Tante Thara? Mbak Rahajeng? Mbak Reana? Eh tapi mbak Reana pakai nama belakang Oom Rhett.


"Nggak usah nyureng gitu, Fara, nanti kerutan lho" goda Patrick.


"Siapa yang datang ke Singapura ya?" gumam Faranisa.


***


Patrick menggandeng tangan Faranisa mengikuti dua wanita di depannya Wajah Faranisa tampak masih berpikir siapa yang datang.


"Menurut mu siapa, sayang?" tanya Patrick.


"Kalau nggak Tante Thara ya mbak Rahajeng. Mengingat cuma mereka berdua yang pakai nama belakang Blair. Soalnya mas Abi dan mbak Reana pakai nama O'Grady."


Keduanya sampai di DB Bistro and Oyster Bar by Daniel Boulud dan mengedarkan pandangannya namun Jenny tetap jalan Haqul yakin menuju ke tempat yang sudah diinstruksikan tadi.


Ketika mereka sampai di sebuah kursi panjang, mata Faranisa membulat sempurna. Wajahnya tampak berbinar-binar melihat siapa yang datang.



"Mulut cabe! Mbak Rina! Mbak Rahajeng, mas Travis!" serunya bahagia. Gadis itu langsung melepaskan genggaman Patrick dan menghambur untuk memeluk semua saudara-saudaranya.


"Apa kabar cantik!" sapa Rahajeng sambil memeluk Faranisa ditambah cipika cipiki.


"Wah kejutan!" seru sebuah suara di belakang yang membuat semuanya menoleh dan tampak Safira datang bersama Bagas.


"Kumpul semua pasti rusuh!" sungut Hoshi. "Kalian tuh para pria! Pakai acara nyusul adik-adikku!"


"Kami ada bisnis disini Quinn! Jangan suudzon lah!" gelak Bagas sambil memeluk Hoshi dan Travis.


"Yang penting kan cuan, Quinn" cengir Patrick ke Hoshi.


"Adikku sudah kaya dari lahir!" sarkasme Hoshi.


"Kan dia sukanya kebab Turki jadi aku ngumpulin uang buat antar Fara ke Istanbul tiap Minggu demi makan kebab. Biayanya tidak sedikit itu Quinn" seringai Patrick.


"Lebay!" umpat Hoshi sedangkan saudara lainnya tertawa mendengar ucapan Patrick.


"Aku nggak begitu suka kebab, Pat" balas Faranisa.


"Ohya kamu sukanya Wagyu langsung ke Jepang kan?" senyum Patrick sambil mencium pipi Faranisa. "Itu juga butuh cuan."


"Mulai deh rusuhnya" keluh Travis.


Kedelapan pria dan wanita paripurna itu pun duduk bersama sambil memakan hidangan yang telah dipesan oleh Rahajeng Blair sedangkan para pengawal mereka sudah duduk di meja yang disiapkan tak jauh dari meja mereka.


"Ini gimana ceritanya kok pada kumpul disini?" tanya Safira sambil menyesap tiramnya.



"Mas Travis ada kerjaan di Singapura dan aku pikir kenapa nggak ikut aja sekalian. Eh sampai di Changi ketemu sama si bon cabe sama Rina, ya sudah kita kesini saja karena kami nginap di Marina. Terus aku telpon Jenny karena tahu kamu ada fashion week plus aku juga telpon Safira. Jadi deh kumpul bocah" papar Rahajeng sambil tersenyum lebar.


"Dan nggak tahunya, adik-adikku sama pacar masing-masing" sambung Travis seraya menatap Bagas dan Patrick.


"Eh? Oom Bagas bukan pacar aku" sergah Safira.


"Oom lagi?" pendelik Bagas gemas.


"Lho? Salah?" tanya Safira polos.


"Serius kamu nggak mau sama Oom-oom meshum pedofil Fira?" seringai Hoshi licik.


"Quinn! Jangan macam-macam kamu!" hardik Bagas kesal.


"Lho bener kan aku bukan pacar Oom Bagas soalnya sampai sekarang belum ada kata 'mau nggak jadi pacar aku' meskipun perilakunya kayak pacar aku. Jadi bisa dibilang ini hubungan tanpa status. Betul tidak?" Wajah cantik Safira menatap ke semua kakak sepupunya.


"Bener sih" gumam Rina. "Perempuan itu butuh kepastian."


"Bener itu. Jadi disini yang salah adalah kamu Gas. Wajar dong Safira menganggap kalian HTS doang" timpal Rahajeng sambil tampak berpikir sedangkan Hoshi dan Travis tertawa terbahak-bahak.


Bagas menatap Safira kesal.


"Kenapa Oom?"


"Safiraaaaa!" Bagas menepuk kepala gadis itu pelan dengan gemas meskipun dalam hatinya ingin melu*mat bibir polos itu.


***


Para visual






Bonus Babang Travis



***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️