
AKP Thomas menatap dua pria tampan di hadapannya. Satu berwajah Asia yang cenderung cantik, satunya bule bermata biru yang tampak cerdas.
Duh, B ajah Bang
Capek ya bang jadi pengacara keluarga gesrek
"Quinn."
"Ya Oom Thomas. Kan sesuai dengan janji aku, bakalan datang bareng bang Travis."
Travis hanya bisa mengelus dada. Sepupu lucknut! Lagi enak-enak tidur disuruh nemenin ke kantor polisi! Mana baru saja sampai ke Jakarta dari Milan semalam.
"Siapa preman-preman itu?" tanya AKP Thomas.
"Lha memang Oom Thomas belum nanyain?"
"Gimana mau nanya, bambaaannggg! Semuanya masih separo hidup! Pada belum sadar! Kamu apain sih?" gerutu AKP Thomas. Tapi memang itu kenyataannya, para keempat preman itu benar-benar terkapar di rumah sakit.
"Cuma kena gebug baton kok" jawab Hoshi enteng. "Coba saja lihat di CCTV."
"Oom sudah lihat. Travis belum lihat kan?"
"Belum Oom. Saya saja baru datang dari Milan semalam. Pagi-pagi sudah harus jadi pengacara si kampret ini!" Travis menatap tajam sepupunya dengan judes.
AKP Thomas memperlihatkan rekaman CCTV yang dimintanya semalam. Travis hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu tuh Hosh! Kenapa semua jurus kamu pakai?" Travis melirik ke sepupunya yang asyik merokok setelah melihat hasil rekaman perkelahian Hoshi dan keempat preman itu.
"Biar cepat!" sahutnya cuek.
"Iya elu cepat menghajar tapi mereka bangunnya lama!" Travis memandang AKP Thomas. "Oom, mereka itu akan pingsan sehari paling baru sadar nanti sore."
AKP Thomas memegang pelipisnya. "Sekarang Oom tahu bagaimana rasanya Opa Mangga menghadapi Opa kalian seperti apa."
"Opa Duncan yang sempat dijewer sama Opa Mangga" sahut Hoshi sambil tersenyum.
"Jadi ini Hoshi gimana Oom?" tanya Travis.
"Sementara kamu jadi saksi dulu. Nanti Oom bilang sama Bara kalau kamu tidak boleh keluar kota dan luar negeri seminggu ini."
Hoshi dan Travis mengangguk.
***
"Siapa yang mengirim preman-preman itu Hosh?" tanya Travis yang duduk disebelah Hoshi sementara pria itu menyetir audinya.
"Yudha Hadiprojo."
"Sahabat Bima? Mantan Rina?" Travis melotot ke arah sepupunya.
"Yoooiiii."
"Kamu ngapain Hoshi?"
"Aku tikung lah!" jawab Hoshi kalem.
"Astagaaa! Kamu tikung gimana?"
"Aku kasih tahu Rina, Oom Abrisam dan Tante Chitra bagaimana perilaku Yudha."
"Apa kamu tahu sesuatu?"
"Aku malah melihat dengan mata kepala ku sendiri."
Travis terdiam. Kalau Hoshi sudah melihat sendiri ya tidak bisa diganggu gugat. Apalagi anak satu ini bukan tipe tukang ngadi-ngadi.
"Apakah parah Hosh?"
Hoshi menoleh ke arah kakak sepupunya. "Buanget! Bahkan lebih parah dari Bagas Hadiyanto."
Travis hanya melongo. Kalau lebih parah dari Bagas, gaswat lah!
***
Bara memanggil para satpam yang bertugas semalam dengan wajah emosi tingkat dewa. Bagaimana tidak? Keponakannya diserang empat preman yang bisa lolos masuk gedung Giandra Otomotif Co itu kan keterlaluan!
"Bagaimana bisa para cecunguk-cecunguk itu bisa masuk? Hah! Kemana kalian semua ketika Quinn hendak pulang? Jawab!" bentak Bara kesal. Laporan dari AKP Thomas membuatnya meradang saat sholat subuh tadi.
"Saya yang salah pak. Salah satu dari preman itu teman saya. Dia membawakan gorengan buat saya. Nggak tahunya dikasih obat mules jadi saya ke kamar mandi pak" jawab satpam yang bertugas berjaga di pintu masuk.
"Terus kalian yang empat orang, kemana?" bentak Bara.
"Kami patroli keliling dengan dua shift pak" jawab kepala satpam.
"Apa jadinya kalau pak Quinn tidak bisa bela diri?" Pelotot Bara.
"Kami tahu pak Quinn bisa jaga diri pa...." suara kepala satpam itu menghilang ketika Bara melempar satu bendel post it.
"Nggak gitu juga! Kalian kan bertanggung jawab atas keamanan semua orang! Semua orang! Jangan mentang-mentang Quinn bisa beladiri jadi kalian santai!" Suara Bara menggelegar di ruang kerjanya. "Sudah, kalian tidak dapat gaji satu bulan sebagai hukumannya! Masih bagus kalian tidak saya skors dirumahkan tiga bulan tanpa gaji!"
Kelima anggota satpam itu menunduk. Setidaknya masih mending dipotong gaji satu bulan.
***
Hoshi mendatangi ruang kantor Bara dengan wajah santai. Melihat boss yang juga Oomnya masih memasang wajah kusut, membuat dirinya tersenyum smirk.
Jangan nyureng lah bang..
"Payah tuh lima satpam! Mentang-mentang kamu jago kelahi malah santai!" sungut Bara kesal.
"Oom kasih hukuman apa?"
"Tidak gajian satu bulan!"
Hoshi tersenyum smirk. "Kasus!"
"Memang! Kesal Oom. Ohya gimana pertemuan dengan Thomas?"
"Seminggu ini aku tidak boleh keluar kota dan luar negeri. Lagipula aku terlalu semangat semalam jadi mereka lama sadarnya."
"Kamu pakai jurus apa Hosh?" Bara memicingkan matanya.
"Semua!" gelaknya.
"Oh Astaga!"
***
New York, Malam
Benji mengutak atik laptop canggihnya sambil menikmati hot choco yang dibuatkan oleh Sang mommy, Briana.
"Kamu ngapain, Ben?" tanya Bryan masuk ke dalam ruang komputer.
"Jatuhin orang Dad" seringai Benji.
"Siapa?"
"Yudha Hadiprojo."
"Kenapa kamu cari aib orang? Ada masalah apa kamu sama dia? Jangan seenaknya kamu pakai teknologi buat sesuatu yang ga penting! Dia teman kuliah kamu?" cerocos Bryan.
"Dih Dad, males banget ngejulid teman-teman kuliah aku! Nggak dad, ini bantuin mas Hoshi."
"Kenapa lagi tuh si mulut cabe?"
"Kemarin habis dikeroyok sama preman kiriman Yudha Hadiprojo."
Bryan tampak berpikir. "Yudha? Sebentar... Yang calon suaminya Rina Kareem sahabatnya Arimbi?"
"Bingo Dad!"
"Ada apa dia sampai mengirim preman ke Hoshi?"
"Kata mas Hoshi, ada aib tapi sudah clear cuman Yudha kayaknya masih dendam sama mas Hoshi."
"Terus premannya?"
"Terkapar lah!" gelak Benji.
Bryan hanya menghela nafas panjang. Alamat Travis bakalan sibuk urus tuh bocah.
"Whoah! Ternyata aibnya ini?" seru Benji. Bryan hanya bisa melongo melihat perilaku Yudha.
"Pantas si mulut cabe sumbut nikung Rina."
***
Rina mendatangi kantor Giandra Otomotif Co dengan wajah tegang. Bagaimana tidak, dia mendengar dari sang papa kalau semalam Hoshi dikeroyok oleh orang-orang suruhan mantan kekasihnya.
Setelah pihak resepsionis mengijinkan Rina naik menuju lantai ruang kerja Hoshi, gadis itu pun masuk lift.
Taufan tampak sudah menunggu Rina di depan lift dan segera menemaninya menuju ruang kerja Hoshi.
"Pak Quinn, nona Kareem sudah datang" ucap Taufan.
"Thanks Fan, dan tolong tutup pintunya" ucap Hoshi tanpa mengalihkan perhatiannya dari berkas-berkas yang masih menumpuk.
"Apa aku mengganggu kamu, muka pucat?"
"Wa'alaikum salam cewek Arab ku" seringai Hoshi.
"Hah? Assalamualaikum muka pucat" jawab Rina kikuk.
"Duduk cewek Arab. Mau minum apa?" tawar Hoshi.
"Nggak! Aku mau makan orang!" ucap Rina gemas.
"Makan aku saja! Ikhlas kok. Lahir batin pula" seringai Hoshi yang membuat Rina mendelik.
"Yakin? Tar aku siapkan wajan besar buat goreng kamu!"
***
Yuhuuuu Up Siang
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
***
Masih di-review dari pagi tadi