
Hoshi mematikan panggilan Levi lalu menoleh ke arah Rina yang sedari tadi cekikikan mendengar keluarga Toyib itu ribut tidak jelas.
"Cewek Arab, kita ke rumahku dulu ya. Si Toyib senior sudah ngeroweng kayak tawon tuh!" sungut Hoshi. Padahal dia ingin mengajak Rina ke sebuah rumah makan sederhana yang jual rendang Padang enak. Hoshi santai mengajak gadis itu makan sederhana karena tahu Rina sama dengan Arimbi, yang penting bersih dan enak.
"Iya nggak papa. Lagian sudah lama tidak bertemu dengan Tante Yanti" senyum Rina manis.
"Iiissshhh! Dasar Toyib Senior! Kayak nggak pernah muda saja!" Hoshi memanyunkan bibirnya.
Bibirnya bang.. Dikondisikan yaaa
Neng Rina yang geli dengan kekacauan keluarga Toyib
"Lama-lama nama keluarga diganti Toyib nih!" sungut Hoshi yang membuat Rina terbahak.
"Nama Reeves diganti Toyib? Sebentar, Hoshi Paramudya Quinn Toyib?" Rina semakin terbahak.
"Iiissshhh! Sayang masih puasa, kalau nggak udah kulu*mat habis bibir kamu, cewek Arab!"
"Alhamdulillah masih puasa jadi bibir ku aman" senyum Rina manis.
***
Mobil mewah bewarna merah itu pun tiba di rumah kediaman Toyib eh... Reeves dan penjaga rumah langsung membukakan gerbang rumah mewah itu. Rumah keluarga Reeves tidak sebesar mansion Giandra ataupun milik Blair tapi Eiji sangat suka dengan lingkungannya dan desain rumahnya yang dibuat oleh sang Oom, Jeffry Kim.
Meskipun rumah itu sudah berumur namun bangunannya masih kuat karena Alexander Reeves dan Jeffry Kim memakai bahan baku yang bagus dan awet sekian puluh tahun. Kalaupun harus renovasi, tidak terlalu banyak. Rumah itu selama ini sudah mengalami tiga kali renovasi tanpa mengganti layout susunan ruangan.
"Mas Hoshi, sudah ditung..."
"Iya tahu pak Umar. Saya tadi sudah ditelpon sama bapak" jawab Hoshi ramah. Rina tersenyum dalam hati. Meskipun Hoshi kesal dengan Levi, tapi dia selalu ramah kepada para penjaga rumah dan pelayannya. Hal yang Rina tahu selalu diterapkan oleh keluarga besar Hoshi untuk selalu baik kepada pengurus rumah.
"Iya mas. Saya juga kaget lihat bapak tahu-tahu pulang sama tuan besar."
Hoshi menghentikan langkahnya. "Apa? Opa gesrek itu ikut juga?" Nada suara pria cantik itu langsung berubah kesal.
Pak Umar terkejut mendengar perubahan suara Hoshi tapi dia sudah hapal dengan kerusuhan keluarga Reeves jadi hanya bisa tersenyum.
"Iya mas Hoshi. Tuan besar Eiji ikut kemari."
Hoshi berdecih. "Semakin banyak drama deh!" Pria itu lalu menggandeng Rina dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Monggo pak Umar" pamit Rina.
"Monggo mbak Rina." Pak Umar mengenali gadis berdarah Arab itu sebagai sahabat Arimbi yang sering main bersama setiap Hoshi liburan ke Jakarta.
Keduanya pun sampai ke pintu rumah yang terbuka dan melihat keramaian disana. Siapa lagi kalau bukan Eiji Reeves dan Levi Reeves, kedua ayah dan anak itu sedang ribut sedangkan Ayame dan Yanti hanya cuek sembari menyiapkan makan untuk berbuka puasa.
"Assalamualaikum keluarga Toyib!" sapa Hoshi keras-keras yang membuat kedua pria berbeda usia tapi masih tampak tampan itu menoleh.
"Wa'alaikum salam Toyib junior" sapa Eiji sambil nyengir. "Wah, calon cucu menantu ku ikutan juga kesini. Ayo, Rina jangan malu-malu biarkan yang malu-maluin si Toyib junior itu!"
Hoshi melengos mendengar ucapan Opanya.
"Apa kabar Opa Eiji" Rina mencium punggung tangan Eiji. "Oom Levi." Dan melakukan hal yang sama ke Levi.
"Duduk sini Rin, jangan dekat-dekat sama Toyib. itu. Nanti dicatek!" goda Eiji.
"Aku nggak bakalan catek Rina, Opa. Tapi kasih ciuman mesra. Emang aku kucing apa tukang main catek? Aku tuh tukang ci*pok!" balas Hoshi judes.
"Saya ke dapur saja membantu Oma Ayame dan Tante Yanti saja. Biar bapak-bapak berbincang-bincang" senyum Rina kepada ketiga pria Reeves itu. "Permisi."
***
"Kenapa memangnya Opa? Aku curiga deh kalian berdua datang itu pasti ada udang dibalik gimbal!" sungut Hoshi sambil bersedekap. Ketiga pria generasi ketiga, keempat dan kelima Reeves itu duduk di ruang tengah sembari menunggu makanan siap. Adzan Maghrib sudah berkumandang dan ketiganya sedang menikmati teh panas dan kurma.
"Kita lanjutkan setelah sholat Maghrib berjamaah dulu saja, Hosh. Biasalah, Opamu ini kan suka berdrama ria." Levi pun berdiri untuk mengajak ibu dan istrinya sholat.
"Hei Toyib! Kapan aku berdrama ria?" protes Eiji.
"Tiap hari, setiap detik, setiap menit, setiap jam, 24/7 deh pokoknya" timpal Hoshi yang ikut berdiri mencari Rina.
"Eh cumi! Opa tuh orang yang paling apa adanya, bukan adanya apa! Woi! Ya elah, kok pada ninggalin aku sih?" Eiji menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mas Eiji, ayo sholat Maghrib berjamaah" panggil Ayame.
"Sendiko dawuh Diajeng Aya-aya aku!" Eiji pun berdiri dengan wajah sumringah mendengar istrinya sudah memanggilnya.
***
"Jadi sekarang kamu pegang toko yang di Plaza Senayan, Rin?" tanya Yanti saat mereka berenam duduk di meja makan untuk menikmati hidangan buka puasa yang sudah disiapkan oleh Ayame, Yanti dan pelayan.
"Iya Tante. Mama dan papa memegang yang di plaza Indonesia" jawab Rina.
"Abrisam dan Chitra sehat Rin?" kali ini Ayame yang membuka mulut.
"Alhamdulillah sehat Oma. Opa dan Oma sehat kan?"
"Kamu tuh gimana? Nggak lihat apa Opa reseh dari tadi dan itu tandanya Opa sehat. Kalau Opa ngeluntruk, tiada mood buat ngerjain orang, berarti lagi not well!" sahut Hoshi yang duduk di sebelah Rina.
"Ish, Toyib junior kok suka bener sih" kekeh Eiji tanpa beban.
"Ya ampun mas! Mbok ya sudah jangan panggil-panggil Toyib ke Levi dan Hoshi. Kasih nama bagus-bagus pakai selamatan bubur merah putih, malah diganti Toyib. Kalau gitu, kenapa nggak dari dulu aja awal Levi brojol kasih nama Toyib?" omel Ayame judes.
"Diajeng Aya-aya, kok kakangmas dimarahi?" Eiji memasang wajah memelas yang membuat Levi dan Hoshi melengos sebal.
"Ya iyalah! Aku yang bawa Levi sembilan bulan di dalam perut, Yanti yang bawa Hoshi sembilan bulan dan kamu seenaknya ganti nama anak dan cucu kamu?" pendelik Ayame.
"Iya, maaf Diajeng Aya-aya" bisik Eiji sambil menundukkan kepalanya.
Yanti dan Rina cekikikan melihat kerusuhan keluarga Sultan ini. Di meja makan, tidak ada yang namanya pianis terkenal Eiji Reeves atau si jenius penerima Nobel Levi Reeves dan jenius MIT Hoshi Quinn. Yang ada hanyalah keluarga biasa dan selalu ribut receh.
"Jadi Rina, kapan nih kita bisa bertemu dengan orang tua kamu?" tanya Yanti lembut ke gadis cantik di hadapannya.
"Memangnya ada apa Tante?" tanya Rina bingung.
"Melamar kamu lah! Emang kamu kira kami ini ngapain ke Jakarta? Baby sitter si Hoshi? Ngapain juga? Sudah besar, sudah bisa cium kamu juga!" ucap Eiji cuek.
Rina melongo. "Me... melamar?" cicitnya. "Bukannya Hoshi bilang maunya habis lebaran ya?"
"Kelamaan! Sekalian saja lah mumpung kita semua disini. Nah, habis lebaran baru langsung nikah" sahut Levi serius.
Hoshi memandang semua anggota keluarganya dengan wajah judes. "Sukanya gitu deh! Main bikin keputusan sendiri tanpa rundingan sama aku!"
"Nunggu elu itu sama saja Opa nunggu ayam jagonya pak Umar bertelur tahu!" balas Eiji judes.
Hoshi memegang pelipisnya. Ya Allah kenapa ini si opa dan si babeh makin tua makin kacau gesreknya?
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️