Hoshi, My Tiger

Hoshi, My Tiger
Masih Di Singapura



*Good pagi selamat morning. Maapkeun Eike tepar kemarin gegara asam lambung naik jadi cuma up punya bang Dapid dan itu pun harus dipaksakan soalnya udah jadi separo, Eike tepar. Pas agak lumayan, lanjutin lagi bang Dapid, udah up, kudu leren maning. Semoga sehat semua yaaa readersku. Lope lope semuka juteknya bang Hoshi*


Bagas melirik ke arah pria bule yang duduk bersama Faranisa. Safira memang sudah pernah bercerita bahwa Faranisa dilamar oleh putra senator Amerika Serikat yang memiliki perusahaan game. Bagas baru kali ini melihat kekasih sepupu Safira itu.


"Patrick, right?" tanya Bagas ke Patrick Rogers.


"Iya? You are Bagas Hadiyanto?" jawab Patrick sambil tersenyum.


"Baru kali ini kita bertemu ya" senyum Bagas.


"Kalau Fara tidak ada acara di Singapura, mungkin kita baru bertemu acara lebaran" kekeh Patrick.


"Oh iya, lusa sudah puasa ya?" seru Rahajeng Blair.


"Iya mbak Ajeng, lusa sudah puasa" jawab Faranisa.


"Lebaran dimana?" tanya Rahajeng lagi. Keluarga Stephen Blair hingga keturunannya memang memiliki agama berbeda dari keluarga Edward Blair namun hal itu bukan masalah di keluarga besar. ( Edward mualaf - baca Love In Bet ).


"Di tempatnya Oom Ashley dan Tante Kristal" jawab Safira.


"Ke New York?" Travis yang kali ini membuka suara.


"Yup. Kalian bisa ikut?" tanya Safira.


"Semoga ya. Soalnya aku juga harus lihat jadwal" jawab Travis.


"Lu mah kebanyakan klien internasional" sahut Hoshi.


"Hello, look who's talking ya? Elu pegang pasport apa, cumi?" balas Travis.


"Jepang sama Amerika Serikat" balas Hoshi cuek.


"Lho mas Hoshi nggak hanya pegang pasport US tho?" tanya Safira.


"Aku kan sama ma elu, Fira. Sama-sama pegang pasport Jepang. Elu kemana aja?" Hoshi menatap judes ke adiknya.


"Issshh... judesnya. Oom, marahi mas Hoshi!" rengek Safira ke Bagas.


"Ogah! Kan kita masih HTS" goda Bagas.


"Iihhh Oom nyebelin!" cebik Safira yang bermaksud memukul Bagas tapi tangannya menyenggol gelas berisi air putih yang berguling ke jatuh ke celana pantalon pria itu otomatis basah di bagian paha.


Bagas melotot ke arah Safira yang melongo terkejut. "Safiraaaaa!" desisnya geram.


"Maaf Ooommm" Safira menangkupkan kedua tangannya di depan wajah cantiknya.


Keenam pria dan wanita disana tertawa melihat keributan antara Safira dan Bagas.


"Beli lagi saja Gas! Jangan kayak orang susah!" ledek Hoshi.


"Brengsek kau. Quinn! Lagi-lagi Ermenegildo Zegna ku jadi korban Safira, tahu!"


"Untung hanya air putih bukan jus jeruk milik..." suara Rahajeng terhenti melihat Bagas memberikan kode dengan tangannya agar istri Travis Blair itu diam.


"Stop, Ajeng. Jangan kamu teruskan karena akan mentrigger si Clumsy ini untuk melakukan!" pinta Bagas memelas yang membuat para pria dan wanita yang menjadi keluarga itu terbahak


Bagas dan Rahajeng dulu adalah satu kampus di Melbourne Australia. Rahajeng adalah kakak kelas Bagas dan dia sangat tahu sepak terjangnya pria itu. Dan ketika Travis bercerita bahwa Javier memberikan lampu hijau, Rahajeng sempat tidak percaya.


"Bisa tobat tuh Player?" ucap Rahajeng saat mendengar ucapan Travis.


"Habis di skak sama Falisha dan Freya, kayaknya dia auto tobat, Ra."


"Bagus lah, setidaknya dia bisa sadar juga."


Safira menatap Bagas dengan tatapan sok imut. "Sepertinya aku dengan Ermenegildo Zegna tidak jodoh. Jadi Oom Bagas harus ganti brand jas."


Bagas menyipitkan matanya. "Bukan Ermenegildo Zegna nya yang salah, kamunya yang nggak hilang-hilang cerobohnya, Clumsy!"


"Sudahlah pak Bagas, halalkan saja tuh Safira. Habis itu dua-duanya diruqyah, Safira dan semua jas Ermenegildo Zegna biar nggak musuhan" kekeh Rina.


"Eh buset! Jas gue satu lemari harus diruqyah? Nggak usah! Safira saja!" protes Bagas.


"Ih Oom apaan sih..." Kali ini gelas air putih milik Safira tersampluk dan menumpahi celana Bagas lagi.


"Safiraaaaa!"


***


Hoshi dan Rina memutuskan untuk menginap semalam di Marina Bay bersama dengan Travis dan Rahajeng. Patrick sendiri akhirnya berhasil mengajak Faranisa menginap di Marina karena Safira juga mau menginap disana.


"Kamu nggak ikutan urunan Hosh?" tanya Travis.


"Lumayan aku nggak usah keluar duit" cengir Hoshi.


"Dasar! Eh gimana kabar emir-emir durjana?"


"Makin kacau dan aku semakin yakin, mereka bukan kandidat Emir yang benar" ucap Hoshi cuek.


"Mereka kiblat nya ke kamu sih!" balas Travis sambil tertawa.


"Bagus dong! Mereka bakalan menjadi pria-pria yang tangguh!"


Travis menggelengkan kepalanya. "Dasar narsis!"


***


Bagas menyeret Safira untuk masuk butik Ermenegildo Zegna. Pria itu ingin agar Safira 'tidak bermusuhan' dengan brand jas favorit nya.



"Aku harus beliin nih?" tanya Safira memelas.


"Iyalah! celana pantalon aku, kamu siram air dua kali itu apa-apaan, hmm?"


"Oom... eh mas... Nanti kalau papa tahu kartuku buat beli jas pria, gimana?"


"Ya nggak gimana-gimana. Kan semua keluarga mu tahu aku dekat dengan kamu. Dan mereka juga tahu kamu ceroboh. Mamamu juga tahu kan?"


Safira cemberut. Iisshh...asas pemanfaatan!


"Sudah! Yuk, temani aku cari-cari jas." Bagas menggandeng tangan Safira.


Safira hanya pasrah mengikuti Bagas.


***


Patrick menemani Faranisa untuk acara makan malam yang diselenggarakan oleh brand yang memakai jasa Faranisa. Patrick menunjukkan kepemilikan bahwa Faranisa adalah tunangannya.


Banyak pria yang tertarik dengan putri Fuji Al Jordan namun melihat pria bule bermata biru yang melihat ke pria-pria itu dengan tajam, membuat para pria-pria itu mengkeret apalagi setelah mengetahui siapa pria itu.


Patrick Rogers, putra senator dan CEO perusahaan game online dan platform. Siapa yang mau melawan pria itu.


Faranisa hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat betapa posesif nya Patrick.


"Aku tidak masalah kamu dicium atau dipeluk selama itu masih saudara kamu. Tapi pria-pria disini, bukan apa-apamu jadi boleh dong aku bertindak seperti tunangan mu" jawab Patrick.


"Terserah deh!" Faranisa melengos.


***


Hoshi dan Rina menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di Orchard Road bersama dengan dua pengawal bayangan yang memang dikirim oleh Levi.


"Aku jadi ingat jaman kuliah disini" ucap Rina.


"Oh iya Ding kamu kuliah di Singapura." Hoshi menggandeng tangan gadis itu.


"Kuliah jauh-jauh, jatuhnya mengurus toko keluarga" senyum Rina.


"Kalau kamu menikah denganku, kan bisa saling mendukung. Aku kan bakalan stay di Jakarta karena Oom Bara sudah meminta aku yang akan mengurus perusahaannya di Jakarta."


"Apa mulut cabe? Menikah?" Rina melotot.


"Kamu kira kita bakalan seperti si ceroboh dan Oom-oom meshum itu hubungan tanpa status? Sorry ya Rin, aku serius sama kamu dan nanti habis lebaran, aku akan datang ke Oom Abrisam dan Tante Chitra untuk melamar kamu." Hoshi menatap serius.


Rina hanya melongo.


***


Yuhuuuu Up Siang


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️