
Hari ini Safira benar-benar fokus dan serius agar tidak terjadi keseleboran yang haqiqi. Bukan karena ia ingin makan gratis sesuai dengan janji Bagas padanya, tapi lebih demi dirinya sendiri.
Ucapan Bagas yang mengatakan kenapa dia auto tobat, semuanya demi kebaikan dirinya juga.
Sekarang Allah SWT melindungi aku dari semua penyakit mengerikan tapi entah besok. Dan aku bersyukur mendapatkan pencerahan sebelum terlambat.
Ucapan Bagas tampak menjadi cambuk untuk Safira. Selama ini dia menganggap biasa keseleboran dan kecerobohannya karena pengawal bayangan pasti akan membereskan kecuali saat di bandara kemarin.
Hari ini Safira memutuskan untuk menemui kedua sepupunya yang kuliah di fakultas kedokteran, Anarghya Giandra dan Anandhita Ramadhan. Setelah mengetahui mereka berada di rumah sakit, Safira pun berangkat kesana. Bahkan dia harus tiga kali memeriksa bawaannya agar tidak ada yang tertinggal.
Setelahnya, Safira meminta pengawalnya mengantarkan ke rumah sakit tempat Anandhita dan Anarghya melakukan co as.
Setibanya disana, Safira meminta pengawalnya untuk menunggu di parkiran. Dan sekali lagi Safira memeriksa semua bawaannya. Gadis itu janjian di sebuah taman dekat kafetaria. Setelah membeli boba milk tea dan hamburger, Safira pun menunggu kedua sepupunya.
Tak lama datanglah dua orang dengan wajah khas Asia menghampiri Safira.
Anandhita Ramadhan
Anarghya Pradipta Giandra
"Hai cewek ceroboh!" sapa Anarghya atau biasa dipanggil Arga sambil memeluk Safira.
"Ish Arga sama aja sama mas Hoshi!" sungut Safira manyun sambil melepaskan pelukannya.
"Tapi kamu memang parah kok" senyum Anandhita atau Dhita yang langsung cipika cipiki ke sepupu bulenya.
"So, bagaimana ditahan di Bandara?" goda Anarghya.
"Iiissshhh nyebelin kalian." Safira pun manyun.
"Lagian ya Fir, kok bisa scalpel masuk ke tas mu itu lhooo." Anarghya menggelengkan kepalanya.
"Meneketehe lah! Capek aku jelasinnya." Safira menyesap Boba teanya.
Ketiga saudara sepupu itu asyik berbincang tentang pengalaman Co as dan berbagai macam kasus yang didapat selama mengurus pasien sebagai junior. Safira sampai menyuruh pengawal bayangannya untuk makan siang tanpa harus menunggu dirinya.
Hingga pukul dua siang, Safira memutuskan untuk pulang sedangkan kedua sepupunya masih ada jadwal jaga sore. Gadis itu sekali lagi memeriksa semua barang bawaannya.
Kali ini Safira memutuskan untuk pergi ke PRC group menemui Arimbi dan Freya disana. Dan sehari ini, Safira memuji dirinya sendiri bahwa tidak ada barang yang tertinggal. Bagas pun memberikan pujian kepada gadis imut itu saat dirinya memberikan laporan bahwa tidak ceroboh hari ini.
Hari-hari berikutnya pun Safira mulai lebih bisa mengontrol cerobohnya. Ada beberapa waktu dia kumat lagi cerobohnya namun dengan sabar Bagas memberikan semangat agar gadis itu bisa mengontrol teledornya.
Hingga akhirnya Safira harus terbang kembali ke Singapura. Bagas lah yang mengantarkan gadis itu ke Bandara Soekarno-Hatta. Safira memilih memakai pesawat komersial lagi. Dan sekali lagi Bagas dan Safira memeriksa isi tas gadis itu supaya tidak ada barang aneh-aneh.
Dan tiba saatnya Safira berangkat ke Singapura.
"Pasport? Tiket?" tanya Bagas.
Safira menunjukkan dompet pasport nya beserta tiketnya.
"Hati-hati barang bawaannya. Sudah mulai berkurang cerobohnya bukan berarti kembali seperti dulu meskipun aku nggak ada disana buat traktir makanan." Bagas menatap gadis cantik itu.
"Iya Oo...eh mas Bagas" cengir Safira.
"Kamu tuh!" Bagas menepuk kepala gadis itu yang memang lebih pendek darinya yang tingginya 180 sentimeter.
Suara pengumuman penerbangan Singapore Airlines untuk para penumpang segera masuk ke dalam pesawat membuat Bagas ada rasa kehilangan gadis cantik yang selalu membuat dia gemas dan darting.
"Sudah dipanggil itu mas" ucap Safira.
Bagas harus memakai kekuasaannya untuk bisa masuk ke dalam ruang tunggu keberangkatan karena dia masih ingin bersama dengan Safira.
"Iya. Sepi dong aku di Jakarta, nggak ada yang bikin darting" senyum Bagas sambil mengelus pipi mulus Safira dan gadis itu membiarkannya.
"Terima kasih mas. Sudah membantu Fira berusaha tidak ceroboh lagi." Wajah cantik itu mendongak menatap Bagas.
Melihat wajah Safira yang menggemaskan, membuat Bagas tidak tahan lagi. Ternyata jiwa playerku belum padam.
Bagas memeluk Safira erat. "I'm gonna miss you my clumsy girl."
"Clumsy?" protes Safira yang membalas pelukan Bagas.
"Kamu kan memang clumsy" kekeh Bagas sambil memegang wajah Safira setelah melepaskan pelukannya.
"Iiissshhh nyebelin!"
"Hati-hati ya." Bagas mencium kening Safira lembut. "Safe flight, kabari kalau sudah. sampai."
Safira melongo mendapatkan ciuman di kening. Pertama kalinya ada pria selain papa dan sepupuku yang menciumku meskipun hanya di kening.
"A...aku pulang dulu...mas" bisik Safira setelah hilang rasa terkejutnya.
"Bye Safira" bisik Bagas.
Safira tersenyum. "Bye mas."
Bagas menunggu sampai gadis itu masuk ke dalam garbarata menuju pesawat yang akan ditumpanginya hingga pintu pesawat itu ditutup.
Setelahnya Bagas pun pergi keluar area keberangkatan dan berjalan menuju parkiran mobilnya. Tak lama suara ponselnya berbunyi dan wajah Bagas merasa bingung melihat siapa yang menelpon.
"Assalamualaikum tuan Javier. Bagaimana kabar anda?" sapa Bagas ramah.
"Wa'alaikum salam. Alhamdulillah. Kamu masih ada visa ke Amerika Serikat?" tanya Javier.
"Masih tuan. Bagaimana?"
"Besok kamu berangkat ke New York. Saya tunggu!"
Bagas melongo. "Besok?"
"Bagaimana? Kamu keberatan?" tanya Javier disana.
"Ti...tidak tuan. Saya beli tiketnya sekarang." Bagas menjawab dengan tegas.
"Bagus! Saya tunggu!"
Bagas menatap layar ponselnya yang sudah offline. Aku disuruh ke New York? Mati aku!
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
***
Aidan dan Thara sudah tamat Yaaaa.
Rajendra dan Aruna masih di Aidan.
Insyaallah lusa ya ....
Thank you