Hoshi, My Tiger

Hoshi, My Tiger
Bima Bertanya ke Hoshi



Hoshi menghabiskan waktu dua minggu di Surabaya dan Sidoarjo sampai dimulainya ground breaking pembangunan bengkel baru Giandra Otomotif Co yang berdekatan dekat dengan bandara Internasional Juanda.


Ada dua proyek di area Jawa Timur, selain showroom dan bengkel mobil mewah, Giandra Otomotif Co juga memperluas bengkel mesin pesawat milik pribadi baik mesin Boeing maupun Gulfstream. Dan kini, Hoshi adalah pria yang bertanggungjawab dengan semua proyek Surabaya.


Bagi Hoshi, ini merupakan tantangan yang mengasyikkan karena di negara yang berbeda, kota berbeda dengan Jakarta, budaya yang berbeda juga. Hoshi banyak belajar dari Mark Neville yang sudah lima tahun memegang PRC group Surabaya jadi dia sudah paham seluk-beluk disana.


Setelah semuanya berjalan sesuai dengan prosedur, Hoshi dan Taufan pun pulang ke Jakarta. Sebenarnya bisa saja dia bolak balik Jakarta - Surabaya tapi dia bukan tipe pria yang membuang waktu di jalan. Wasting time jika seperti itu.


Hari ini mereka pun tiba di Jakarta menggunakan pesawat komersil dan betapa terkejutnya ketika melihat Bima yang menjemput dirinya dengan wajah judes.


"Taufan, kamu pulang dulu dengan Hani, saya akan pergi dengan pak Bima" ucap Hoshi ke Taufan karena asisten keduanya, Hani, pun datang menjemput.


"Baik pak Quinn." Taufan mengangguk patuh lalu membawa koper milik Hoshi dan pergi bersama Hani.


"So, Werkudara. Apa yang membuat kamu menjemput aku di bandara?"



Biasa aja bang... Jangan judes-judes



Bang Bima yang sungguh penasaran


"Ikut aku!" Bima pun berbalik menuju mobilnya yang diikuti oleh Hoshi dengan tenang.


***


Kedua pria dengan wajah tampan itu pun kini berada di sebuah cafe kopi di daerah Kuningan. Bima sengaja memilih tempat di pojok hingga tidak ada yang mengganggu.


Setelah memesan minuman dan makanan, keduanya pun saling berpandangan satu sama lain.


"Apa yang ingin kamu tanyakan, Werkudara" ucap Hoshi tenang sambil bersedekap.


"Yudha. Apa yang kamu lakukan?" tanya Bima judes.


"Tukang gali kubur itu bilang apa padamu?" Hoshi masih menatap Bima tenang.


"Kamu menikung Rina."


Hoshi terbahak. "Aku memang menikung Rina, itu akui tapi apakah temanmu itu cerita alasannya aku tikung Rina? Cerita yang sebenarnya? I don't think so."


"Yudha hanya bilang kamu menggunakan cara licik membuatnya gagal menikahi Rina."


Hoshi mencondongkan tubuhnya ke arah Bima sembari menangkupkan tangannya.


"Apakah kamu percaya jika aku melakukan ini adalah sebagai penyelamat Rina dari perilaku menyimpang sahabatmu itu, Werkudara?" Hoshi menatap tajam ke Bima. "Buka folder bertuliskan 'Yudha' di iPad ini dan baru bisa kamu nilai sendiri. Oh aku sarankan gunakan airpods karena akan banyak suara-suara tidak senonoh."


Bima menerima iPad Hoshi dan mulai memakai airpods nya lalu membuka folder yang dimaksud.


Mata coklat Bima melotot tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Calon Daddy itu menatap Hoshi yang asyik menyalakan rokoknya.


"Aku sebenarnya tidak mau kamu tahu Bim sebab bagaimanapun dia sahabat kamu dan aku menghargainya. Aku tidak ingin kamu berbuat gegabah jika mengetahui yang sebenarnya. Intinya kalau mau tahu, jangan dari aku, Rina ataupun kedua orangtuanya." Hoshi menghembuskan asap rokoknya.


Bima mematikan video di iPad Hoshi dan wajahnya menjadi merah padam menahan amarah. Pria itu berusaha menetralisir emosinya, sahabatnya sewaktu SMA, bisa berubah menjadi tidak bermoral.


Pesanan mereka pun datang, dan keduanya lalu makan sembari masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.


Bima sendiri sebenarnya sudah hilang selera makannya tapi mengingat ucapan Arimbi kalau sudah pesan makanan harus bertanggung jawab karena tidak semua orang bisa makan yang kamu makan, akhirnya dengan susah payah dia memakannya.



"Muka cewek" panggil Bima setelah mereka selesai makan. "How do you know?"


Hoshi menatap Bima serius. "Accidently."


"When?"


"Dua bulan setelah elu merit."


"Dimana?" Bima penasaran kenapa sahabatnya bisa seperti itu.


"Astaghfirullah Al Adzim." Bima memandang keluar jendela cafe.


"Sejujurnya Bim, jika Yudha pria baik-baik, buka bisek*su@l seperti yang dia akui ke Oom Abrisam dan Rina, aku ikhlas melepas Rina. Tapi saat aku melihat dia di Club g@y disana, membuat aku semakin tidak ikhlas menyerahkan Rina ke Yudha."


Hoshi menyalakan rokoknya yang kedua.


"Sejak itu aku kirimkan mata-mata untuk mengawasi Yudha karena aku rasa this is not his first round. Yudha sudah lama seperti ini, Bim."


Bima mengusap wajahnya. Benar-benar diluar ekspektasi. Kalau elu selingkuh sama cewek, gue masih bisa terima tapi sama cowok juga? Seriously?


"Arimbi jangan sampai tahu Werkudara. Kamu tidak akan tahu apa yang akan dilakukan oleh wanita hamil yang hormonnya unpredictable."


"Aku yakin jeng Arimbi akan mengambil parang dan menyunat habis Yudha kalau ketemu" seringai Bima.


"Tahu kan maksudku" senyum Hoshi.


***


Setelahnya Bima mengantarkan Hoshi ke gedung milik Giandra Otomotif Co. Pria itu langsung menemui Bara dan melaporkan perkembangan proyek di Surabaya. Usai bertemu dengan Bara, Hoshi kembali ke ruangannya.


Hani pun langsung menyerahkan berbagai berkas pekerjaan yang tertunda selama dia di Surabaya. Hoshi pun tenggelam dengan pekerjaan yang menumpuk.


***


Seorang pria ganteng khas Indonesia mendatangi kantor Giandra Otomotif Co dan langsung menuju resepsionis untuk minta dihubungkan dengan Hoshi.


Setelah mendapatkan ijin, pria itu pun naik ke lantai tempat ruangan Hoshi. Taufan dan Hani mempersilahkan pria itu untuk masuk karena sang atasan sudah memberikan ijin.


"Assalamualaikum Quinn" sapa pria itu ketika masuk ke ruangan pria cantik itu.


"Wa'alaikum salam Gas. Apa hal kemari? Sudah nggak darting dengan Safira kan?" tanya Hoshi tanpa mengalihkan perhatiannya dari berbagai berkas di hadapannya.


"Aku barusan dipanggil Opa Javier di New York." Pria ganteng itu duduk di kursi depan meja kerja pria bermulut cabe itu.


Hoshi mendongakkan kepalanya menatap pria yang lebih tua empat tahun darinya.


"Kamu habis dari New York?" Hoshi menatap Bagas bingung.


"Yup. Minggu lalu aku ke New York. Rupanya Opa Javier mendengar kasus Safira dan meminta aku datang kesana."


"Apa ada yang terjadi denganmu dan Safira?" Hoshi menyipitkan matanya.


"Tidak...ada yang terjadi..." jawab Bagas pelan.


"Bagas Hadiyanto! Kamu pilih aku cari tahu sendiri atau kamu cerita sama aku!" bentak Hoshi. Kesibukannya di Surabaya benar-benar membuatnya lupa soal adik cerobohnya.


"Well... kamu mau mulai dari mana?" Bagas tersenyum kikuk.


"Ya ampun! Dasar pedofil!" Hoshi bisa meraba apa yang terjadi selama dia di Surabaya.


"Hah? Bukan, Quinn... tapi... Gimana yaaa?"


"Bagas!!!"


***


Yuhuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️



Bonus Babang Hoshi lagiiii