Hoshi, My Tiger

Hoshi, My Tiger
Bagas dan Safira



"Mas Bagas?" seru Arimbi, Freya dan Haris.


"Sejak kapan?" sambung Freya kaget melihat adiknya seperti itu ke Bagas.


"Sejak tadi!" sahut Safira ketus tanpa melepaskan pelukannya ke Bagas yang hanya membiarkan tangannya di sisi tubuhnya.


"Sejak tadi?" Arimbi menyipitkan matanya. "Apa yang kamu lakukan Bagas?"


"Aku tidak melakukan apa-apa" jawab Bagas bingung.


"Safira, lepaskan pelukan mu ke Bagas" ucap Haris.


"Nggak mau! Fira capek dimarahi terus!"


"Kalau kamu nggak ceroboh, kami tidak akan memarahi kamu, sayang" bujuk Freya.


"Fira pulang sama mas Bagas!" Safira melepaskan pelukannya dan mengambil kopernya yang berada di sana lalu menarik tangan Bagas.


"Fir... Fira!" Bagas pun ditarik oleh gadis itu membuat dirinya terpaksa ikut meninggalkan ketiga orang yang berada di ruangan Freya.


"Ada apa ini?" Haris memandang istri dan iparnya.


***


Bagas dan Fira sampai di lobby kantor dengan tetap gadis itu menariknya kencang.


"Safiraaaaa... jangan ditarik gini dong!" pinta Bagas.


"Mana mobilnya? Mobil Oom mana?" bentak Safira.


Bagas kemudian gantian menarik tangan Safira dan membawanya ke mobilnya. Pria itu lalu membuka mobilnya dan menyuruh Safira masuk sedangkan koper gadis itu dia masukkan ke bagasi. Setelahnya Bagas masuk ke dalam mobil, menstaternya dan mereka pergi meninggalkan gedung PRC group.


***


"Safira pergi sama Bagas?" tanya Hoshi kepada sepupunya yang datang ke ruang kerja Davina.


"Hu um dan dia memanggil Bagas itu mas Bagas" jawab Freya.


Hoshi hanya menggelengkan kepalanya. "Dasar Oom-oom meshum modus!"


"Kira-kira dibawa kemana ya anak bandel itu sama Bagas?" gumam Haris.


"Paling ke apartemen Safira. Bagas nggak bakalan berani macam-macam. Bisa digantung di pohon beringin sama Opa Javier..." Freya terdiam. "Haris, kita belum periksa pohon beringin dekat rumah pak Budi."


Haris langsung mendelik. "No Freya! Big NO!"


"Ayolah, mumpung malam Jumat Kliwon ini..." rengek Freya sambil menarik jas Haris.


"Nggak! Kamu sekarang milih. Sunnah Rasul malam Jumat atau cari penampakan?" seringai Haris.


"Aaahhh kamu menyebalkan! Ya udah, ayo boing-boing!" Freya menarik Haris keluar ruangan Davina yang membuat si empunya tertawa kecil.


"Selamat menjalankan Sunnah Rasul" ledek Davina sedangkan Arimbi dan Hoshi hanya menggelengkan kepalanya.


"Dasar pasangan meshum!" umpat Hoshi.


Arimbi cekikikan melihat Freya menggelayut manja di lengan suaminya.


"Eh beneran tuh Opa Javier pas cariin jodoh buat mbak Freya itu mas Haris. Buktinya bisa langsung membatalkan mencari hantunya" kekeh Arimbi.


"Feeling Opa tidak salah ya Rimbi" timpal Davina.


"Iya tante." Suara ponsel Arimbi berbunyi dan tampak wajahnya sumringah. "Mas Bima sudah di lobby. Kita pulang yuk."


"Ayolah! Gara-gara Safira jadi berantakan deh jam pulangnya" sahut Davina sambil mengambil tas Gucci nya.


***


Hoshi melajukan mobilnya menuju plaza Senayan untuk mengajak Rina makan malam di mall. Sore menjelang malam ini suasana hatinya benar-benar buruk gara-gara adiknya yang super ceroboh.


Untung itu scalpel ketinggalan di dalam tas bukan di perut pasien. Safira tidak pantas menjadi dokter bedah! Bahaya!


Hoshi memarkirkan mobilnya di area parkir dan segera berjalan masuk mall menuju toko milik keluarga Kareem. Tampak Rina sedang melayani seorang pembeli dengan ramah namun matanya melirik ke arah Hoshi yang datang.


Pria cantik itu memilih duduk di sebuah sofa yang disediakan disana sembari memainkan ponselnya. Sebuah pesan singkat dari Bagas membuat sudut bibirnya tertarik ke atas.


📩 Bagas Hadiyanto : Quinn, ini kami makan malam dulu lalu nanti aku antar Safira ke apartemennya.


Hoshi membalas pesan tersebut.


📩 Paramudya Quinn : Nasehatin tuh adik gue. Seneng lu ya dipanggil 'mas Bagas'. Dasar Oom-oom meshum modus!


📩 Bagas Hadiyanto : 😁😁😁 Peace Out man!


"Santai saja, cewek Arab. Selesaikan dulu" balas Hoshi sambil tersenyum.


Satu jam kemudian, Rina dan pegawainya selesai melakukan transaksi dengan pelanggan. Setelah memeriksa pembukuan selama setengah jam, akhirnya mereka semua bersiap untuk pulang dan jam di pergelangan tangan Hoshi sudah menunjukkan pukul delapan malam.


"Mau makan dimana nih Rin?" tanya Hoshi setelah Rina mengunci pintu tokonya.


"Sop buntut yuk" ajak Rina.


"Ayo lah!"


***


"Jadi Safira dibebaskan dari bandara Soekarno Hatta dengan dijamin oleh Bagas? Sekarang dia pulang juga sama Bagas?" tanya Rina setelah melakukan pesanan sop buntut.


"Dikira Safira, kita-kita tidak ada yang tahu" sungut Hoshi.


"Kok bisa scalpel masuk ke dalam tasnya Safira? Bisa lolos ya dari Changi?" gumam Rina.


"Luckynya Fira tuh pas di Changi tapi apes di Soekarno Hatta."


"Lagian kamu tuh galak banget, muka pucat. Kasihan lah Fira kamu marahin seperti itu" tegur Rina menatap tajam ke Hoshi.


"Kamu nggak tahu bagaimana kagetnya aku mendengar Safira ditahan pihak bandara tapi mereka tidak bilang kenapa karena sudah dijamin Bagas."


"Hoshi, memang benar Safira ceroboh tapi kamu jangan membuat dia jiper sama kamu."


Hoshi menatap gadis cantik di hadapannya. "Ini baru scalpel, Rin. Kalau dia bawa glocknya gimana? Apa nggak jadi skandal?"


"Tapi kalian kan memiliki ijin membawa senjata api?"


"Tapi tidak lewat pemeriksaan reguler Rin. Kami biasa melalui jalur VIP dan memang ijinnya ada."


Rina tersenyum. "Semoga sejak kejadian ini, anak itu nggak slebor lagi."


***


"Kita kemana ini Safira? Langsung ke apartemen kamu atau gimana?" tanya Bagas yang menyetir Mercedes nya.


"Ke tempat sepi dulu Oom" pinta Safira seperti menahan tangis. Bagas sendiri tak tega untuk mengoreksi panggilannya yang kembali ke habitat lama.


"Kuburan?" goda Bagas. "Kan sepi tuh!"


Safira mendelik. "Ini malam Jumat Kliwon! Dan aku bukan mbak Freya yang hobinya cari penampakan nggak jelas gitu!"


"Lha habisnya kamu minta tempat sepi. Satu-satunya yang terlintas ya kuburan. Kalau di taman kota, kita duduk di dalam mobil nanti dikira mobil goyang" kekeh Bagas.


Safira menoleh ke arah Bagas. "Berarti Oom pernah melakukan di mobil? Di mobil ini?" Safira langsung merasa jijik dengan mobil mewah Bagas membayangkan yang ihik-ihik di dalamnya.


Bagas menatap Safira. "Pernah tapi bukan di mobil ini. Apa kamu mau mencobanya?" goda Bagas sambil memasang wajah meshum.


Safira melongo. "Oom Bagas meshuuumm!" teriaknya. Bagas tertawa terbahak-bahak.


"Nggak jadi nangis tho?" tanya Bagas.


"Jadi!"


"Astagaaa... Safira.. Safira" gumam Bagas sambil membawa mobilnya menuju ke sebuah restauran China.


"Kok kesini?" tanya Safira bingung.


"Aku lapar dan menangis itu membutuhkan energi masuk. Apa jadinya jika aku lapar mendengarkan kamu nangis kejer, apa aku tidak ikutan cranky?" Bagas melepaskan sabuk pengamannya. "Dah yuk masuk. Ada kwetiau seafood enak di dalam."


Safira pun melepaskan sabuk pengamannya dan keluar mobil mengikuti Bagas masuk ke dalam restauran.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Buat yang nunggu bang Dapid...masih di-review dari semalam belum lolos 😭😭😭



Kudu sabar Yeeee


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️