Hoshi, My Tiger

Hoshi, My Tiger
Take It Or Leave It



Eiji dan Levi mendatangi tempat Hoshi ribut dengan keluarga Lukman. Melihat gelagat cucu dan putranya dengan wajah judes, kedua opa dan Daddy itu bisa meraba jika ada yang menyenggol pria cantik itu.


"Vi, muntahan lahar cabe apalagi yang dimuntahkan anak itu?" tanya Eiji.


"Entahlah Dad. Pasti kecenthok tuh bocah jadinya keluar semua kata-kata mutiara ala Hoshi" jawab Levi yang hapal karakter putranya. Hoshi memang selalu mengungkapkan apa yang ada di otak dan perasaannya tanpa tendeng aling-aling jika ada yang tidak sesuai dengan prinsipnya.


"Diajeng, ada apa ini?" tanya Eiji ke Ayame yang hanya tersenyum melihat ulah cucunya.


"Nanti aku ceritakan di rumah." Ayame mengelus bahu Eiji. "Yuk pulang. Quinn, kamu masih harus mengantar Rina lho. Pak Lukman, Bu Lukman, Sarita, maaf jika cucuku bermulut pedas tapi begitulah Quinn. Dia selalu mengatakan apa adanya tanpa ada yang harus ditutupi."


Yanti lalu menggandeng Hoshi. "Kami permisi dulu semuanya. Dan Bu Lukman, benar kata Quinn. Jadi orang tua jangan makkake anak karena anak bukanlah investasi."


Keluarga Reeves pun berpamitan kepada semua orang disana sedangkan keluarga Lukman hanya terdiam. Ketiganya tampak malu melihat para tetangga yang hanya tersenyum geli dan sinis ke mereka.


***


"Ya ampun bocaaahhh! Itu mulut mbok dikonsultasikan eh dikondisikan, Toyib!" omel Eiji setelah Ayame dan Yanti menceritakan apa yang terjadi. "Tapi memang Opa tidak suka cara mereka menyurungkan anaknya untuj kamu. Untung elu ga doyan, cumi."


"Bleh! Ogah! Selera Hoshi bukan ala ondel-ondel, ongol-ongol begitu kaleee Opa!"


"Kok bisa ke ongol-ongol? Enak tahu tuh ongol-ongol" sahut Eiji.



Ongol-ongol


"Cari yang mirip macam pantun lah!"


Levi hanya menggelengkan kepalanya. "Hoshi, kamu harus minta maaf ke keluarga Lukman karena sudah ngomong pedes."


"Ngapain? Aku bilang apa adanya kok! Lagian ya Dad, dijamin mereka nggak bakalan betah punya menantu macam aku karena aku akan buat mereka darting setiap detik! Setidaknya mereka sudah Sinau ( belajar ) bahwa tidak semuanya bisa tertarik dengan fisik!"


Rina hanya memegang pelipisnya. Mulai deh!


"Kalau Rina nggak cantik, kamu juga nggak tertarik!" ledek Eiji.


"Beda Opa. Rina aku sudah kenal dari kecil dan sudah tahu dia seperti apa. Rina bukan tipe cewek aneh-aneh, dia mirip Arimbi, Falisha dan semua sepupu aku yang perempuan, cewek tahan banting. Wajah bisa dipermak dengan makeup dan perawatan tapi hati tidak bisa dioplas. Kalau memang dasare atine elek, ya elek wae!"


Yanti terbahak. "Ya ampun anak Lanang! Pedeseee nampol!"


"Lho iya ma. Kalau dia atine elek, tanpa ada keinginan dia tobat, nggak bakalan insyaf, pengsan terus saja sampai kecenthok atau mokat! Tapi kalau dia ada sedikit kebaikan, dia akan instrospeksi diri dan berusaha berubah."


"Seperti Yudha?" tanya Ayame.


"Oma tahu?" tanya Hoshi dan Rina bersamaan.


"Apa sih yang kami nggak tahu?" seringai Eiji.


"Itu salah satu contoh Oma. Yudha sebenarnya baik tapi dia salah pergaulan. Malah beberapa hari kami di Dubai dan Bima juga disana, membuat Yudha lurus lagi" ucap Rina.


"Apalagi dokter Atifa Syarief sangat ketat mengawasi pengobatan Yudha" timpal Hoshi.


"Apakah mereka bisa berjodoh Hosh?" tanya Eiji.


"Opa jangan macem-macem deh pikirannya. Dokter Atifa itu tahu betul bahwa penyakit Yudha lama sembuhnya. Nggolek molo nek gelem Karo cah kuwi ( cari masalah kalau mau sama anak itu )." Hoshi menatap judes ke Eiji. "Opa jangan ikutan Opa Javier ya jadi Cupid nyasar."


"Woi cumi, kalau memang jodoh, meh opo Kowe ( mau apa kamu )?" balas Eiji.


"Yaelah, malah ketoprakan. Dah Hosh, antar Rina pulang. Bilang sama Abrisam dan Chitra, besok kita kesana." Levi menatap putra dan calon menantunya.


***


"Tapi kamu tuh emang lambe cabe, Hosh, meskipun benar sih" ucap Rina ketika keduanya sudah di dalam mobil.


"Aku nggak mau sok basa basi basu untuk tenggang rasa yang menyenggol aku pribadi. Karena jika aku masih memakai bahasa kembang Kunti, mereka menaruh harapan makanya langsung aku skak seter saja lah!"


Rina tertawa cekikikan. "Duh my Tiger kalau udah nyolot Yaaa. Parah!"


"Aku nyolot kan ada pasal."


"Iya, seperti kamu ke Safira, kamu ke Nisa, kamu ke Yudha."


"Mungkin mulutku judes puooolll, aku akui tapi semua demi kebaikan meski dengan cara sarkasme."


"Sakinah Mawadah Warohmah."


"Astaghfirullah! Tiger! Bukan itu maksud aku!"


"Dih, bilang aamiin dong, cewek Arab! Doa baik itu!" sungut Hoshi manyun.


"Aamiin. Insyaallah kita Sakinah Mawadah Warohmah" senyum Rina.


"Eh udah boleh kan?" cengir Hoshi ketika mereka berada di lampu merah yang lama hijaunya.


"Apanya?"


Hoshi mencondongkan tubuhnya dan mencari bibir Rina lalu Melu*matnya. Suara klakson membuat keduanya harus melepaskan ciumannya.


"Terimakasih Rina Maliha Kareem mau menerima Hoshi Paramudya Quinn Reeves yang dikenal si judes di klan Pratomo" ucap Hoshi serius ketika mobil mereka berjalan. Pria itu mengambil tangan Rina dan menciuminya.


"Terimakasih my Tiger, mau menerima cewek Arab yang bar-bar ini."


Hoshi terbahak. "Akhirnya ngaku juga elu bar-bar."


Rina mengambil tangannya lalu mengeplak bahu Hoshi.


***


Keduanya tiba di kediaman keluarga Kareem menjelang jam setengah dua belas malam. Tampak Abrisam sendiri yang menunggu di depan pintu rumah ketika tahu mobil Mercedes Benz C-Class merah itu masuk ke dalam halaman rumah setelah dibukakan pintu oleh penjaga rumah.


Hoshi pun turun sambil menggandeng Rina membuat Abrisam menaikkan sebelah alisnya.


"Malam amat Hosh? Kemana saja?" tanya Abrisam.


"Assalamualaikum Oom" sapa Hoshi mencium punggung tangan Abrisam setelah melepaskan genggamannya di tangan Rina.


"Wa'alaikum salam. Ayo masuk" ajak Abrisam.


"Kalian kemana saja?" tanya Abrisam lagi setelah mereka duduk di ruang tamu.


"Sebelumnya Hoshi minta maaf. Tadi rencananya saya mau ajak Rina makan rendang di dekat Slipi tapi To...eh Opa dan Daddy nyuruh saya pulang."


"Lho pak Eiji dan Levi di Jakarta?" tanya Abrisam.


"Iya Oom. Biasa, mereka kan kalau udah punya karep sukanya begitu, dadakan."


"Karepnya apa Hosh? Mengingat Opamu sering ajaib jalan pikirannya" kekeh Abrisam.


"Baru pulang, nduk?" Chitra keluar dari kamar dengan mengenakan gamis bewarna hijau tua.


"Tante Chitra" Hoshi lalu menyalami ibu Rina itu. "Maaf Tante, kami baru pulang. Tadi kami disuruh ke rumah saya untuk berbuka puasa disana sekalian tarawih di mesjid dekat rumah."


"Owalaahhh, gitu ceritanya. Soalnya Rina memang pamit tadi mau buka puasa bareng kamu tapi kok lama banget" senyum Chitra. Kedua orangtua Rina sangat tahu karakter putrinya dan karakter Hoshi karena sudah mengenal sejak kecil.


"Oh iya Oom dan Tante. Besok di rumah kan?"


"Kalau Minggu, kami di rumah Hosh. Kenapa?" tanya Abrisam.


"Soalnya besok Insyaallah rombongan Toyib eh Reeves akan kemari sekitar jam tujuh malam sehabis buka puasa" ucap Hoshi.


"Eh? Ada apa Hosh?" tanya Abrisam bingung.


"Lamaran." Rina menatap tenang ke kedua orangtuanya.


"HAAAAHH?"


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️