
Jay pun masuk ke dalam ruangan Naya dan duduk di kursi yang berada di samping brankar Naya. Jaya menggenggam tangan Naya dan menciumnya sambil menangis.
"Sayang maafkan aku maafkan aku karena tidak bisa menjada mu dan menjaga calon anak kita dengan baik" ucap Jaya yang mencium tangan Naya sembari menangis.
"Aku mohon kamu bangun, kamu bangun sekarang dan hukum aku dengan cara apapun" ucap Jay lagi
"Sayang kamu boleh memukuli ku, memarahiku, tapi aku mohon jangan tinggalkan aku, bangunlah Nay" ucap Jay bertubi-tubi.
"Jay kendalikan dirimu" ucap Tirta
"Tidak bisa, aku tidak bisa mengendalikan diriku Tir" ucap Jay.
"Aku takut Naya akan meninggalkan aku, aku takut Naya akan membenciku karena aku tidak bisa melindungi dia sehingga membuat calon anak kami meninggal dalam kandungan" ucap Jay.
"Jay percayalah pada ku, Naya tidak akan membenci mu apa lagi sampai meninggalkan kamu" ucap Jhonny.
"Aku juga berharap begitu, tapi,... tapi aku masih belum tenang jika Naya bel sadar" ucap Jay.
"Sebaiknya kita tunggu di luar, kita biarkan Jay dengan Naya berdua dulu" ucap Kelvin
"Ya aku setuju" ucap Donny.
Mereka pun pergi meninggalkan Jay sendiri bersama Naya yang masih belum menyadarkan diri. Jay terus mengajak Naya berbicara walaupun Naya tak merespon apapun. Jay pun menundukkan kepalanya sembari mencium tangan Naya sambil menangis.
Setelah sekian lama Jay menundukkan kepalanya, dia di kejutkan dengan tangan Naya yang bergerak.
"Sayang" ucap Jay
"Eughhh" lenguhan Naya yang baru membuka matanya dan memegang bahunya.
"Ini di mana?" tanya Naya dengan lemas.
"Ini di rumah sakit sayang, kamu di rumah sakit sekarang" ucap Jay.
"Bagaimana sekarang, apa yang kamu rasakan, mau aku panggilkan dokter?" tanya Jay bertubi-tubi.
"eummm, aku hanya sedikit pusing dan sakit di bagian ini, kamu tidak perlu memanggil dokter Jay" ucap Naya sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku senang kamu baik-baik saja" ucap Jay.
"Eumm ini semua berkat kamu Jay, aku dan anak kita bisa selamat" ucap Naya yang memegang perutnya dan membuat Jay yang tadinya tersenyum menjadi sedih.
Saat memegang perutnya pun Naya mulai menyadari sesuatu.
"Tunggu, apa aku sudah melahirkan?, bagaimana bisa, apa anak kita lahirnya tidak normal?, di mana dia sekarang?" tanya Naya Bertubi-tubi yang membuat Jay membeku.
"Jay kenapa kau diam saja, aku tidak merasa perutku berisi sekarang, aku sudah melahirkan?" tanya Naya lagi pada Jay.
"Kenapa kamu diam saja" tanya Naya yang panik
"Apa anak kita lahir cacat?" tanya Naya lagi
"Ka..kamu..ke..keguguran" ucap Jay dengan gugup yang membuat Naya terkejut.
"Apa?, gak, gak mungkin, ini semua gak mungkin" ucap Naya yang mulai histeris
"Kamu pasti bohong kan Jay kamu pasti mau kasih aku kejutan dengan membawa anak kita ke sini?, Jay di mana anak aku, aku akan menerima dia dalam keadaan apapun" ucap Naya.
"Sayang,, sayang kamu tenang dulu ya, anak kita sudah meninggal saat dalam kandungan kamu, dia tidak bisa di selamatkan, bahkan umur dia masih sangat kecil untuk bisa melihat dunia ini" ucap Jaya yang memegang tangan Naya.
"Engga, aku gak mau, aku gak percaya pada kamu, dimana anak aku Jay" teriak Naya yang sudah menangis.
"Sayang aku mohon jangan begini, ingin kondisi mu masih lemas" ucap Jay yang memeluk Naya.
"Lepaskan, lepaskan aku. Jangan peluk aku, ini semua karena kamu" teriak Naya yang mendorong Jay dan membuat Jay membeku.
"Ini semua karena musuh kamu, jika saja kamu tidak memiliki musuh mungkin anak itu masih berada di perutku" teriak Naya yang menangis.
"Nay kamu mohon kamu jangan begini, aku juga merasa kehilangan, dia juga anak aku" ucap Jay yang berteriak sampai suaranya terdengar keluar.
"Dia anak mu, dan gara-gara kamu juga aku kehilangan anak itu, aku sangat menginginkan kehadirannya di sini, ini semua karena kamu dan kalau saja kamu datang lebih awal untuk menyelamatkan aku, mungkin anak aku akan baik-baik saja" ucap Naya yang menangis sejadi-jadinya dan melemparkan bantal kearah Jay.
"Oppa suruh dia pergi dari sini, aku tidak mau melihatnya lagi, suruh dia pergi" ucap Naya
"Naya tenangkan dirimu dulu" ucap Tirta yang memeluk Naya.
"Tirta tolong jelaskan padanya, jika aku juga merasa kehilangan , aku juga hancur karena anakku yang tak bisa di selamatkan" ucap Jay yang sudah mengeluarkan air matanya.
"Bohong, kamu bohong.. pergi kamu pergi, pergi dari sini" teriak Naya sambil memberontak dari dekapan Tirta.
Melihat istrinya yang begitu histeris Jay pergi dari ruangan Naya dengan perasa sedih dan dan penampilan acak-acakan.
"Jay" teriak Jhonny
"Biar aku yang mengejarnya, kalian tenangkan Naya dan coba jelaskan pelan-pelan padanya" ucap Donny dan dianggukin oleh Jhonny, Kelvin dan Tirta.
"Haaa...aku benci pada Jay, aku benci" teriak Naya.
"Nay, kamu gak boleh ngomong seperti ini, aku tahu ini menyakitkan bagimu, bahkan lebih sakit dari luka yang kamu dapatkan, tapi Jay juga merasakan hal yang sama" ucap Kelvin.
"Tapi ini semua gara-gara dia" teriak Naya
"Kalau saja dia bukan mafia, mungkin dia tidak akan memiliki musuh yang akan membuat aku kehilangan anakku" ucap Naya yang masih menangis.
"Naya kamu salah meskipun Jay bukan mafia, mungkin kejadian ini tetap akan terjadi" ucap Jhonny
"itu benar Nay, mereka membenci Jay bukan karena Jay seorang mafia, tapi sebagai saudara tiri" ucap Tirta yang melepaskan pelukannya dari Naya.
"Mungkin kamu harus tahu sedikit kebenaran tentang Jay, mengapa Jay begitu membenci mommy nya" ucap Tirta yang memegang kedua pipi Naya.
"Nay, Jay sangat mencintai kamu. dia begitu panik saat kamu di culik, dia berusaha mencari kamu kemanapun tanpa henti" ucap Kelvin.
"Dia benar-benar hancur saat mengetahui Scott yang menculik mu" sambung Kelvin
"Naya perlu kamu tau, Jay mungkin terlihat tegas dan kejam dari penampilan luarnya, namun Jay yang sebenarnya adalah orang yang rapuh. Daddy nya di bunuh oleh mommy nya sendiri dengan bantu dari selingkuhan mommy nya" jelas Jhonny yang membuat Naya yang tadinya menangis menjadi terdiam.
"Kamu dan Jay memang sudah di takdir kan untuk berjodoh, orang tua kamu, orang tua ku dan daddy nya Jay dulunya rekan bisnis sekaligus sahabatan, namun takdir buruk menimpa mereka semua" jelas Tirta yang membuat Naya menatap Tirta.
"Orang tua kamu, orang tua oppa dan juga daddy nya Jay, si bunuh oleh orang yang sama" ucap Tirta lagi yang membuat Naya terkejut.
Tirta, Jhonny dan Kelvin mulai menceritakan semuanya pada Naya, mereka juga menceritakan perjuangan Jay yang ingin mengambil kembali perusahaan orang tuanya. Mereka juga mengatakan pada Naya bahwa Jay menggerutuki dirinya sendiri karena lari dari seorang wanita yang begitu kejam.
Mendengar cerita dari Tirta, Jhonny dan Kelvin Naya mulai mengeluarkan air matanya, dia menyesal telah menyalahkan Jay tadi.
"Saat kamu masih di ruang operasi mommy Jay datang, Jay marah besar. Naya percayalah pada ku bahwa Jay sangat mencintai mu" ucap Jhonny.
"Aku....
......................
......................
......................
......................
Hai guys dukung terus author ya
jangan lupa follow, like,comment, dan tambahkan ke daftar favorit kalian, supaya kalian mendapatkan notifikasi saat author update.
maaf jika ada kata-kata yang typo
byebye....
...****************...
...****************...
...****************...
...****************...